OUR NETWORK

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Mudah-mudahan kalian bisa melakukan satu hal itu. Karena hanya itulah yang bisa mengubah Indonesia sepertinya.

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya bisa menyaksikan demo mahasiswa dari tv, karena di kampung saya, Solok, sebuah kota kecil di Sumatera Barat, boleh dikata hampir tak ada mahasiswa demo.

Mungkin kalau mau naik oto umum (bus umum), ke Padang, sekitar 1-3 jam, dengan medan jalan berkelok melewati bukit dan gunung, serta kanan kiri jurang dan hutan, barulah bisa sampai ke Padang, melihat mahasiswa banyak berdemonstrasi.

Saat itu, mungkin bagi saya, demonstrasi bukanlah pilihan untuk diikuti, disaksikan sih bolehlah, tapi kalau ikut long march, nanti dulu. Baru pada tahun 1998, ketika berkuliah di Universitas Lampung (UNILA), saya ikut menjadi penggembira dalam aksi demonstrasi.  Kadang-kadang ikut sampai tempat tujuan aksi, seperti Komando Distrik Militer (KODIM), DPRD, dan lain-lain. Kadang-kadang belok kiri ke tempat kos saya yang berada di antara tujuan aksi dan kampus.

Ketika pindah kuliah ke UGM (Universitas Gadjah Mada), jurusan Ilmu Filsafat, tahun 1999, sejujurnya saya memang tidak berharap untuk terlibat demonstrasi lagi. Akan tetapi, kondisi kehidupan kampus UGM saat itu, yang mungkin masih menyisakan hangat-hangat heroisme 98, membuat saya yang kutu buku, ikut lagi aksi demo.

Hanya saja, saya bergabung melalui kelompok studi yang saya ikuti, yaitu Ideologika. Konon kabarnya, kelompok diskusi ini dibentuk oleh aktivis mahasiswa anti Orde Baru, ketika situasi represif dan gerakan mahasiswa dan rakyat sama sekali tiarap tahun 1996.

Setelah itulah demo demi demo saya ikuti, terus-menerus sampai tahun 2005, ketika kondisi subjektif saya sudah tak memungkinkan lagi ikut demo, sudah mau lulus, dan sudah harus berpikir untuk mencari pekerjaan.

Setelah bekerja, walau bagaimanapun, saya masih mengingat dan membawa hal-hal yang menghiasi aktivitas demonstrasi saya selama 6 tahun, yaitu puisi-puisi Wiji Thukul, novel-novel Pramoedya Ananta Toer, Film “Burning Season”, “In The Time of the Butterflies”, dan lain-lain.

Sebagian saya jadikan bahan ajar di kelas, oya, saya sempat menjadi guru bahasa Indonesia di beberapa sekolah bertaraf internasional di Jakarta. Saya pikir saat itu, murid-murid saya harus baca dan menonton karya-karya sastra dan film-film yang membebaskan ini, mereka tidak boleh seperti saya yang terkungkung dalam wacana represif Orde Baru, yang melarang karya-karya ini.

Hanya saja, karena memang apa yang saya perjuangkan,ketika mahasiswa, yaitu masyarakat mewujudkan masyarakat tanpa penindasan manusia atas manusia belum terwujud. Sampai saat ini, saya hanya bisa resah dan marah belaka, jika menemukan ketidakadilan. Saya tak punya daya, karena tidak tergabung dalam organisasi manapun, yang mungkin bisa membantu saya jika mengalami ketidakadilan.

Ada banyak hal, yang membuat saya memutuskan untuk tidak berorganisasi, salah satunya mungkin karena kebobrokan sistem organisasi-organisasi gerakan mahasiswa dan rakyat yang pernah saya ikuti.

Hal ini terlihat dari kesenjangan yang terjadi dalam organisasi, ada segelintir elit, yang selalu mendapat privilege, baik itu secara ekonomi, seperti alokasi dana organisasi yang lebih besar padanya, maupun secara politik, selalu mendapat ruang politik lebih luas dan lebih banyak. Terkadang pada elit ini bahkan tidak boleh dikritik sama sekali dalam forum-forum organisasi, karena biasanya faksinya akan membelanya habis-habisan.

Ironisnya para organiser, yaitu kader organisasi yang terlibat dalam perluasan organisasi, berdialog dengan massa rakyat, biasanya seringkali dijadikan sasaran kritik dalam forum-forum organisasi. Padahal tanpa mereka, boleh dikata para elit organisasi akan berorasi tanpa kehadiran massa satu gelintir pun.

Dalam perkembangannya, setelah saya meninggalkan organisasi pergerakan secara total, para elit tersebut banyak yang akhirnya merapat ke elit-elit politik dan pengusaha-pengusaha kaya, entah itu borjuis reformis gadungan, maupun sisa Orde Baru. Bahkan ada satu elit, yang disekolahkan oleh seorang elit politik salah satu partai besar, sampai ke negerinya Bertrand Russell, didanai full, ujung-ujungnya si elit ini lalu membelot ke partai borjuis itu, menjadi kadernya.

Berikutnya, si elit ini berhasil masuk senanyan menjadi anggota DPR selama 2 periode. Terakhir, dengar kabar, si elit ini gagal lolos lagi, karena dapilnya dipindah oleh partai borjuis itu, mungkin karena kurang sowan pada patron partai, entahlah, Elit-elit lain kurang lebih sama, ada yang merapat ke Jendral pelanggar HAM, sisa Orba, koruptor, dan lain-lain.

Bagaimana dengan para organiser? Boleh dikata, nasib sebagian dari mereka tidaklah sebaik para elit, jauh sekali perbedaannya. Contohnya seperti kawan saya, seorang organiser, yang jago orasi, ia dipenjara pada tahun 2003, karena ketika aksi, melawan polisi, saat polisi menabraknya dengan motor trail.

Setelah keluar dari penjara, penyakit Hepatitis C menggerogoti tubuhnya, hal yang mungkin menjadi salah satu penyebab kematiannya pada tahun 2016. Ia terpapar Hepatitis C dalam penjara, karena tingkat kebersihan dalam penjara sangat rendah, dan membuatnya gampang tertular dari narapidana lain. Ada juga yang hidupnya bahkan untuk makan sehari-hari saja sulit, sementara ia harus menghidupi istri dan anaknya. Sebenarnya, ada juga yang lumayan berhasil, hanya saja idealismenya harus dibuang jauh-jauh.

Karena itulah, saya berharap pada kawan-kawan mahasiswa dan rakyat yang sekarang tengah berjuang, berdemonstrasi melawan kebijakan-kebijakan negara yang tidak prorakyat, supaya menuntaskan apa yang diperjuangkan. Jangan terhenti hanya karena konsesi-konsesi yang diberikan oleh rezim borjuis, seperti “Menunda pengesahan”, “Ajakan makan-makan”, ataupun “beasiswa luar negeri”.

Indonesia butuh perubahan ke arah yang lebih baik, butuh demokrasi dan keadilan sosial. Saya masih berharap supaya di Indonesia, tak ada lagi penindasan manusia atas manusia. Untuk itu, sebenarnya dibutuhkan sebuah organisasi pelopor yang benar-benar memperjuangkan perubahan, yang didalamnya tak ada kesenjangan antara elit dan organiser lagi.

Apa yang kalian suarakan, bagi saya sudah sangat maju untuk masa sekarang ini. Para cebong dan kampret jauh sekali ketinggalan di belakang kalian. Persoalannya kemudian adalah konsistensi atau istiqomah dalam perjuangan, hal yang mungkin sulit sekali kita temukan dalam sejarah Indonesia. Mudah-mudahan kalian bisa melakukan satu hal itu. Karena hanya itulah yang bisa mengubah Indonesia sepertinya.

Harsa Permata lahir di Aceh Selatan, pada tanggal 30 Januari 1979. Ia adalah alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…