OUR NETWORK

Tahukah Kamu Khalid bin Walid Termasuk 5 Jenderal Terhebat Sepanjang Sejarah?

Mengandalkan pasukan berkuda yang gesit dan pemilihan waktu serta tempat pertempuran yang ideal, Khalid berhasil memenangkan Pertempuran Yarmuk tepat pada hari ini, 1383 tahun yang lalu. Bagaimana taktik Khalid?

Pertanyaan mengenai siapa jenderal terhebat sepanjang zaman seakan tidak pernah ada habisnya. Jenderal dan penakluk legendaris seperti Aleksander Agung, Julius Caesar, hingga Jenghis Khan seringkali didaulat sebagai jenderal paling lihai sepanjang sejarah dunia.

Seorang ilmuwan data (data scientist) bernama Ethan Arsht rupanya tak kuasa menahan dirinya untuk ikut nimbrung dalam perdebatan ini. Menggunakan pendekatan statistik, ia mengolah data 3.580 pertempuran dan 6.619 jenderal yang ia peroleh dari Wikipedia untuk mencari tahu siapa sebetulnya yang paling hebat—setidaknya berdasarkan pendekatan matematika.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor penting seperti jumlah pasukan, keuntungan atau kekurangan numerik, serta hasil perang, Ethan percaya bahwa ia berhasil mengumpulkan daftar 10 jenderal terbaik sepanjang sejarah secara cukup objektif.

Nah, rupanya dari ribuan jenderal yang pernah berperang di dunia, sahabat Rasulullah ﷺ bernama Khalid bin Walid berada di urutan kelima.

Matematika berkata bahwa Khalid lebih hebat dari panglima legendaris Kartago Hannibal Barca, Frederick yang Agung asal Prusia, bahkan sang penakluk dunia Aleksander Agung.

Posisi pertama dan kedua dalam daftar kalkulasi Ethan diduduki oleh Napoleon Bonaparte dan Julius Caesar.

Mengenal Khalid bin Walid

Sebelum memeluk Islam, Khalid dikenal sebagai pemuda Quraisy yang berbakat dalam memimpin pasukan berkuda.

Adalah Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Islam dalam Perang Uhud. Ia bersama kavelerinya menyapu pasukan pemanah yang tidak disiplin hingga berujung pada kekalahan pasukan Islam.

Setelah masuk Islam, Khalid menjadi bagian tak terpisahkan dari pasukan Islam di masa Rasulullah ﷺ dan Khalifah Abu Bakar. Oleh sebab kebrilianan Khalid-lah Islam berhasil menaklukan semenanjung Arabia dan banyak daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium dan Persia.

Dikatakan bahwa Khalid terlibat di lebih dari 100 pertempuran dan tidak pernah kalah sekali pun. Salah satu pertempuran yang mengorbitkan nama Khalid adalah ketika ia didapuk sebagai komandan setelah tiga komandan Muslim sebelumnya tewas oleh pasukan Bizantium pada ekspedisi Mu’tah.

Menghadapi pasukan yang berjumlah 7 kali lipat lebih banyak, pasukan Islam langsung terdesak. Begitu ganasnya pertempuran Mu’tah hingga 9 pedang Khalid patah dan menyisakan satu pedang Yamannya.

Dalam keadaan terdesak, Khalid menggunakan strategi yang disebut oleh zaman now sebagai tactical withdrawal. Mengumpulkan seluruh pasukan ke satu titik, ia memerintahkan hampir seluruh pasukan untuk mendobrak satu titik pertahanan musuh, sambil  menghentakan pasir guna menciptakan ilusi bahwa pasukan bantuan segera hadir.

Berkat kegeniusan Khalid, selamatlah tentara Islam dari kekalahan di hari itu.

Rasullulah ﷺ, yang saat itu berada di Madinah, mendapatkan isyarat Ilahi bahwasanya 3 komandan pasukan Islam tewas hingga akhirnya komando dipegang oleh Khalid. Sambil menangis, Rasullulah ﷺ berkata kepada para sahabatnya:

حَتَّى أَخَذَ الرَّايَةَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Kemudian bendera itu diambil oleh Pedang di antara Pedang Allah (yaitu Khalid) dan Allah menjadikan mereka (kaum Muslim) menang (HR. Bukhari no. 4262). 

A.I. Akram, penulis biografi Khalid bin Walid, menjelaskan bahwa “Mu’tah bukanlah pertempuran besar; itu juga bukan pertempuran yang sangat penting. Tapi itu memberi Khalid kesempatan untuk menunjukkan keahliannya sebagai komandan; dan ia mendapat gelar Pedang Allah (Saifullah) karenanya.”

7 tahun kemudian, sang Pedang Allah dipercaya memimpin pasukan Islam untuk menghadapi pasukan Bizantium di daerah dekat sungai Yarmuk—perbatasan antara Suriah dan Yordan. Menghadapi pasukan yang berjumlah 4 sampai 7 kali lipat lebih besar, Khalid tidak gentar. Seperti sebelumnya, ia mengandalkan kecerdikan guna menyiasati kalah jumlah.

Ilustrasi Pertempuran Yarmuk yang berlangsung kurang lebih selama 6 hari dari tanggal 15-20 Agustus 636 M antara pasukan Islam dan Bizantium.

Mengandalkan pasukan berkuda yang gesit dan pemilihan waktu serta tempat pertempuran yang ideal, Khalid berhasil memenangkan Pertempuran Yarmuk tepat pada hari ini, 1383 tahun yang lalu.

Dalam bukunya, Islam at War, sejarawan militer George Nafziger menjelaskan pentingnya Pertempuran Yarmuk dalam perjalanan sejarah dunia:

“Walaupun tidak begitu dikenal hari ini, [Pertempuran Yarmuk] adalah salah satu pertempuran yang paling menentukan dalam sejarah manusia. Dengan kemenangan ini, Islam menjadi agama yang dominan di seluruh Timur Tengah modern. Palestina dan Suriah menjadi negara-negara Muslim. Jalan ke Mesir pun terbuka, dan melalui Mesir dan Suriah, para khalifah memperoleh kekuatan angkatan laut untuk menyebarkan agama dan kekuasaan mereka di seluruh Mediterania selatan, hingga ke Spanyol. Seandainya pasukan Heraclius [Bizantium] menang, dunia modern mungkin tidak seperti ini. Pemerintah dan rakyat Suriah, Yordania, Israel, dan Mesir akan sangat tidak seperti sekarang ini.”

Kekalahan pasukan Bizantium yang berkekuatan jauh lebih besar tidak dapat dipisahkan dari kegeniusan Khalid bin Walid dalam menentukan strategi pertempuran. Ia paham betul kekuatan dan kekurangan pasukan Muslim. Begitu pula kekuatan dan keterbatasan pasukan musuh. Sehingga ia dapat secara bijak menentukan strategi yang tepat.

Seperti petuah ahli strategi militer Sun Tzu, “Jika kamu tahu siapa musuhmu dan tahu siapa dirimu, maka kamu tidak perlu khawatir dengan hasil akhir dari 100 pertempuran.”

Maka, tak aneh bila Khalid bin Walid, sang Pedang Allah yang tak pernah kalah dan patah, didaulat—baik secara matematika maupun pendapat para sejarawan militer—sebagai salah satu jenderal terhebat sepanjang sejarah.

Ingin baca artikel terkait Islam yang mencerahkan dan bermutu? Ingin punya satu aplikasi Islami yang lengkap, gratis dan tanpa iklan? Silakan download KESAN, aplikasi kepribadian muslim dan kedaulatan santri, di http://bit.ly/Download-KESAN-Andorid

Referensi: Arsht, Ethan. “Napoleon Was the Best General Ever, and the Math Proves It.” Medium, Towards Data Science, 15 Apr. 2019; Akram, A. I. The Sword of Allah. 1970; Nafziger, George F., and Mark W. Walton. Islam at War: a History. Praeger, 2003.

Baca juga

Imam Nawawi Tidak Mewajibkan Menegakkan Sistem Khilafah

Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Kesan.id
KESAN adalah aplikasi mobile bagi para santri, purna santri, dan segenap umat Islam yang ingin nyantri secara virtual guna mendampingi dan membantu mereka menggapai kedaulatannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…