Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Tasawuf Obat Radikalisme

Prejudice dan Pancasila

Tempo lalu, Ir. Soekarno saat itu belum menjadi Presiden dan Indonesia belum merdeka. Nippon menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Dibentuklah BPUPKI, dari BPUPKI terbentuk lagi...

Jerusalem Membutuhkan Umar dan Shalahudin

Jerusalem,  kota ini ternyata masih begitu seksi untuk diperebutkan, sejak dari zaman bangsa-bangsa kuno, Nabi Musa, Nabi Muhammad, Shalahudin, hingga ke zaman modern ini....

Kekuatan Literatur

Habakuk  2:2 Lalu  TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan  ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanyaMenulis Adalah Salah Satu Perintah...

Kembali ke Plural: Meninggalkan yang Polar

Yang paling mengerikan dari segala proses dan desas-desus pemilu yang baru berlalu adalah tajamnya polarisasi di tengah-tengah kita. Berbulan-bulan kita telah menelan delirium dari kantong-kantong...
Akhol Firdaus
Dosen Filsafat dan Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung

Arus gerakan radikalisme dan ekstremisme di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Hampir tidak ada lagi dimensi kehidupan yang kebal dari pengaruh gerakan ini. Bila dilacak dengan seksama, radikalisme dan ekstremisme bermula dari nalar agama. Pemahaman agama yang bersifat literalis dan tertutup telah menjadi pintu masuk bagi pembenihan dan persebaran sel gerakan tersebut.

Celakanya, pemahaman agama model demikian sedang menjadi tren di Indonesia. Tren seperti ini umumnya ditemukan pada fenomena Islam perkotaan. Istilah tersebut untuk menyebut kegairahan dalam beragama yang menjamur di lapisan kelas menengah dalam bentuk halaqah, pengajian, dan kursus-kursus keagamaan yang instan. Biasanya juga diasuh oleh ustadz dan mubaligh perkotaan yang tidak memiliki akar tradisi keagamaan yang kokoh.

Fenomena ‘ustadz seleb’ yang menyebarkan agama secara instan, hitam-putih, dan berorientasi halal-haram seperti ini telah lama menjamur (Greg Fealy dan Selly White, 2012). Dalam kadar tertentu, fenomena seperti ini telah menyediakan lahan yang produktif bagi penyebaran nalar keagamaan yang intoleran dan anti-perbedaan. Inilah benih awal radikalisme dan ekstremisme. Sepuluh tahun yang lalu, fenomena seperti ini hanya terjadi di perkotaan. Saat ini, tren ini juga menyebar hingga ke pelosok-pelosok desa.

Dampaknya, sikap intoleran dan anti-perbedaan telah mejadi fenomena umum yang mewarnai kehidupan keberagamaan di Indonesia. Masyarakat tampil dalam simbol-simbol religius, akan tetapi begitu gemar mengafirkan orang lain. Banyak individu dan kelompok sosial menjadi korban ‘ambisi’ beragama yang gampang menuduh orang lain yang berbeda agama/keyakinan sebagai bid’ah, munafik, kafir dan thoghut.

 Sifat Radikalisme

Masyarakat yang intoleran dan anti-perbedaan, menjadi sangat mudah disulut untuk ‘menghalalkan’ cara-cara kekerasan dalam memenangkan konflik agama. Sikap intoleransi telah diikuti dengan penerimaan terhadap kekerasan atas nama agama. Banyaknya kelompok-kelompok agama yang berkarakter demikian menandakan, semakin banyak pula orang-orang yang mudah dikader dan direkrut menjadi bagian dari gerakan radikalisme.

Hanya butuh satu tahap lagi, sikap intoleransi tersebut akan mengeras menjadi sikap anti-sistem. Inilah gejala yang paling tampak dari radikalisme dan ekstremisme (Noorhaidi Hasan, 2013). Sikap seperti ini biasanya diekspresikan dengan penolakan terhadap berbagai sistem politik, sosial, dan ekonomi yang dianggap sebagai produk ‘Barat’ dan kafir. Demokrasi—misalnya, dianggap sebagai produk Barat dan karenanya ditetapkan sebagai kafir.

Sikap seperti itu misalnya tampak dalam fenomena penolakan kelompok radikalis dan ekstremis terhadap ideologi Pancasila dan NKRI. Keduanya dianggap sebagai thoghut dan harus diperangi. Gerakan seperti ini akan melakukan segala cara untuk mewujudkan agenda-agenda politiknya. Tidak ada agenda politik lebih besar kecuali menggulingkan negara dan menggantikannya dengan konsep khilafah atau Pan-Islam. Hanya pada sisi permukaan saja gerakan radikalisme seakan-akan tampil sebagai gerakan agama. Sesungguhnya seluruh gerakan ini dikendalikan oleh motif kekuasaan ekonomi dan politik.

Menemukan Obatnya

Radikalisme dan ekstremisme bermula dari nalar agama yang tertutup, intoleran, dan anti-perbedaan. Nalar agama seperti ini sepenuhnya bersumber pada ajaran agama yang dijaga bersifat artifisial dan dijauhkan dari khazanah keagamaan yang kaya raya. Pendek kata, ini merupakan nalar agama yang merayakan kulit dan melupakan substansi. Dalam sejarah Islam di Indonesia, nalar keagamaan seperti ini mengemuka karena disingkirkannya ajaran-ajaran sufisme di dalam praktik beragama.

Islam Nusantara adalah Islam sufistik yang begitu ramah terhadap ragam perbedaan dan lokalitas. Cara ber-Islam yang berorientasi pada sufisme, akan terus mencari titik temu terbaik dengan segenap perbedaan, bahkan merayakan nilai-nilai lokal. Hal ini karena sufisme mengajarkan dan menunjukan orang pada jalan menuju hakikat dan keadaban universal. Dalam tradisi seperti ini, Islam dengan mudah bertemu dengan keadaban-keadaban lokal. Titik temu seperti ini disebut sintesis-mistik (mystic-synthesis).

Di Jawa khususnya, mencari titik temu terbaik dengan keadaban-keadaban lokal seperti ini merupakan cara ber-Islam mayoritas. Islam hadir dengan penghargaan yang besar terhadap perbedaan dan lokalitas, tanpa mengurangi derajat ortodoksi dan otentisitas Islam. Sayangnya, belakangan ini, nalar Islam demikian mulai tergerus dan terpinggirkan oleh gaya Islam intoleran yang sangat berambisi mengenyahkan segenap perbedaan, bahkan memberangus keadaban-keadaban lokal.

Mengembalikan tata beragama yang berorientasi pada substansi, ramah terhadap perbedaan dan lokalitas, serta berakar pada tradisi dan khazanah Islam yang kaya raya, akan menjadi obat yang mujarab bagi upaya kontra radikalisme dan ekstremisme. Dimensi sufisme dalam beragama telah terbukti menjadi faktor utama yang menyebabkan Islam diterima dan menyatu dengan kesadaran masyarakat Nusantara. Faktor ini pula yang potensial menyelamatkan masyarakat dari gejolak radikalisme dan ekstremisme. Paradigma Islam sufistik yang ramah inilah akar keberagamaan dan identitas Islam Nusantara. Wallahu’alam.

Akhol Firdaus
Dosen Filsafat dan Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.