Senin, Januari 25, 2021

Tapuak Galembong dan Psikologi

Komentar Fadli Zon Soal Bom Surabaya, Ngawur?

Ribuan caci-maki, hujatan, kecaman dan kekecewaan rakyat mengalir deras ke Fadli Zon yang mengeritik pemerintah soal kasus bom di Surabaya. Dalam akun twitternya Fadli...

Ketika Tsamara Menertawai Hary Tanoe Mencapreskan Jokowi

Dunia politik itu, meminjam judul lagu Iwan Fals, asyik nggak asyik. Kabar mengejutkan datang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengindikasikan dukungan terhadap Presiden Joko...

Menjawab Tulisan Ben Otto dan Anita Rachman Soal Cambuk di Aceh

Beberapa hari ini saya mencermati tulisan salah seorang kontributor WSJ (Wall Street Journal) bernama Anita Rachman yang bersama Ben Otto menulis artikel berjudul “Indonesian...

Telaah “Asal-Usul” Tindakan Bos First Travel

Sahabat saya yang seorang essais muda, yakni Khudori Husnan, di dalam calistoeng.blogspot.com, mengulas soal kehidupan pencitraan akut sejoli yang tengah menjadi hot issue belakangan...
Hasanah
Saya seorang Mahasiswa ISI Padangpanjang jurusan Teater. Begiat dalam Forum Pegiat Literasi dan Komunitas Seni Kuflet.

Pertunjukan seni ialah salah satu pusat untuk mempertahankan tradisi masing-masing daerah. Seperti Minangkabau, Randai, Sumatera Utara, Opera Batak, Jawa Timur, Reog Ponorogo, Bali, Kecak, dan masih banyak lagi dari daerah yang lain. Melihat persoalan seni, tak ubahnya melihat dua sisi mata uang. Saling bertimbal balik. Ada yang mempertahankan dan ada yang melepaskan.

Tapi, pada hakekatnya sebagai seorang seniman harus mempertahankan tradisi. Karena, di dalam diri setiap orang adalah tradisi, dan pulang adalah jalan terbaik dalam kehidupan. Pulang adalah mempertahankan, bukan meninggalkan. Pembahasan esai kali ini akan melihat salah satu pertunjukan Tari yang berupaya untuk tetap mempertahankan tradisi, yang ditampilkan oleh Upiak-Upiak Kareh dengan Tapuak Galembong.

Tari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:1011) didefinisikan sebagai gerakan badan yang berirama dan biasanya diiringi bunyi-bunyian. Penari diartikan sebagai orang yang pekerjaannya menari. Sedangkan menurut Amir Rohkyatmo (1986:74) yaitu gerak ritmis yang indah sebagai ekspresi jiwa manusia, dengan mempertahankan unsur ruang dan waktu. Jadi, tari ialah serangkaian gerak yang mengekspresikan emosi jiwanya dengan ritme yang indah.

Berbagai macam jenis tari, salah satunya ialah Tari kreasi baru yang merupakan sebuah tarian yang dikembangkan oleh seorang koreografer atau juga disebut penata tari. Tari Kreasi Baru Terdapat dua jenis yaitu: 1) Tari kreasi baru pola non tradisi, tarian ini adalah tarian yang tidak menggunakan sama sekali unsur tradisional dalam tariannya.

Baik itu gerakannya, rias dan kostum, maupun iramanya. 2) Tari kreasi baru pola tradisi Tari seni ini menggunakan sentuhan unsur tradisional. Baik itu gerakannya, rias dan kostum, maupun iramanya. Ada nilai-nilai tradisi yang dibawakan dalam tarian jenis ini.

Terlepas dari pembahasan tari baik dari tradisi dan non tradisi, saya akan coba untuk masuk ke ruang yang lebih dalam, Pertunjukan Tapuak Galembong yang merupakan pertunjukkan yang diadaptasi dari Randai. Randai adalah salah satu teater tradisi di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara bergantian.

Menurut Gotshalk penilaian Seniman yang kreatif mengandung dua sisi, yaitu sisi subjektif dan sisi objektif. Sisi subjektif sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, seperti kepekaan, imajinasi, karakter pribadi, hasrat, dan berbagai pengalaman khusus. Sisi objektif dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti lingkungan fisik, sistem nilai, pengaruh tradisi, kebutuhan sosial, bahan atau materi, iklim budaya (Gotshalk, 1966).

Ditinjau dari sisi objektifitas pada bidang bahan dan material terlihat penari terganggu pada bahan dan material yang ada di jalan. Terlihat pada gerak penari yang kurang selaras dan maksimal, seperti pada adegan menari di aspal yang berbatu menyiksa fisik penari karena menggunakan pola level rendah, selain gerak yang kurang selaras.

Selain di bidang bahan dan material, penari  tampak terganggu dalam lingkungan fisiknya. Hal ini mungkin terjadi karena dekatnya jarak penonton dengan penari yang membuat konsentrasi penari terganggu.

Contohnya ketika melakukan pola kedepan dan itu sangat dekat dengan penonton, teriakan dan bisingnya suara menjadikan penari sulit untuk menafsirkan tempo musik. Dampakya penari menjadi kurang fokus dengan gerakan yang akan/sedang dilakukan.

Jika dinilai dari pengaruh tradisi, dalam pertunjukkan ini sangat kental pengaruh tradisinya, dari kostum yang menggunakan celana galembong sangat menggambarkan budaya Minangkabau.

Penampatan baju kaos berwarna merah muda juga menunjukkan pembaharuan yang biasanya pertunjukkan Randai menggunakan pakaian adat minang. Instrument musiknya kental dengan budaya Minangkabau hanya saja geraknya yang diperbaharui atau dikembangkan sesuai dengan aliran Tari Kreasi Pola Tradisi, Kemungkinan ini merupakan psikologi objektif pada kebutuhan sosial saat ini yaitu era globalisasi.

Dilihat dari sisi subjektif penari tampak kurang peka terhadap keadaan tata lighting dengan Pola lantai penari yang cenderung keluar dari sorot lampu mengakibatkan kurang menariknya pertunjukkan ini. Tapi jika dilihat dari hasrat penari untuk melakukan pertunjukkan patut diacungi jempol karena penari tetap bersemangat melakukan pertunjukan meski cuaca rinai dan pertunjukkan dilakukan di outdoor.

Pertunjukan Tapuak Galembong yang dimainkan oleh Upiak-Upiak Kareh  Dilangsungkan pada karnaval Mahasiswa ISI Padangpanjang angkatan tahun 2016. pada 22-23 April 2019, pukul 16.00 WIB di depan Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam. Berbagai pertunjukan dapat dilihat pada saat itu baik teater, music, tari, pameran dan bazar karya.

 

 

Hasanah
Saya seorang Mahasiswa ISI Padangpanjang jurusan Teater. Begiat dalam Forum Pegiat Literasi dan Komunitas Seni Kuflet.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.