Senin, Maret 8, 2021

Syariat dalam Kristen

Game of Thrones dalam Pidato Jokowi, Ironi!

Dalam forum IMF-WB di Bali, baru-baru ini, Jokowi berpidato dengan menggunakan analogi serial Game of Thrones atas fenomena perang dagang yang terjadi di dunia...

Melawan Virus Gawai

Nyata kita sadari bersama kemajuan teknologi telah merasuki segala aspek kehidupan manusia. Seolah virus yang menyebar, teknologi tak hanya menguasai bagian paling umum dari...

Masih Signifikan Politik Islam?

Sejak pemilu 1999, fusi partai politik telah pecah dan bermunculan berbagai partai politik dengan platform yang beragam, termasuk partai politik islam. Dari 48 partai...

Kami Santri Nusantara

Santri adalah identitas manusia yang selalu berkerabat dengan ilmu, pengetahuan, dan akhlak. Santi juga merupakan salah satu senjata dari awal beridirinya Indonesia. Sudah begitu banyak...
Ayub Simanjuntak
Pengajar dan Pembina Remaja/Pemuda Gereja Kemah Injil Indonesia Rehobot Mustika Jaya Bekasi

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kok kamu enak ya ibadah cuma seminggu sekali, “orang Kristen apa sih makanan yang haram?” dan yang paling sering “nggak ada puasa ya kalau di Kristen?” menjadi pertanyaan yang akrab dengan saya dulu bahkan kadang-kadang sampai sekarang.

Beberapa waktu yang lalu saya bahkan membaca artikel disebuah blog dengan judul “Kristen agama yang bebas syariat” saya menangkap hal menarik dari tulisan yang menyatakan adalah suatu kemustahilan bagi orang kristen Indonesia  membangun sebuah negara di kawasan Indonesia timur, misalnya Papua dan NTT misalnya meskipun banyak penganut Kristennya karena syariat dalam  Injil menurut beliau itu tidak ada.

Penulis di blog tersebut menyatakan Injil tidak punya aturan tertulis misalnya soal hutang-piutang, jual-beli, hukum perang, ahli waris dan lain-lain. Ya, injil mengajarkan etika dan kebaikan tapi itu tidak cukup untuk hidup dan membangun negara yang kuat. Benarkah demikian?

Syariat menurut KBBI adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah Swt., hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Alquran dan hadis. Pertanyaannya menjadi apakah Yesus itu membawa syariat?

Yesus Kristus,keturunan Daud raja termahsyur, lahir dan besar di Israel. Dia hidup pada periode kelam di mana bangsa itu sedang mengalami penjajahan Romawi. Ketika rakyat dibebani pajak yang berat, Bait Allah dikuasai orangpenjajah dan setiap aspek kehidupan termasuk sosial budaya terhambat karena beratnya penjajahan.

Wajar ketika Yesus memproklamirkan Injil Kerajaan Allah sudah dekat dan memperoleh banyak pengikut dan pengagum fanatik karena ajaran dan mujizat yang Dia tampilkan di depan semua orang, mereka menghendaki sebuah revolusi. Sebab dalam pandangan Yahudi, Mesias akan datang dan membebaskan mereka dari penjajahan.Mereka percaya Yesus anak Maria adalah mesias terjanji itu.

Tetapi setelah tiga tahun berkeliling sambil mengajar dan berkotbah betapa terperanjatnya mereka terutama ketika Yesus mengeluarkan satu pernyataan yang tidak mencerminkan hal tersebut yang berulang-ulang disampaikan-Nya, seperti misalnya yang  tercatat dalam Injil Yohanes 18:36-38. Suatu pernyataan terus terang kalau Dia tidak hendak ke Yerusalem dan menggulingkan kekaisaran Romawi. Hal ini sangat mengecewakan pengikut bahkan Yudas sang murid pun menjual Sang guru demi 30 keping uang perak.

Sejarah mencatat Pontius Pilatus adalah gubernur ke-5 dari Provinsi Iudaea Kekaisaran Romawi, menjabat tahun 26–36 M, pada zaman kaisar Tiberius. Ketika para pemimpin Yahudi menangkap Yesus mereka membawanya kepada Pontius Pilatus gubernur ke-5 dari Provinsi Iudaea Kekaisaran Romawi yang  menjabat tahun 26–36 M, pada zaman kaisar Tiberius.

Percakapan antara Yesus dan Pilatus di gedung pengadilan tercatat dalam Injil Pasal 18:36 TB.

Kata Pilatus “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat? Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku  bukan dari dunia ini ; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,  akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.  

 Pernyataan ini menyatakan setidaknya 4 hal :

  • Yesus dengan terus terang berkata tidak mempunyai maksud untuk mendirikan sebuah negara atau pemerintahan bahkan ketika rakyat itu meminta-Nya melakukan sebuah revolusi.
  • Kedatangan-Nya kedalam dunia hanya memiliki satu maksud seperti yang sudah dinubuatkan nabi-nabi yaitu membebaskan umatnya dari dosa.
  • Kerajaan yang Dia maksud bukan secara fisik. Setiap orang yang diundang masuk dalam kerajaan tersebut harus mengalamu penebusan dosa yang  menjadi inti pengajaran Yesus Kristus sementara Ia berada dalam dunia.
  • Kekerasan bukan cara Yesus.

Lalu seperti pertanyaan penulis artikel yang saya singgung di atas yang juga mewakili banyak orang, sesungguhnya apa yang mengatur landasan hidup orang Kristen ketika hidup di masyarakat. Berikut pemaparannya:

  • Orang Kristen percaya, mengakui, mendoakan dan mendukung pemerintahan dimanapun mereka berada dalam status apapun mereka saat ini.
  • Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan  Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian  dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang . Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak.  Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.(Roma 13:7 TB)
  • Adanya pemisahan antara pemerintah sipil dan pemerintahan gereja. Negara mengatur hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti pajak, ekonomi, militer dan lain-lain, sementara Pemerintahan gereja seperti pendeta, penatua, diaken atau majelis mengatur hubungan antar umat dan kepada Tuhan dalam hal pertumbuhan rohani.
  •  “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”( Matius 22:21TB)

Ayub Simanjuntak
Pengajar dan Pembina Remaja/Pemuda Gereja Kemah Injil Indonesia Rehobot Mustika Jaya Bekasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.