Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Tantangan Kampanye Era Mendadak Milenial

Syariat Islam Versus Pancasila

Syariat Islam sudah lama disoal, ia bukan barang baru bagi sejarah bangsa ini. Ia lahir jauh sekali sebelum negeri ini merdeka. Apalagi sejak ada...

Menelisik Wacana Pengeluaran Perppu oleh Presiden

Revisi UU KPK yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu, telah menimbulkan gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia. Tuntutan yang di...

Hujan dan Segala Kemungkinan

Saat ini kita sedang memasuki musim hujan. Ingatan kita akan hujan tidak terlepas dari bahaya alam yang akan terjadi. Seperti banjir, tanah longsor dan...

Macetnya Anggaran Riset Perguruan Tinggi

Tulisan ini berangkat dari sebuah kegelisahan setelah mendengar informasi bahwa dana riset salah satu teman tidak mendapatkan dana dari institusi pendidikan yang ia tempati...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Tiba-tiba saja milenial menjadi bahasan dalam ranah politik praktis hari ini. Terutama menjelang Pilpres 2019 mendatang. Lalu pertanyaannya pun muncul, kenapa sebegitu fenomenalnya istilah milenial di tahun politik ini?

Faktor Sandiaga, diskursus teks milenial ini muncul dan resonansi semakin deras. Saat, Partai pengusung Prabowo menentukan pilihan Sandiaga sebagai pendamping. Sosok Sandi diprediksikan akan menarik sentimen suara milenial.

Dengan sosok yang dimiliki Sandi. Yaitu, calon paling muda. Performa fashionnya yang kekinian didukung tentu saja memiliki raut wajah yang tergolong tampan. Faktor paling kuat persepsi Sandi sebagai representasi suara milenial.

Sandi adalah figur sukses ekonominya. Dengan usia yang masih 50-an, kekayaan Sandi mencapai angka 4 Trilliun. Apabila disimplikasikan, sosok Sandi adalah tampan, masih muda dan sukses. Jelas, kontruksi citra Sandi menjadi impian para generasi milenial. Lalu sejauh manakah Monster Suara Milenial itu menekutkan diperhelatan politik kali ini?

Untuk mengetahui hal tersebut, harus kita jelaskan definisi milenial itu sendiri. Dikutip dari Wikipedia. Yang disebut milenial itu, para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua.

Dijelaskan lebih lanjut,  Generasi ini umumnya ditandai dengan peningkatan pengunaan dan keakraban dengan komunikasi,  media dan teknologi digital. Lebih Jauh Borton Liew, CEO Ciayo Comic. Dalam sebuah diskusi terbatas dengan beberapa pelaku bisnis e-commerce.

Borton pendiri Ciayo Comic, industri komik yang berbasis digital. Melihat perilaku generasi milenial. Yaitu pertama, generasi milenial memiliki target oriented. Tidak suka janji-janji surga, tidak terpengaruh dengan lobi atasannya. Kedua, apolitis. Generasi milenial tidak mau masuk politik namun lebih banyak beraspirasi dan ‘berpolitik’ lewat dunia maya (incognito) dan pesan-pesan subliminal.

Ketiga, Tidak suka dengan komitmen.  Kemudian secara kuantitas,  jumlah pemilih milenial mencapai angka 40 persen atau sekitar 70 juta-an suara. Data tersebut dirilis oleh Research Center, Saiful Mujani. Apakah Sandi Diuntungkan? Memang apabila kita lihat konstruksi kefiguran dan relasi karekteristik milenial, Sandi diatas kertas akan diuntungkan dengan suara milenial tersebut.

Ini terbukti dengan hasil survey yang dilakukan oleh LSI Danny JA.  Elektabilitas Prabowo mengalami kenaikan dari 28 persen, setelah dipasangkan dengan Sandi menjadi 29 persen. Survey tersebut dilakukan bulan Agustus 2018 lalu.

Sebagai asumsi hasil tersebut pasti mengembirakan bagi timses Prabowo-Sandi.  Mereka masih punya waktu hingga 7 bulan ke depan untuk meningkatkan elektoral elektabilatas mereka. Terutama menarik simpati dikalangan milenial. Tentunya,  modal kedekatan antara relasi konstruksi figur dan karekteristik pemilih milenal.

Menjadi bahan untuk formulasi kampanye ini melawan petahanan. Bahkan,  dikalangan pengamat.  Pertarungan Pilpres ini sejatinya, bukan Prabowo melawan Jokowi.  Melainkan Sandi versus Jokowi. Prabowo dinilai tidak mampu lagi didongkrak.  Elektabilatasnya hanya mentok di angka 25 persen saja.

Frame suara milenial dalam mentukan hasil pilpres tersebut. Akan jadi ajang garapan tim sukses Prabowo dan Sandi.  Diharapkan patahan suara Milenial melimpah ke Prabowo dan Sandi.

Secara fenomenologis, Sandi memang sangat diuntungkan dengan suara milenial yang sangat cair tersebut.  Tentunya,  petahanaan juga mengetahui potensi kelebihaan kompetitornya.  Upaya membendung pun dilakukan. Apabila melihat karekteristik dan perilaku milenial.

Masih banyak lubang yang bisa dimasukan kubu petahanan.  Kendati pasangan Jokowi dan Kiai Ma’ruf secara fisik. Simbolilasi mereka jauh dari imajinasi kaum milenial. Apabila kita menggunakan 3 karekteristik diatas, target oriented,  apolitis,  tidak suka komitmen.  Maka sangat besar upaya untuk membendungnya.

Tentunya, tidak dengan tampilan. Melainkan dengan kebijakaan dan pola kampanye yang mendekatkan pada kaum milenial. Petahana akan dengan mudah melahirkan kebijakan yang menawarkan langsung kepada milenial.

Kebijakan yang efeknya dirasakan langsung. Ketimbang janji-janji yang tentu saja jauh dari keinginan milenial. Tidak boleh dinaifkan. Petahana yang didukung dengan figur-figur yang memiliki jam terbang tinggi di medsos.

Akan jadi jembatan petahana dengan pemilih milenia. Mendesain sedimikian rupa unggahan di medsosnya. Tentu saja dengan visual atau verbal yang identik dengan milenial. Misalnya,  para pendukung petahana yang dengan masif mengunggah seremoni Asian Games.  Dengan objek utama Jokowi.

Yang diasumsikan sebagai cara menarik pendukung milenial. Berbagai variasi tampilan membanjiri media sosial. Sementara, Kiai Ma’ruf ditampilkan sebagai sosok lain dalam pertarungan milenial ini. Pasalnya, secara demografis kelompok milenial ini masih memiliki ruang ke-Indonesia-an. Yaitu, religius dan masih mengedepankan tata krama.  Kiai Ma’ruf pun diperankan sebagai figur panutan yang harus dihormati, pertarungan merebut suara milenial ini.

Sebenarnya menarik.  Bagaiamana kandidat akan menyajikan arus baru tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara generasi berikut. Kampanye pun sedemikian kreatif dengan sajian kekuataan teknologi digital. Dan kekuataan daya empati para kandidat kepada masyarakat bawah.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.