OUR NETWORK

Tafsir Fenomena Hoax di Nusantara

Terhitung sudah dua bulan lebih sejak hijrah dari Makassar ke Kediri dengan berbagai kesibukan baru yang saya lakoni sekarang, justru malah menjadikan saya ketinggalan info-info aktual seputar situasi dan kondisi di “kota daeng” itu, tempat saya menimba ilmu sewaktu kuliah dulu. Takut dibilang kuper biar tidak ketinggalan info di sela-sela waktu luang, rasa penasaran itu saya jawab dengan mengunjungi salah satu situs berita online milik koran lokal sulawesi.

Cukup puas dengan kabar-kabar regional yang disajikan di laman itu, saya lanjutkan dengan mengecek berita-berita hangat lainnya yang sempat juga saya lewatkan beberapa hari lalu. Mata saya terhenti membaca tajuk salah satu berita dengan judul seperti ini “Posting Baliho Hoax Soal PDIP Seorang Ibu ditangkap Polisi”.

Hoax di zaman Nabi

Alkisah ialah dia seorang Walid bin Uqbah bin Abu Mu’it, suatu ketika diperintah oleh Rasulullah saw, untuk berangkat menemui kabilah Bani Mustaliq dengan maksud agar ia mengambil zakat dari orang-orang tersebut. Di tengah-tengah perjalannya, secara kebetulan ia melihat gerombolan utusan dari kelompok Bani Mustaliq yang juga hendak berangkat menemui Rasul di Madinah, untuk mengumpulkan zakat yang tadi dimaksudkan oleh Nabi saw, agar Walid mengambilnya dari mereka.

Namun kemudian dia-walid-entah mengapa terbayang kembali dengan ingatan lama akan dendam diantara dirinya dengan Haris bin Abi Dhirar-pemimpin kabilah Mustaliq-sewaktu masa jahilihah dulu, Walid kemudian berbalik arah dan langsung kembali karena merasa takut dan was-was kalau-kalau nanti dia di sikat habis oleh kelompok tersebut.

Sesampainya di Madinah bermodal prasangka buruknya itu ia kemudian menyampaikan berita palsu kepada Nabi dan umat muslim pada waktu itu bahwa kabilah Mustaliq telah membelot, enggan membayar zakat dan berusaha membunuh dirinya. Kabar ini sempat menyulut emosi Nabi namun beliau tidak kemudian gegabah mengambil keputusan, tetapi terlebih dahulu mengirim delegasi untuk mengkonfirmasi validitas kabar yang dibawa oleh Walid.

Singkat cerita setelah ditelusuri kebenarannya ternyata didapati bahwa berita tersebut hanyalah isu-isu burung yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga gesekan antara kabilah Bani Mustaliq dan masyarakat muslim di Madinah kemudian dapat dihindari. Berlatarbelakang peristiwa di atas inilah menurut riwayat yang banyak disebutkan oleh para mufasir, QS. al-Hujurat/49 ayat ke-6 kemudian diturunkan, wahai orang-orang yang beriman! jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.

Menyikapi Fenomena Hoax di era modern

Menurut data yang dirilis oleh kemenkominfo, menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya terdapat sekitar 800.000 situs di Indonesia terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Kalau boleh meminjam istilah pepatah yang mengatakan “Waktu adalah pedang bermata dua, jika kau tidak memanfaatkannya dengan baik maka ia justru akan berbalik melukaimu”, saya kira ungkapan ini juga cocok digunakan untuk mengambarkan bagaimana tajamnya-bahkan lebih tajam-pedang bermata dua yang sekarang juga ramai digandrungi oleh masyarakat, “internet” namanya.

Di era globalisasi yang mana kehadiran internet menjadi penemuan termutakhir umat manusia, kemudahan untuk mengakses berbagai macam jenis informasi justru malah menjadikan masyarakat gampang tertipu dengan kabar-kabar angin alias hoax yang keberadaannya sekarang cukup sulit untuk dibedakan, mana yang asli, mana yang palsu.

Menurut kaca mata psikologi, salah faktor yang menyebabkan berita-berita hoax kemudian gampang dipercaya masyarakat serta begitu leluasa merajalela, disebabkan karena seseorang memang cenderung lebih gampang percaya akan sebuah berita yang sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya.

Dari sini saya menduga keras bahwa kasus ibu rumah tangga yang saya ceritakan di awal tadi, merupakan korban yang termakan isu hoax, yang sekarang banyak dipelintir oleh oknum-oknum tertentu untuk menjatuhkan lawan politik menjelang ajang pemilu.

Boleh jadi, karena disebabkan oleh sikapnya yang kurang berkenaan dengan parpol tersebut, menjadikannya malah ikut terbuai dengan berita palsu itu. Masyarakat kita harus mawas diri berhati-hati dengan hoax yang dijadikan amunisi oleh kelompok-kelompok tertentu, untuk menyebarkan sentimen berbau SARA, agar kepentingan pribadi maupun kelompok mereka kemudian tercapai. Tidak percaya? Ini bukan hoax loh, terungkapnya kasus Saracen baru-baru ini membuktikan bahwa keberadaan sindikat-sindikat terorganisir yang diduga sengaja menyebarkan berita palsu berdasarkan pesanan adalah benar adanya.

Ada oknum-oknum yang gemar bermain di air keruh memanfaatkan hantu digital yang bernama hoax. Jika kita tidak pandai-pandai menyaring informasi yang diterima, boleh jadi kita juga akan ikut termakan provokasi.

Mengutip penjelasan mufasir kontemporer Wahbah al-Zuhaili ketika menjelaskan kandungan ayat ke-6 QS. al-Hujurat di atas, menyebutkan bahwa bersikap selektif terhadap berbagai macam berita yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, merupakan adab-adab dalam bermasyarakat yang penting untuk diindahkan. Agar dengannya kesatuan dan keharmonisan kehidupan antar umat mampu terjaga, dengan terhindar dari perpecahan yang disebabkan oleh keberadaan berita-berita palsu ini.

Monggo mas, tabayyun dululah.

Referensi 

Ibnu Kas|i>r, Isma>‘il bin ‘Umar. Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az{i>m. Juz VII Cet. II; t.t. Da>r T{ayyibah, 1420 H/ 1999 M.

Al-Mara>gi>, Ah{mad bin Mus{t{afa>. Tafsi>r al-Mara>gi>. Juz  XXVI Cet. I; Mesir: Mus{t{afa> al-Ba>bi> al-H{alabi>. 1365 H/1946 M.

Al-Zuh{aili>, Wahbah bin Mus}t{afa>. al-Tafsi>r al-Muni>r fi> al-‘Aqi>dah wa al-Syari>‘ah wa al-Manhaj. Juz XXVI. Damaskus: Da>r al-Fikr al-Ma‘a>s}ir. 1418 H/ 1998 M.

https://news.detik.com/berita/d-3780795/ini-motif-ibu-rumah-tangga-posting-baliho-hoax-soal-pdip

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/12/p0uuby257-ada-800000-situs-penyebar-hoax-di-indonesia

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41022914

Manusia ji saya kodong,, ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…