Senin, November 30, 2020

Syi’ir-Syi’ir #2019GantiPresiden yang Memabukkan

3 Alasan Kenapa Jokowi dan Prabowo Harus Sama-sama Menang

Sangat menarik mencermati tulisan yang berisi dukungan dan penolakan terhadap salah satu capres. Dan sekiranya kita adalah manusia yang beradab, maka penolakan dan dukungan...

Media Massa sebagai Kendali Antiterorisme

Di tengah keterbukaan informasi seperti sekarang, kita agaknya kerepotan untuk menemukan mana yang benar dan keliru. Era ini disebut-sebut sebagai masa ‘post-truth’ atau pascakebenaran....

Pancasila dan Gempuran Politik Pasca Pemilu

Beranjak dari artikel (opini) yang ditulis oleh Aris Heru Utomo dan dipublikasi di media massa Victory News pada tanggal 21 Mei kemarin, yang membahas...

Restorasi Spirit Filantropi di Sekolah Muhammadiyah

Tahun lalu, tepatnya pada 10 Desember 2018, diadakan Lokakarya Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Launching Buku Kemuhammadiyahan di kampus UHAMKA Jakarta. Kegiatan tersebut masih dalam rangka...
Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas

Awal mula kemunculan Gerakan #2019GantiPresiden tidak luput dari peran dari para petinggi elit oposisi, yang diinisiasi oleh Mardani Ali Sera yang merupakan ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sebelum menjadi gerakan yang masif, #2019GantiPresiden dilontarkan oleh Mardani Ali Sera ketika diundang menjadi narasumber oleh salah satu stasiun televisi beserta dengan para elit politik lainnya. Mardani mengatakan kala itu #2018GantiPresiden, untuk menandingi lawan bicaranya dari kubu pemerintah.

Kemudian dilanjutkan dengan postingan dimedia sosial yang menginisiasi tagar #2019GantiPresiden yang ditulis oleh Mardani. Lantas diikuti dengan gelombang produksi buku, Marcendise yang masif dan dipublikasikan langsung oleh mardani serta lagu #2019GantiPresiden yang diciptakan oleh Alang ikut mengiringinya. Langkah-langkah tersebut diamini oleh Gerindra yang merupakan sekutu oposisi yang kemudian secara kasat mata dapat dikatakan sebagai gerakan resmi dari oposisi.

Bahkan Isu #2019GantiPresiden sempat disinggung oleh Presiden Jokowi, “Sekarang isunya ganti lagi, isu kaos. #2019GantiPresiden pakai kaus. Masak kaus bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat,” kata Jokowi di hadapan relawan yang hadir dalam Konvensi Nasional Galang Kemajuan 2018, di Ballroom Puri Begawan, Bogor, Sabtu (7/4). Sehingga tagar tersebut semakin riuh dikalangan kontra pemerintah.

Terbukti dalam postingannya di akun Facebook, Ismail menuliskan, Drone Emprit menganalisis data sejak 1 April sampai 10 April. Selama periode tersebut, piranti lunak tersebut mendapatkan, ada 110 ribu mention tentang hashtag #2019GantiPresiden dan hanya 18 ribu mention untuk #Jokowi2Periode.

Pada acara car free day (CFD) di ruas jalan Sudirman Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (29/4) muncul sekelompok orang yang berkaos #2019GantiPresiden dan kelompok berkaos #DiaSibukKerja. Munculnya dua kelompok yang berseberangan ini memancing keributan dan berujung Persekusi kepada seorang ibu beserta anaknya dan seorang bapak yang tertinggal dari kelompoknya (keduanya sama-sama dari kelompok #DiaSibukKerja). Padahal, larangan kegiatan politik di area CFD diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahun 2016 tentang Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB).

Pada debat Publik kedua Pilgub Jawa Barat Pasangan nomor urut tiga Sudrajat-Ahmad Syaikhu menyampaikan ucapan penutup dengan kontroversi. Dalam pernyataan penutup itu, Sudrajat menyebut jika dirinya menang maka 2019 akan ganti Presiden. “2019 kita akan ganti Presiden, Asyik menang,” kata Sudrajat dalam pernyataan itu. Tak hanya itu, Syaikhu juga membawa kaos bertuliskan #2019GantiPresiden.

Sontak keramaian pun terjadi pasca debat berlangsung. Sebagian penonton memprotes pernyataan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu. Kenyataanya pada hasil akhir pencoblosan Pilgub Jawa Barat pasangan Asyik bertengger berada dinomer 2 dalam perolehan suara, mengalahkan pasangan Duo Deddy, lantas aksi tagar tersebut diklaim sukses menumbangkan Paslon lainnya.

Semakin hari gerakan ini semakin masif dan berubah menjadi gerakan massa yang lebih kepada berbau politik “kampanye”. Berbagai bentuk kegiatan dilaksanakan oleh para pendukung gerakan ini, salah satunya dengan membuat kegiatan Sosial atau keagamaan (Takbir Akbar) yang didalamnya dibumbui dengan  deklarasi #2019GantiPresiden diberbagai daerah.

Masyarakat semakin resah masyarakat oleh ulah mereka, sehingga berujung penolakan diberbagai daerah seperti penolakan deklarasi di halaman Masjid Agung Batam dikawasan Batam Center-Batam, kemudian penolakan deklarasi di Tugu Pahlawan Pekanbaru Riau dan yang terakhir penolakan deklarasi di di tugu pahlawan surabaya. Penolakan-penolakan warga tersebut bisa berakibat pada  kontak fisik yang tidak bisa dihindari sehingga tidak tertutup kemungkinan berujung pada jatuhnya korban jiwa.

Penolakan demi penolakan tersebut wajar terjadi, karena masyarakat menilai unsur muatan politik sangat kental didalamnya dan terkesan berkampaye praktis. Berkaca pada peraturan KPU berkaitan masa kampanye Presiden dan Wakil Presiden 2019 tertanggal 29 September-13 April 2019 yang berbarengan dengan masa kampanye calon anggota DPR, DPD dan DPRD.

Memang sepertinya awal-awal gerakan ini bisa ditelorir karena untuk mengaet para calon pemilih pemula untuk mendulang suara partai ketika Pilkada 2018 berlangsung, dengan alasan untuk menawarkan Capres dan Cawapres baru yang akan diusung oleh Partai untuk Pilpres 2019. Kenyataanya pendaftaran Capres-Cawapres sudah usai dan sudah ketahuan siapa-siapa calon tersebut.

Maka seharusya KPU dan Bawaslu menindak tegas para oknum-oknum yang menumpangi gerakan ini, dengan cara mencuri star kampanye lebih awal secara halus. Bukan berarti #Jokowi2Priode atau yang laiinya lantas diperbolehkan, semuanya harus bijak, serta jangan terprovokasi terlebih memprovokasi satu sama lain.

Nikmati Kebinekaan ini, jangan kau rusak dengan ambisi-ambisi Manusiawimu, karena kita semua bersaudara dalam untaian prinsip “Bhineka Tunggal Ika”.

Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.