Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Surat untuk Bang Anies

3 Alasan Kenapa Jokowi dan Prabowo Harus Sama-sama Menang

Sangat menarik mencermati tulisan yang berisi dukungan dan penolakan terhadap salah satu capres. Dan sekiranya kita adalah manusia yang beradab, maka penolakan dan dukungan...

Taatilah Hukum, Pak Rizieq Shihab Pulanglah…

Seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) sama derajatnya di mata hukum. Siapapun wajib mempertanggungjawabkan perbuatan hukumnya, baik dalam tatanan hukum positif yang berlaku di Indonesia...

Perppu Ormas dalam Negara Demokrasi

Kita pernah ada di suatu zaman dimana negara dikendalikan Pemerintahan yang terkenal otoriter. Ketika itu tidak banyak orang yang berani menolak, melawan atau menggugat...

Indonesia di Organisasi Internasional

Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan Indonesia untuk turut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini sejalan dengan...
safawi al - Jawy
membencilah dengan ilmu, mencintalah dengan ilmu maka kelak kita akan tahu layakkah kita memiliki itu. hal itu membutuhkan waktu..mereka yang ragu adalah mereka yang bekerja keras dalam berfikir.. YAKIN USAHA SAMPAI

kata” Pribumi” yang dilontarkan seketika itu meruntuhkan kekagumanku padanya. sekian lama aku bungkam, ketika AHOK harus bertarung melawan beliau di dalam pentas pemilihan Gubernur kemarin, aku mengalami dilematis, bagaimana mungkin dua tokoh idola ini meng aduk-aduk perasaanku hingga pada akhirnya ketika itu, aku memutuskan untuk enggan berkomentar apapun terhadap situasi tersebut. 

namun kali ini lain,..kata-kata Pribumi itu-terlepas bagaimana cara memandang kita terhadap term itu, bertolak belakang atau mendukung aku tidak mengambil pusing-selayaknya dan seharusnya tidak terucap darinya. dia adalah sosok intelektual, penggagas Indonesia mengajar, tokoh muda yang sudah dipercaya menjadi rektor di Universitas Paramida, sebuah universitas yang memiliki visi misi menjunjung tinggi nilai-nilai pluralitas dalam kebhinekaan. penggiat pluralis, bahkan beliau adalah tokoh liberal yang cukup diperhitungkan dan dikhawatirkan. 

ketika seseorang berbicara, apalagi seseorang intelektual sepertinya, ada konteks, kausalitas yang menyebabkan kata-kata itu terucap. walau kita bisa berdalih bahwa orang bisa-bisa saja menyebut kata itu, dan sah-sah saja hingga ada yang sampai membanding-bandingkan beberapa orang tokoh nasional pernah juga mengucapkan kata seperti itu. namun…kita berbicara konteks, pembicaraan seorang kaum intelektual, apalagi sekelas doktor. dalam konteks ini, konteks setelah seleainya pertarungan dia dengan ahok, yang notabenenya suku tiong hoa, membentuk stigma bahwa kata pribumi yang dimaksud adalah RASIS!

seolah-olah, statement tersebut merupakan   ungkapan kemenangan terhadap peperangan melawan NON Pribumi. lihatlah konteksnya.. ah…bang Anis… seandainya Alm. Cak Nur masih hidup….tentu telingamu di jewernya

safawi al - Jawy
membencilah dengan ilmu, mencintalah dengan ilmu maka kelak kita akan tahu layakkah kita memiliki itu. hal itu membutuhkan waktu..mereka yang ragu adalah mereka yang bekerja keras dalam berfikir.. YAKIN USAHA SAMPAI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.