Sabtu, Maret 6, 2021

Surat untuk Bang Anies

“Last Minute” Krisis Politik dan Krisis Demokrasi

Pendaftaran calon presiden republik Indonesia menurut tahapan pemilu akan dibuka pada tanggal 4 sampai dengan 10 Agustus 2018. Menjelang masa pendaftaran tersebut, berdasarkan kalkulasi...

Pemuda dan Kebhinnekaan

Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun bahwa bumi yang hanyalah satu, namun makhluk yang menghuni di dalamnya begitu beragam, beragam suku,...

Wajah-Wajah Kalah: Kisah Penyingkiran Masyarakat Tengger

Agaknya sulit untuk mencari periode sejarah yang pasti sebagai titik berangkat guna membedah proses-proses sosial-politik peminggiran kelompok-kelompok masyarakat adat penghayat agama leluhur. Alih-alih dari...

Sejarah Sebatas Pengakuan yang Belum Tentu Benar

Sejarah, kata orang-orang, adalah pergulatan melawan lupa. Sebuah pergulatan yang hampir setiap orang akan mengalaminya, sebab setiap saat, setiap dari kita akan senantiasa disuguhkan...
safawi al - Jawy
membencilah dengan ilmu, mencintalah dengan ilmu maka kelak kita akan tahu layakkah kita memiliki itu. hal itu membutuhkan waktu..mereka yang ragu adalah mereka yang bekerja keras dalam berfikir.. YAKIN USAHA SAMPAI

kata” Pribumi” yang dilontarkan seketika itu meruntuhkan kekagumanku padanya. sekian lama aku bungkam, ketika AHOK harus bertarung melawan beliau di dalam pentas pemilihan Gubernur kemarin, aku mengalami dilematis, bagaimana mungkin dua tokoh idola ini meng aduk-aduk perasaanku hingga pada akhirnya ketika itu, aku memutuskan untuk enggan berkomentar apapun terhadap situasi tersebut. 

namun kali ini lain,..kata-kata Pribumi itu-terlepas bagaimana cara memandang kita terhadap term itu, bertolak belakang atau mendukung aku tidak mengambil pusing-selayaknya dan seharusnya tidak terucap darinya. dia adalah sosok intelektual, penggagas Indonesia mengajar, tokoh muda yang sudah dipercaya menjadi rektor di Universitas Paramida, sebuah universitas yang memiliki visi misi menjunjung tinggi nilai-nilai pluralitas dalam kebhinekaan. penggiat pluralis, bahkan beliau adalah tokoh liberal yang cukup diperhitungkan dan dikhawatirkan. 

ketika seseorang berbicara, apalagi seseorang intelektual sepertinya, ada konteks, kausalitas yang menyebabkan kata-kata itu terucap. walau kita bisa berdalih bahwa orang bisa-bisa saja menyebut kata itu, dan sah-sah saja hingga ada yang sampai membanding-bandingkan beberapa orang tokoh nasional pernah juga mengucapkan kata seperti itu. namun…kita berbicara konteks, pembicaraan seorang kaum intelektual, apalagi sekelas doktor. dalam konteks ini, konteks setelah seleainya pertarungan dia dengan ahok, yang notabenenya suku tiong hoa, membentuk stigma bahwa kata pribumi yang dimaksud adalah RASIS!

seolah-olah, statement tersebut merupakan   ungkapan kemenangan terhadap peperangan melawan NON Pribumi. lihatlah konteksnya.. ah…bang Anis… seandainya Alm. Cak Nur masih hidup….tentu telingamu di jewernya

safawi al - Jawy
membencilah dengan ilmu, mencintalah dengan ilmu maka kelak kita akan tahu layakkah kita memiliki itu. hal itu membutuhkan waktu..mereka yang ragu adalah mereka yang bekerja keras dalam berfikir.. YAKIN USAHA SAMPAI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.