OUR NETWORK

Tantangan Era dan Afirmasi Gerakan IMM

Tujuan dari berdirinya Muhammadiyah yang dirumuskan dalam statuen (Anggaran Dasar). Ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui surat Gubernur Jendralnya tertanggal 22 Agustus 1914.

Memasuki abad kedua setelah kelahirannya Muhammadiyah mengalami tantangan internal dan eksternal yang kompleks dan dinamis, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Dengan prinsip gerakan yang kokoh, paham Islam yang berkemajuan, kekuatan jaringan, soliditas organisasi, kekuatan sumber daya manusia, dan modal sosial yang dimilikinya Muhammadiyah mampu mempertahankan eksistensi dan peranannya dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global.

Bahkan Muhammadiyah dalam level tertentu mampu mengubah tantangan menjadi peluang seperti dalam kehidupan politik kebangsaan, dengan mengalihkan energi dan kemampuan untuk membangun kemandirian dan melakukan peran jihad konstitusi yang memperoleh apresiasi luas. Hal ini dapat dilihat pula dari peran Muhammadiyah dalam masyarakat. Termasuk mengembangkan organisasi dan gerakannya tidak hanya pada level nasional tapi juga internasional.

Tujuan dari berdirinya Muhammadiyah yang dirumuskan dalam statuen (Anggaran Dasar). Ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui surat Gubernur Jendralnya tertanggal 22 Agustus 1914. Isinya bahwa Muhammadiyah didirikan untuk menyebarluaskan ajaran Islam dan memajukan hal ihwal ajaran Islam kepada seluruh umat Islam. Haedar Nashir (dalam Amirullah, 2016: 10-11) Maka dari itu sebagai organisasi sosial keagamaan yang dituntut agar warga persyarikatan (sumberdaya diri) harus terus di upgrade ideologi Ke-Muhammadiyah-an, wawasan serta untuk tidak bergerak eksklusif dan dipacu untuk terus berinovasi, menyebarluaskan, menduniakan serta mengembangkan gerakan dakwah nya.

Begitupun, IMM yang memiliki rumusan ideologis yakni salahsatunya gerakan kepada kemasyarakatan. Kemudian, ikut andil dalam mengentas persoalan kemanusiaan dengan arif, menampilakan paradigma ramah, menggembirakan dakwahnya dengan fastabiqul khairat.

Terlebih ditengah arus global dan hadirnya era Disrupsi Inovasi (Disruption Innovation Era) yang semua dituntut serba cepat, efektif, solutif. IMM harus hadir di tengah era yang sangat maju dan berkembang dalam segala bidang sosial-ekonomi, hukum, industri ini, membuat persaingan nasional-global yang sangat kompetitif. Maka, peran IMM harus menjadi garda terdepan dalam merespons, dan memaksimalkan perannya untuk menjawab berbagai polemik, isu, dampak modernisasi, serta menjawab tantangan era.

Afirmasi Gerakan IMM

Membumikani spirit Teologi Al Maun. Al Maun yang terdapat di dalam Al Qur’an yang menurut K.H. Ahmad Dahlan menyangkut tanggungjawab sosial. Yang kemudian berujung pada gerakan sosial kemasyarakatan yang memiliki peranan penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Di sisi lain, bentuk konkret dari gerakan Al Maun ini adalah sikap Altruisme, yang artinya sikap perhatian kepedulian terhadap sesama manusia dilingkungan sekitar kita, tidak acuh tak acuh. Sehingga, menjadikan manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Sikap ikhlas untuk ummat dan menenggelamkan sikap egoistik. Nalar yang digunakan dan dirawat Mbah Dahlan dan Generasi Muhammadiyah al awalun adalah nalar altruisme. (Tanjung dkk, 2015: 239)

Aspek yang bersifat pengorbanan ini sangatlah cocok dan bagus jika diterapkan dalam individu hingga kolektif. Artinya, disini sebagai kader IMM mesti menggelorakan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar (Q.S. Ali Imran: 104), yaitu gerakan yang menyeru kepada kebaikan, dan mencegah hal-hal yang mungkar. Seperti pada gerakan Filantropi (sikap kedermawanan kepada sesama).

Selain itu, membumikan spirit untuk kader IMM untuk berproses sebagai cendekiawan berpribadi. Cendekiawan berpribadi menjadi corak khas IMM. Kecendekiawanan IMM harus ditampilkan dengan baik oleh kader. Melalui apa?

Seperti menjalani jihad akademik sebagai langkah konkret seorang cendekiawan, jihad konstitusi, diskusi/kajian mengenai perkembangan wacana AI Islam, Kemuhammadiyahan, maupun kajian mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu mengikuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat baik di tataran daerah, nasional, hingga global. Hal diatas sebagai memaksimalkan peran IMM yang memiliki arah gerak (Keagamaan, Kemahasiswaan, Kemasyarakatan) untuk berproses dalam rangka mewujudkan masyarakat ilmu, dan masyarakat berkemajuan.

Teringkat ucapan Haedar Nashir (dalam Amirullah, dkk, 2018: 225), beliau mengungkapnya bahwa, ideologi Muhammadiyah selaku ayah kandung IMM yaitu lebih memilih perjuangan dakwah pembinaan masyarakat daripada melalui jalur politik praktis yang berorientasi pada politik kekuasaan. Dalam konteks gerakan sosial, Muhammadiyah memiliki ideologi amal saleh, yang menempatkan Islam bukan sekedar ajaran Normatif dan Teoritik. Sehingga ideologi dalam gerakan sosial keumatan dan kemasyarakat ialah ideologi Islam pembebasan.

Maka dari itu, Muhammadiyah memilih dan menegaskan perjuangan dakwah non politik yang menekankan pada gerakan sosial yang berbasis pembinaan masyarakat. Tentu ini sebagai anak Muhammadiyah, Begitupula IMM juga harus sigap dan siap juga dalam dakwah sosial kemanusiaan.

Garis perjuangan dakwah IMM dalam hal ini, menjadi komitmen dan konsisten dalam pelaksanaannya. Sebagaimana tertuang dalam Trilogi IMM, salahsatunya kemasyarakatan. IMM bergerak dalam ranah kemasyarakatan sebagai respons persoalan kemanusiaan yang hadir hingga kini. Persoalan di tahun 2019 ini semakin kompleks, dan sebagai kader IMM seyogianya berupaya untuk kemudian merespons persoalan dengan arif.

Sementara itu, IMM mampu berdiri tegak dan mengaksentuasikan (pengutamaan/menitikberatkan) persoalan kemanusiaan sebagai hal sentral dalam perubahan.

Persoalan tersebut diantaranya; maraknya isu kapitalisme dalam ruang-ruang pendidikan, kapitalisme lahan, isu hoaxs, minimnya pembangunan insfrastruktur`ditiap-tiap daerah terpencil & SDM guru di sekolah-sekolah terpencil di Indonesia, kesenjangan sosial, kemiskinan, minim anak bangsa dalam melanjutkan pendidikan tinggi, persoalan kesehatan, krisis akhlak dan moral, krisis kepemimpinan, ketidakadilan lingkungan dengan salahsatunya perusakan lingkungan hutan (persoalan ekologi), minim kelayakan hidup dan tinggal, kelayakan akan lingkungan yang sehat, bersih, hingga persoalan maraknya praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) kian terasa dan lain sebagainya. Itu mungkin sebagian berbagai persoalan kesenjangan yang menjangkiti bangsa ini.

Maka dari itu, ini catatan kritis ini sebagai organisasi yang memiliki guide kemanusiaan sudah sepatutnya memperhatikan dan sedikit demi sedikit mulai bergerak maju secara massif, berkelanjutan, dan membumi agar Muhammadiyah dan ortom nya, yakni yang dimaksud IMM mampu dirasakan oleh masyarakat. Wajah nya toleran, santun, dan memasyarakat, dan selalu memberikan solusi di tengah masyarakat.

Referensi:

Amirullah. 2016. IMM Untuk Kemanusiaan: Dari Nalar ke Aksi. Jakarta: CV. Mediatama Indonesia.

Amirullah, dkk. 2018. Membangun Moral Bangsa; Solusi IMM untuk Indonesia Berdaulat. Yogyakarta: UAD PRESS.

Tanjung, dkk. 2015. Muhammadiyah “Ahmad Dahlan”; Menemukan Kembali Otentisitas Gerakan Muhammadiyah. Jakarta: STIE AHMAD DAHLAN.

* Tulisan ini diedit kembali, dan pernah dimuat di majalah Manifesto Ikatan Edisi V, September 2018 Pimpinan Cabang IMM Jakarta Timur.

Lahir di Tangerang, Banten, pada 09 Juli 1997. Saat ini, tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, konsentrasi Public Relations Tahun Akademik 2015 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Memiliki hobi dan minat dalam membaca, menulis & editing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…