Minggu, November 29, 2020

Takfiri Awal Sebuah Kehancuran

Natal, Refleksi Diri dan Toleransi

Tanggal 25 Desember umat Katolik di seluruh dunia merayakan hari raya natal. Natal sebagai hari kelahiran sang juru selamat, disambut penuh syukur dan bahagia...

Hoaks dan Arus Menuju Negara Gagal

Masih segar dalam ingatan kita hingar bingar Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu yang diwarnai dengan pelbagai kasus ujaran kebencian. Kontestasi politik ganas kala...

Globalisasi: Payung Baru bagi Terorisme

‘Terorisme’, seakan telah menjadi sebuah kata yang kerap mengahantui siapa saja. Berbagai tindakannyapun sangat sulit untuk diprediksi. Meski demikian, tak banyak yang mengerti apa...

Generasi Selektif Tangkal Hoax

Dewasa ini, banyak penyebaran berita-berita hoax tidak bertanggungjawab yang diterima dengan mudahnya oleh masyarakat Indonesia. Kenapa berita hoax ini dapat menyebar begitu mudahnya? Tentu saja,...
Avatar
leviyamanihttp://leviyamani.wordpress.com
Dosen Ekonomi dan Bisnis di STIE Kusuma Negara

Gerakan takfiri menjadi sebuah ancaman baru bagi seluruh Negara di dunia yang memberikan gambaran yang negatif terhadap ajaran agama Islam yang dipandang mengajarkan kekerasan. Para takfiri tanpa mereka sadari mengubah agama Islam dari sebuah agama menjadi ajaran ideologi.

Pada akhirnya, Islam menjadi senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapapun yang pandangan politiknya dan pemahaman keagamaannya berbeda dari mereka. Jargon memperjuangkan Islam pada dasarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata.

Langkah ini menjadi sangat ampuh karena setiap yang melawan mereka akan dituduh melawan Islam. Padahal jelas tidak demikian faktanya. Kita harus sadari jika Islam diubah menjadi ideologi politik ia akan menjadi sempit karena dibingkai oleh batasan-batasan ideologi dan platform politik. Karena watakdasar tafsir ideologi politik adalah menguasai dan menyeragamkan. Dalam bingkai inilah aksi terhadap pengkafiran sering dituduhkan pada orang lain yang berseberangan dengan mereka.

Perubahan ini dengan jelas mereduksi dan mengamputasi pesan luhur Islam dari agama yang penuh kasih sayang dan toleran menjadi seperangkat batasan ideologi yang sempit dan kaku. Pada umumnya aspirasi kelompok takfiri di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan transnasional di timur tengah, terutama yang berpaham takfiri. Padahal, selama ini Islam Indonesia dikenal lembut, toleran, dan penuh kedamaian (majalah international newsweek pernah menyebut islam Indonesia sebagai “islam with a smiling face”).

Jargon membela Islam sering memperdaya banyak orang bahkan pada kalangan intelektual yang tidak terbiasa berpikir agamis dan spiritual terpengaruh pada simbol-simbol agama dan kekuatan dogmatis yang diajarkan oleh para takfiri. Para takfiri memandang bahwa para muslim lain yang berbeda dengan mereka sebagai kurang islami, atau bahkan kafir.

Maka, mereka melakukan infiltrasi ke masjid-masjid, lembaga-lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan swasta untuk mengubahnya menjadi keras dan kaku. Di Indonesia, maraknya takfiri lebih disebabkan oleh gagalnya Negara mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keunikan dari gerakan takfiri adalah mereka anti demokrasi, akan tetapi mereka memakai lembaga Negara demokratis untuk menyalurkan cita-cita politiknya. Fakta ini memberikan kita satu hal bahwa tidak ada kejelasan antara teori dan praktik dari ajaran ini.

Tentang klaim-klaim implisit takfiri bahwa mereka sepenuhnya memahami maksud kitab suci dan karena itu mereka berhak menjadi wakil Allah SWT dan menguasai dunia untuk memaksa setiap orang mengikuti pemahaman sempurna mereka. Pernyataan ini tidak dapat diterima baik secara teologis maupun politis. Begitu banyak kasus yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh ajaran-ajaran takfiri yang mengganggu toleransi beragama.

Pemahaman mereka terhadap ajaran Islam dan penafsiran terhadap kitab suci mereka anggap final, bahkan yang berbeda pandangan dengan horizon pemikiran mereka dilabeli melawan Islam dan menentang Al-Quran. sudah begitu banyak contoh yang kita lihat setiap hari di negara timur-tengah yang mengalami peperangan berkelanjutan yang berawal dari perpecahan. kita berharap negara tercinta kita di Indonesia akan tetap rukun dengan keberagamannya sebagaimana budaya lemah lembut dari para leluhur kita.

ketika ahlul haq diam terhadap kebatilan, maka ahlul batil akan mengira mereka berada dalam kebenaran” (Imam Ali)

Avatar
leviyamanihttp://leviyamani.wordpress.com
Dosen Ekonomi dan Bisnis di STIE Kusuma Negara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.