Rabu, Januari 27, 2021

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan Agama

Perindo dan PSI: Jangan Hanya Jaya di ‘Udara’

                                               ...

Perlawanan Akar Rumput Kader Golkar

Dimuara publik kader-kader Partai Golkar memang tidak ada duanya. Mereka begitu militan dan berkualitas. Tidak ada kader lain yang taat dan patuh terhadap Pancasila...

Serikat Pekerja Media: 404 Not Found

Beberapa bulan yang lalu telah terjadi PHK massal yang dilakukan oleh MNC Group. PHK yang memberhentikan sebanyak 300 pekerja media tersebut terjadi setelah beberapa...

Masyarakat Indonesia di Guangzhou Gelar Ibadah Natal 2018

Evangelical Reformed Church Guangzhou menggelar ibadah natal di Baoli Conghui yang letaknya tak jauh dari Stasiun Kereta Api Guangzhou Timur,Tiongkok (Guangzhou East Railway Station)...
Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan Agama

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra (Penulis).

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka memang pernah memiliki aktifitas di Komintern (Komunis Internasional), namun bukan berarti ia menjadi komunis sebagaimana dituduhkan sebagai orang yang “anti-agama”.

Bahkan dalam banyak tulisannya ia menolak ide-ide komintern itu sendiri; yaitu Indonesia menjadi negara komunis seperti Cina/Tiongkok atau Korea Utara bahkan Uni Sovyet, yang membuatnya memisahkan diri dari gerakan PKI Sardjono-Alimin-Musso (Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka: 1970).

Menurut Tan Malaka, negara berpahamkan komunis tidak cocok untuk masyarakat Nusantara/Indonesia, malahan masyarakat Indonesia sudah mengenal dan bisa merasakan arti penting sosialisme itu dengan Islam nya (Madilog, Tan Malaka: 1948).

Penolakannya ini didasari bahwa masyarakat nusantara adalah masyarakat yang relijius, yang bakalan menimbulkan resistensi hebat jika menerapkan bentuk negara komunis itu, pandangan ini pula mencuat ketika ia melindungi ide Pan-Islamisme dari “apriori” kelompok komunis (Poeze: 2008).

Selain aktifitas lain yang menunjukkan keislaman nya, seperti bergabung ke dalam Sarekat Islam (bersama H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Darsono, dan Semaun), serta keinginannya untuk mengajak elemen masyarakat muslim dalam gerakan sosialis yang kebanyakan ditentang oleh kubu komunis, dsb.

Dan Tan Malaka pula pada akhir masa politik menjelang meninggalnya, telah mendirikan partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) bersama Chaerul Saleh, Adam Malik dan Sukarni, yang tentu telah menegaskan sikapnya yang berseberangan dan keluar dari ide komintern dan PKI.

Sebagaimana sudah dipaparkan diatas:

Maka sebenarnya Tan Malaka sendiri bukanlah seorang komunis sebagaimana dituduhkan “anti-agama” atau “anti-Islam”, melainkan memiliki kemiripan pemikiran dengan Soekarno dan Hatta yaitu berpahamkan Sosialisme namun berdasarkan karakteristik Nusantara/Nasionalis (Feith: 1958), sehingga ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, karena jiwa Nasionalisme dan perjuangan nya didalam kemerdekaan Indonesia.

Untuk membantah tuduhan bahwa Tan Malaka seorang “komunis” yang “anti-agama” atau “anti-Islam”, maka ada baiknya kita mencermati tulisan karya Tan Malaka sendiri di Madilog, halaman 89:

Allah itu Maha Kuasa, Maha Suci, Maha Mulia, Maha Tahu, hadir pada semua Tempoh dan pada semua tempat. Jadi pada tiap-tiap detik dan tempat bisa betulkan hati dan laku mahluk-Nya dan terutama Dia Maha-Pengasih.

Jadi Tuhan Allah, sarwa sekalian Alam, yang Maha Pengasih itu akan sampai hati berabad-abad melihatkan ribu-jutaan hambanya yang lemah dan fana itu diazab dibakar api neraka, berkali-kali sesudah dijadikan sebesar gunung ! Allahu Akbar ! 

Adapun sikap Tan Malaka terkait agama Islam, sama halnya dengan sikap Nasionalis-Relijius muslim yang memisahkan agama dari politik/negara, namun tetap menjadikan Islam sebagai sumber nilai kehidupan (Madilog, Tan Malaka: 1948)

berikut salah satu kutipan dari Madilog, Hal. 187:

Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh kearah kepercayaan semata-mata.

Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecondongan persamaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri.

Dalam hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya junjung.

Wallahu a’lam.

Sekedar tambahan, di dalam tulisan nya, Tan Malaka pun menulis kalimat wallahu a’lam, yang menunjukkan pengakuan ketidaktahuan nya dari segi ilmu selain Allah sebagai yang maha mengetahui.

Orang yang menggunakan akal nya adalah yang berfikir sebelum menilai sesuatu, bukan yang menilai sesuatu tanpa berfikir (Al-Hadis).

Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.