Minggu, Oktober 25, 2020

Surat untuk Pram, Tentang Bangsaku

Kritik Penghentian Tugas Komisi Penanggulangan AIDS

Kasus HIV-AIDS di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan indikasi penurunan. Berdasarkan data Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia...

Menilai Kewajaran Ambisi Kekuasaan

Syahwat itu ibarat api yang selalu menyala-nyala ke atas. Dalam batas wajar, seperti api kompor, api akan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di luar batas...

Haji Dan Cara Tuhan Memperbarui Masyarakat

Dalam beberapa hari kedepan, jutuan umat Nabi Muhammad SAW akan berangkat menuju Tanah Suci guna menunaikan Ibadah haji. Ibadah ini tidak saja harus dimaknai...

Dilema Pekerja Lembaga Sosial

Segala keterbatasan memang sungguh menjadi suasana dilematis dalam menjalani hidup di situasi zaman yang serba modern saat ini. Manusia saat ini dipertontonkan dengan cepat...
Lailatun Nuzulia
Fresh Graduate Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya

Kepada Pramoedya Ananta Toer

“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Kau sudah lupa kiranya, nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah menindahkan kepentingan bangsamu” – Pramodya Ananta Toer

Begitulah kiranya salah satu kutipan yang kau tuangkan dalam bukumu yang berjudul Anak Semua Bangsa. Bangsa besar itu tak ubahnya berhati iblis, katamu. Lantas ucapku dalam hati “Kenapa harus sebenci itu, Pram? Mereka memang jauh di atas bangsamu.”

Hampir semua ilmu pengetahuan, kalau kau tahu, semua datang dari bangsa besar itu. Coba, mana ada teknologi yang digunakan dari dulu hingga sekarang datang dari bangsamu sendiri? Ilmu pengetahuan yang generasimu pelajari saat ini? Semua dari sana.

Pram, belajar banyaklah dari sana. Standar sukses kita mengacu kesana. Segala macam hal yang ada di dunia ini katakanlah, semua berporos kesana. Dari sana dan kembali kesana. Sang Occident. Betapa hebatnya tarikan bangsa itu ya? Aku tidak pernah berhenti memuja-mujanya. Membayangkan kapan bangsaku akan seperti mereka keadaannya.

Tapi Pram, tepat saat aku mencapai klimaks mengagungkan Sang Barat, seketika aku merasa merendahkan diriku sendiri dalam keadaan serendah-rendahnya. Bagaimana bisa aku mengagungkan mereka yang menganggap bangsaku, bangsa kita, sebagai subordinasi? Yang lebih rendah dari mereka? Yang bar-bar? Yang tidak rasional?

Apalagi saat aku mencoba menelisik lebih jauh, pada awal abad 19 lalu para ilmuwan Sosiologi dan Antropologi dari bangsa besar itu mengkategorisasi dunia ini dalam oposisi biner. Mereka, bangsa barat dianggap civilized (re: beradab), dan kita dianggap uncivilized. Arogan sekali. Leluhurku dianggap tidak beradab, Pram.

Mencoba untuk menyelesaikan itu, Sang Barat dengan kemurahan dan kerasionalannya datang untuk membentuk “per-adab-an” di bangsa kita ini. Mengajak berdagang, mengajarkan banyak ilmu pengetahuan, membentuk nilai dan aturan baru yang menurut mereka benar dan berakhir dengan menggerogoti segala macam yang kita miliki. Yang paling menyebalkan adalah mereka tidak mau pergi. Ah, kau pasti sudah paham benar soal ini.

Oh iya, aku teringat kakek buyutku pernah bercerita padaku bahwa ia tidak berani berjalan berpapasan dengan “pendatang” itu. Dia lebih memilih untuk menempuh jalan yang 3x lebih jauh daripada harus bertemu dengan orang-orang besar itu. Miris sekali aku mendengarnya. Jangankan mendongakkan dagunya, bertatap saja tak berani, Pram. Apa itu juga pernah kau lihat dan rasakan?

Jika iya, aku akan menjadi orang pertama yang ikut terbakar kemarahan bersamamu. Menjadi yang terinjak dan memilih untuk mengalah saja bukan tipikal aku banget, lho. Sama sepertimu kan?

Pramoedya yang aku kagumi,

Akan kuberikan sedikit kabar gembira untukmu. Kita hidup dizaman yang berbeda Pram kau tahu. Aku hidup dimasa Sang Barat sudah tak bertingkah banyak di tanahku, tanah kita. Orang-orang kita sudah berani untuk mendongak saat bertemu mereka. Bahkan bangsamu ini sudah bekerjasama dalam berbagai hal. Kerja sama ekonomi, politik, budaya maupun militer sudah dilahap semua.

Ingat Pram, bekerja sama, bukan memberikan bantuan. Kita sudah dianggap memiliki derajat yang sama. Bukankah ide itu yang kau perjuangkan waktu itu? Selamat.

Tapi, Pram. Maaf jika kabar baik itu harus ku kubur lagi dengan kabar buruk ini. Aku tidak tahan menyimpannya sendiri. Aku ingin menumpahkan semuanya, dan yang kuanggap pantas mendengarnya hanyalah kau. Hari ini, bangsamu memang tidak dijajah oleh bangsa ke-barat itu. Hari ini, tepat saat aku menulis surat ini bangsamu tengah dijajah oleh bangsamu sendiri. Kau paham maksudku, Pram?

Ya, bangsamu yang sudah merdeka dan berdiri dengan kakinya sendiri ini sedang melolong merasakan sakit. Bangsamu sedang salah paham. Ia menganggap bahwa kaki adalah organ tubuh yang paling berarti. Tidak peduli dengan perut buncit tanda sejahtera atau rambut yang beruban tanda sudah bertahan hidup sampai tua.

Pram, kau tahu, kedua kaki bangsamu saling menendang satu dengan yang lain hingga berdarah-darah dan lumpuh. Kau tahu alasannya? Hanya karena satu kaki merasa kuat untuk berdiri sendiri tanpa bantuan kaki yang lain. Lucunya fikiran setidakrasional ini dimiliki oleh kedua kaki. Alih-alih membujuk agar tidak lelah sendiri, mereka bertarung, mempengaruhi telapak tangan dan sikut untuk memenangkan pertarungan tidak masuk akal ini. Ku ulangi lagi, bangsamu sedang salah paham, Pram.

Pramoedya yang aku kagumi..

Seandainya kau belum meninggalkan bangsa ini, tentu aku akan berlari mencarimu dan berusaha keras meluruskan ini. Meluruskan semuanya. Membuka mata mereka sampai pedih. Bahwasannya bangsa yang mapan dan dilukai diri sendiri adalah hal yang paling memalukan dimuka bumi. Segala macam yang mereka rebutkan saat ini hanya akan berakhir pada ketersia-siaan tanpa dukungan satu diantaranya. Pertarungkan dua kaki ini hanya akan menghancurkan tubuh mereka sendiri hingga runyam. Membusuk. Lalu pantas dikubur didekat bak sampah.

Terakhir..

Maafkan jika aku belum bisa banyak memberikan inspirasi dan mengisi penuh otak-otak kosong dengan karya seperti dirimu. Memahamkan mereka yang gagal paham mengenai bangsa ini. Yang memenjarakan diri sendiri dalam keadaan yang sudah merdeka kini. Akan aku balas pertarungan ini saat aku sudah matang nanti, Pram. Tunggulah suratku untuk menyampaikan kabar itu.

Salam,

Yang selalu mengagumimu

Nuzulia.

 

Lailatun Nuzulia
Fresh Graduate Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.