OUR NETWORK

Surga Di Bulan Ramadhan

Wacana yang tersuarakan juga beragam

Ramadan kembali menyapa. Ada rasa haru sekaligus sendu. Haru karena Tuhan masih berbaik hati memberikan umur untuk menjalani puasa. Sendu karena tahun ini harus menjalani ramadan di perantauan, Yogyakarta. Saya adalah perantau newbie, masih suka membatin dan bernostalgia akan suasana ramadan di Banjarmasin. Masih sering bingung dengan pola ibadah di tempat baru ini.

Pertama kali salat tarawih di masjid dekat kos, saya seperti main tebak-tebakan dengan sang imam. Saya memasang niat salat tarawih dua rakaat seperti yang sering saya lakukan di rumah.

Ternyata, di masjid tersebut, salat tarawih dilakukan empat rakaat. Kejadian ini terulang ketika saya memasang niat salat witir. Dengan yakin saya melafazkan niat 2 rakaat. Namun sayangnya, salat witir langsung dilakukan 3 rakaat. Sungguh, malam itu saya benar-benar merasa menjadi hamba yang gagal.

Terlepas dari kebingungan itu, masjid dan jamaahnya selalu berhasil memikat saya untuk melakukan observasi. Hawa baru seketika terasa kala kaki saya melangkah ke halaman masjid. Tidak ada sajadah yang dibiarkan tergelar tanpa empunya.

Tidak ada tasbih yang ditekan atau diputar diiringi dengan mulut yang berkomat-kamit melafalkan salawat. Yang ada hanya Alquran yang dibaca dengan pelan oleh ibu-ibu dan anak muda. Jika mereka tidak membawa Alquran dalam bentuk fisik, mereka akan membacanya lewat hp. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh anak muda.

Ibu-ibu yang cukup berumur pun membaca Alquran melalui hp. Mengoperasikan hp di masjid tidak dianggap aneh ataupun tabu di sini, karena pada umumnya memang digunakan untuk membaca Alquran. Hal yang cukup langka terjadi pada ibu-ibu di masjid tempat saya tinggal.

Wacana yang tersuarakan juga beragam. Karena jamaah masjid ini sebagian besar adalah mahasiswa seperti saya, maka topik pembicaraan yang berkembang adalah perkara kapan mudik, kapan UAS, bagaimana tugas paper yang diberikan, dan ihwal studi lainnya. Adapun topik antar ibu-ibu biasanya seputar menu makan berbuka dan sahur serta perihal penyakit. Ya, wanita memang begitu kalau sudah berkumpul, ceunah. Harap dimaklumi.

Selain itu, kesadaran memenuhi dan merapatkan shaf begitu tinggi. Mereka dengan cekatan memenuhi shaf yang masih kosong menjelang salat dimulai. Hampir tidak ada yang mager. Ibu-ibu maupun anak muda nampak dengan ikhlas berpindah posisi meski mereka sudah terlanjur nyaman ditempat sebelumnya.

Agak sedikit berbeda, di Banjarmasin, khususnya di masjid daerah tempat saya tinggal, perkara shaf perempuan selalu menarik untuk dicermati. Akan selalu ada ‘kompetisi’ menduduki shaf ternyaman. Definisi ‘nyaman’ di sini bisa berarti di dekat kipas angin, di depan, di belakang, di pojok agar bisa senderan, atau di bawah (karena masjidnya bertingkat). Menurut pengamatan saya, kompetisi antar jamaah wanita ini lumayan sengit bahkan bisa menyebabkan perselisihan kecil serta kecemburuan sosial.

Shaf dibawah biasanya dikaveling oleh orang tua dan lansia. Shaf ini memang tergolong istimewa. Di samping tak perlu lelah menaiki tangga, tempatnya tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Pokoknya, nyaman bagi orang tua. Karena tempatnya yang istimewa, tak jarang shaf ini juga ditempati oleh orang tua yang memiliki kedudukan sosial ‘istimewa’ di komplek. Secara tidak langsung, posisi shaf ini melambangkan ‘kekuasaan’.

Naik ke atas, anda akan dihadapkan dengan hawa kompetisi yang baru. Shafnya jauh lebih luas. Untuk menduduki shaf di depan, para ibu-ibu harus datang lebih awal guna mengaveling area yang mereka sukai. Cara mengavelingnya adalah dengan menghamparkan sajadah mereka sebelum jamaah lain datang, sebagai ciri bahwa tempat itu sudah taken. Sajadah itu akan terus tergelar sampai akhir ramadan. Jadi, jangan coba-coba memindahkannya jika anda ingin menjalani salat tarawih dengan damai hingga akhir.

Jika tidak ingin terlibat kompetisi mengaveling shaf ini, maka bersiaplah untuk menduduki area ‘sisa’. Shaf depan, shaf pojok, juga shaf belakang biasanya sudah dipenuhi gelaran sajadah warna-warni ketika kaki anda memasuki area masjid. Shaf tengah cenderung dihindari karena dianggap panas, jauh dari kipas angin (maklum, AC-nya belum dapat dioperasikan karena banyak ibu-ibu yang tidak kuat akan dinginnya). Kipas angin yang lumayan besarpun rupanya tak sanggup mendinginkan ruangan yang memang padat akan manusia. Solusinya, bawalah kipas sendiri.

Di sepuluh malam terakhir (malam salikur), peserta kompetisi kaveling shaf di masjid ini ternyata semakin banyak. Tidak hanya ibu-ibu, tetapi juga anak-anak hingga remaja. Mereka umumnya datang bersama genk-nya, sehingga kavelingan yang diambil jauh lebih luas. Jadi, jika anda masih tidak ikut berkompetisi, bisa dipastikan anda akan terlempar ke halaman masjid untuk menunaikan salat.

Motivasi Lain

Selain untuk menunaikan salat berjamaah serta meramaikan bulan ramadan, selidik demi selidik, ternyata ada trigger lain yang menyebabkan lonjakan jamaah di masjid tersebut. Setiap tahun, salah seorang warga di komplek ini rutin membagikan sumbangan berupa mukena, sarung, serta uang kepada jamaah di masjid itu. Hal ini sudah berlangsung kurang lebih lima tahun terakhir. Sumbangan ini biasanya memang dibagikan di sepuluh hari terakhir usai salat subuh berjamaah.

Rupanya, kabar tentang pembagian ‘bingkisan’ tersebut sudah menyebar dari mulut – ke mulut. Arkian, kaum muslim yang jarak rumahnya jauh dari masjid ikut datang untuk salat berjamaah di sepuluh hari terakhir, dengan harapan bisa mendapatkan mukena, sarung ataupun uang.

Biasanya, sejak hari ke-21 hingga ke-25, jumlah jamaah salat subuh terus membludak, hingga banyak orang yang harus salat di halaman masjid. Selalu ada perbincangan “Kok mukenanya tidak dibagi hari ini ya?”, “Jadi kapan ya kira-kira beliau membagi bingkisannya?”, “Oh, mungkin tahun ini beliau absen membagi bingkisan, kan beliau sudah pensiun.

Mungkin dananya sudah tidak ada.” Beribu tanda tanya serta asumsi menguap di udara. Mereka dilanda kegalauan.Pada titik inilah, akan terjadi seleksi alam. Jamaah tetap masjid ini tentu tak akan gugur dari seleksi. Mereka akan terus setia, meski tak ada bingkisan yang dibagikan. Tetapi, sebagian jamaah baru dengan motivasi tertentu akan gugur perlahan.

Makna Kompetisi

Kompetisi kaveling shaf di masjid ini menyajikan makna yang menarik untuk disantap. Dengan berlomba mengaveling shaf ternyaman, artinya kaum muslim di sekitar komplek semakin termotivasi untuk meningkatkan ibadah berjamaah.

Selain itu, silaturahmi dengan tetangga sekitar menjadi lebih intensif.  Masjid akhirnya menjadi wadah untuk mempererat social bounding. Adapun trigger lain seperti ingin mendapatkan bingkisan dari salah seorang warga, biarlah menjadi motivasi.

Dengan demikan, anak-anak menjadi semangat ikut berjamaah. Warga yang jarak rumahnya jauh dari masjid memperoleh pahala di setiap langkah kakinya menuju lokasi. Sang warga yang dermawan itu pun mendapat pahala yang melimpah karena berhasil memotivasi orang lain untuk salat di masjid, ditambah dengan pahala sedekahnya. Semoga kaveling shaf ini berbuah kaveling tempat di surga kelak.

Begitulah bulan ramadan. Keberkahannya selalu menjadi rebutan. Masjid akan selalu menjadi saksi bisu atas perjuangan jamaah dalam berkompetisi mendapatkanya.

Husnul Athiya merupakan alumni UIN Antasari Banjarmasin. Gadis kelahiran 21 Oktober 1994 ini sekarang sedang melanjutkan study pascasarjana di UGM jurusan Ilmu Linguistik. Gemar menulis essay dalam berbagai topik. Pecinta hujan dan aroma buku baru, Bisa ditemui di instagram @yaya_athiya

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…