Minggu, April 11, 2021

Swedia, Pasca Orde Zlatan

Karya Ahmad Dhani Selama Ini, Sufi Atau Komoditi?

"Atas nama cinta saja. Jangan bawa nama Tuhan. Apa pun cara kau tempuh. Untuk dapatkan yg kau mau. Meski kau harus jual murah. Ayat-ayat...

Manifesto Distopia Vol. I Simbol Media Kapitalisme

Berapa simbol yang bertebaran di dunia saat ini. Apakah simbol-simbol itu bermakna universal atau malah simbol itu malah membawa masyarakat pada kebingungan. Untuk menciptakan...

Penanggulangan Bencana Lintas Wilayah Administrasi, Mungkinkah?

Bencana alam yang disebabkan oleh faktor cuaca, iklim dan geologis  seperti hujan,   kekeringan, atau  gempa bumi  kerap tidak bisa dicegah. Tindakan terbaik yang...

Anak Papua dan Pancasila

Setiap 1 Juni merupakan hari lahirnya slogan negara Republik Indonesia yakni “berbeda-beda tetapi tetap satu (5 sila)”. Segenap tokoh-tokoh terdahulu mencetuskan Pancasila sebagai rumusan...
Haryo Wibisono
suka diajak ngobrol antropologi, sejarah dan jurnalistik

Memang sulit memisahkan Swedia dan Zlatan. Besar kemungkinan anda akan merespon Zlatan Ibrahimovic terlebih dahulu –sebelum menyebut IKEA atau ABBA- , saat saya menyebut kata Swedia.

Zlatan bahkan diadopsi sebagai kosakata pada bahasa Swedia yaitu Zlatanera yang berarti mendominasi. Sudah terbayangkan, betapa melegendanya Zlatan di lapangan sepakbola dan negara Swedia?

Menyaksikan Swedia era Zlatan, kurang lebih sama dengan Argentina saat Piala Dunia 2018, seluruh umpan akan dipusatkan ke Zlatan dan para penonton berharap akan ada aksi ajaib, entah tendangan salto dari 40 meter atau mencetak gol lewat tumit ala kalajengking. Mohon maaf, ini hanya ada saat Piala Eropa 2004 dan pertandingan persahabatan melawan Inggris tahun 2012, tidak sekalipun terjadi saat Piala Dunia bersama Swedia.

Sudah resiko memiliki bintang sekelas Zlatan, kalau menang, si bintang yang dipuji setinggi langit, jika kalah si bintang sibuk sembunyi dari hujatan dan lagi-lagi rekan se-tim dan pelatihnya yang dikambinghitamkan dengan tuduhan menyia-nyiakan bakat si bintang. Toh, saat timnya sedang susah payah berlatih, sang bintang dengan asyiknya melenggang dari satu iklan ke iklan lainnya.

Aura pemain bintang semakin kuat akibat awetnya fantasi menitisnya si bintang ke generasi baru, coba diurut, istilah Maradona Baru, Messi Baru, sampai komentator Bung Jebret dari Indonesia ikut latah menyamakan Egy Maulana dengan Messi.

Hasilnya tragedi atau harapan semu. Si pemain bintang mengklaim pencapaiannya paling unggul, sementara si penerus pusing memegangi dahinya akibat tidak bisa keluar dari bayang-bayang si bintang.

Untungnya hal ini tidak terjadi di timnas Swedia, tidak ada keributan siapa penerus Zlatan Baru atau veteran seperti Maradona yang kurang kerjaan merecoki timnasnya sendiri. Sejak menyingkirkan Belanda dan Italia di babak klasifikasi hingga melaju perempat final Piala Dunia 2018, Swedia banyak menyuguhkan kedisiplinan, kolekivitas, dan efisien. Namun sayang, tumbang oleh Inggris.

Hal yang membuat saya yakin siapapun yang berhadapan dengan Swedia harus berhati-hati. Para pencinta penguasaan bola dan sepakbola menyerang pasti akan jengkel melihat Swedia yang menumpuk pemainnya bertahan di separuh lapangan kemudian satu dua kali melakukan serangan. Sementara bagi yang matanya sudah silau dengan kebintangan Messi, Ronaldo, Neymar akan mencibir Swedia sebagai tim liliput yang tidak bisa apa-apa sepeninggal Zlatan.

Pelatih Janne Andersson dalam setiap wawancara selalu berkata, filosofi Swedia adalah bermain dengan rasa senang dan bekerja keras untuk satu sama lainnya.  Entah berapa kali kalimat ini diulang-ulang dan bisa ditebak, kata kolektif, kerjasama dan rasa senang adalah negasi dari sosok megaloman dan individualis yang identik dengan Zlatan. Pelatih yang hanya punya satu trofi juara liga domestik bersama klub IFK Norrkoping ini, hanya menjawab seperlunya jika ditanyakan perihal Zlatan.

“Dia (Zlatan) tidak punya pengaruh apapun dalam persiapan tim Swedia”, tegas Janne. Saat mulai muncul isu apakah Zlatan kembali dari pensiunnya untuk bergabung ke Piala Dunia 2018, ia langsung mewanti-wanti jurnalis untuk tidak pernah membahas lagi Zlatan ke dirinya. Mitos Zlatan mau bagaimanapun harus dilucuti. Tentu bisa dibayangkan jika Zlatan yang gemerlapan prestasi datang menghampiri rekan setimnya yang hanya punya riwayat hidup liga domestik atau pemain cadangan di klub yang mengalami degradasi seperti Ola Toivonen.

“Zlatan menjadikan pemain lain sebagai pelayannya, bahkan belum tentu mau ia menginspirasi rekan-rekannya.  Swedia sekarang anti-Zlatan, para pemain bebas menjadi dirinya dan santai menikmati permainan. Etos yang menjadi nyawa permainan Swedia ini ditanamkan oleh pelatih Janne Andersson”, tulis kolumnis Rory Smith di New York Times.

Andre Granqvist, kapten tim yang dijuluki pohon Natal –karena tinggi tubuhnya-, berkata bahwa pelatih Janne Andersson yang mengembalikan Swedia sebagai tim, sosoknya kebapakan dan selalu memberikan rasa percaya diri. Seorang bapak yang sangat murka, melihat anak buahnya diejek Oliver Bierhoff yang berlebihan merayakan gol kedua Jerman. “Kita harusnya saling bersalaman setelah pertandingan.

Mereka (Jerman) tidak boleh meninggalkan lawan yang sedih akibat kekalahan”, kata Janne dengan nada kesal. Saat Jimmy Durmaz, pemain keturunan Turki, akun instagramnya dibully akibat pelanggarannya berakibat gol Toni Kroos, Janne berada di sampingnya dan mengajak seluruh pemain Swedia berdiri di belakang Jimmy dan turut mengutuk ujaran kebencian bernada rasial.

Melawan Swiss di babak 16 besar, Swedia menunjukkan keindahan sepakbola yang lain yaitu mencegah pertahanannya bobol. Keindahan yang barangkali sukar dipahami oleh pemuja daya magis pemain bintang dan sepakbola menyerang. Swedia tidak lagi dibebani harus bermain menyerang hanya karena menuruti ego pemain bintang yang berposisi sebagai penyerang pula.

Saat menyerang sekalipun, pemain Swedia hanya mengandalkan satu dua sentuhan malah berharap ada hadiah penalti dari VAR (Video Asisstant Referee), dan akhirnya Emil Forsberg berhasil menghadiahkan kerja keras timnya. Pemain Swedia saling berpelukan dan menangis dalam momen surreal itu.

Swedia dinyatakan lolos ke perempat final, harian Marca langsung menyatakan, “Sekarang Zlatan harus tutup mulut dan meninggalkan timnas Swedia dengan damai”. “Kami belum puas dengan pencapaian ini, kami ingin menang di pertandingan selanjutnya dan saya tidak peduli harus melawan siapa”, kata Janne Andersson di media Guardian. Lawan mereka Inggris yang baru saja mengusir kutukan penalti.

Khalayak Swedia bergembira dan mengingat pencapaian timnya saat melaju ke semifinal Piala Dunia 1994 daripada Zlatan yang terus meracau bahwa Piala Dunia tanpa dirinya bukanlah Piala Dunia. “Swedia, menaklukan dunia seperti yang pernah saya lakukan”, ucap Zlatan saat dimintai tanggapannya atas pencapaian timnas Swedia. Sekali lagi, untung Janne Andersson tidak memanggil Zlatan.

Oh ya, Swedia pasca Zlatan ternyata malah lebih baik, jadi buat apa khawatir pendukung Argentina dan Portugal?

Haryo Wibisono
suka diajak ngobrol antropologi, sejarah dan jurnalistik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.