Jumat, Februari 26, 2021

Takfiri Awal Sebuah Kehancuran

Pancasila dan Gempuran Politik Pasca Pemilu

Beranjak dari artikel (opini) yang ditulis oleh Aris Heru Utomo dan dipublikasi di media massa Victory News pada tanggal 21 Mei kemarin, yang membahas...

Syawapres, Tapi Bukan Syapres

Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan digelar serentak pada  Rabu, 17 April 2019. Hal ini sudah disepakati sebelumnya oleh Panja RUU...

Langkah Ciamik Gus Ipul Menggandeng Via Vallen-Nella Kharisma

Memasuki tahun 2018, sebanyak 171 daerah, yang terdiri dari 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota akan menyelenggarakan Pilkada langsung dan serentak. Pilkada serentak...

Pandemi dan Balada Negara Agraris yang Krisis Pangan

Pandemi Covid 19 telah mendorong pemerintah untuk juga serius menangani pasokan pangan, tidak hanya persoalan kesehatan. Penanganan pasokan pangan menjadi penting karena faktanya tidak...
Avatar
leviyamanihttp://leviyamani.wordpress.com
Dosen Ekonomi dan Bisnis di STIE Kusuma Negara

Gerakan takfiri menjadi sebuah ancaman baru bagi seluruh Negara di dunia yang memberikan gambaran yang negatif terhadap ajaran agama Islam yang dipandang mengajarkan kekerasan. Para takfiri tanpa mereka sadari mengubah agama Islam dari sebuah agama menjadi ajaran ideologi.

Pada akhirnya, Islam menjadi senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapapun yang pandangan politiknya dan pemahaman keagamaannya berbeda dari mereka. Jargon memperjuangkan Islam pada dasarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata.

Langkah ini menjadi sangat ampuh karena setiap yang melawan mereka akan dituduh melawan Islam. Padahal jelas tidak demikian faktanya. Kita harus sadari jika Islam diubah menjadi ideologi politik ia akan menjadi sempit karena dibingkai oleh batasan-batasan ideologi dan platform politik. Karena watakdasar tafsir ideologi politik adalah menguasai dan menyeragamkan. Dalam bingkai inilah aksi terhadap pengkafiran sering dituduhkan pada orang lain yang berseberangan dengan mereka.

Perubahan ini dengan jelas mereduksi dan mengamputasi pesan luhur Islam dari agama yang penuh kasih sayang dan toleran menjadi seperangkat batasan ideologi yang sempit dan kaku. Pada umumnya aspirasi kelompok takfiri di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan transnasional di timur tengah, terutama yang berpaham takfiri. Padahal, selama ini Islam Indonesia dikenal lembut, toleran, dan penuh kedamaian (majalah international newsweek pernah menyebut islam Indonesia sebagai “islam with a smiling face”).

Jargon membela Islam sering memperdaya banyak orang bahkan pada kalangan intelektual yang tidak terbiasa berpikir agamis dan spiritual terpengaruh pada simbol-simbol agama dan kekuatan dogmatis yang diajarkan oleh para takfiri. Para takfiri memandang bahwa para muslim lain yang berbeda dengan mereka sebagai kurang islami, atau bahkan kafir.

Maka, mereka melakukan infiltrasi ke masjid-masjid, lembaga-lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan swasta untuk mengubahnya menjadi keras dan kaku. Di Indonesia, maraknya takfiri lebih disebabkan oleh gagalnya Negara mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keunikan dari gerakan takfiri adalah mereka anti demokrasi, akan tetapi mereka memakai lembaga Negara demokratis untuk menyalurkan cita-cita politiknya. Fakta ini memberikan kita satu hal bahwa tidak ada kejelasan antara teori dan praktik dari ajaran ini.

Tentang klaim-klaim implisit takfiri bahwa mereka sepenuhnya memahami maksud kitab suci dan karena itu mereka berhak menjadi wakil Allah SWT dan menguasai dunia untuk memaksa setiap orang mengikuti pemahaman sempurna mereka. Pernyataan ini tidak dapat diterima baik secara teologis maupun politis. Begitu banyak kasus yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh ajaran-ajaran takfiri yang mengganggu toleransi beragama.

Pemahaman mereka terhadap ajaran Islam dan penafsiran terhadap kitab suci mereka anggap final, bahkan yang berbeda pandangan dengan horizon pemikiran mereka dilabeli melawan Islam dan menentang Al-Quran. sudah begitu banyak contoh yang kita lihat setiap hari di negara timur-tengah yang mengalami peperangan berkelanjutan yang berawal dari perpecahan. kita berharap negara tercinta kita di Indonesia akan tetap rukun dengan keberagamannya sebagaimana budaya lemah lembut dari para leluhur kita.

ketika ahlul haq diam terhadap kebatilan, maka ahlul batil akan mengira mereka berada dalam kebenaran” (Imam Ali)

Avatar
leviyamanihttp://leviyamani.wordpress.com
Dosen Ekonomi dan Bisnis di STIE Kusuma Negara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.