Kamis, November 26, 2020

Surat Terbuka untuk VAR di Liga Inggris

Bangsa Pembajak dari Daratan China

Produk China menguasai 27,87 persen dari total impor non-migas pada Januari hingga Mei 2018 dengan nilai 18.363,3 juta dollar AS. Nilai tersebut meningkat 18,62...

Pak Sandi, Komceko Itu Bukan KPK Loh…

Sandiaga Uno Laporkan 2 Kasus di Era Ahok ke KPK DKI Jakarta. Begitu judul berita banyak media beberapa waktu yang lalu. Awalnya saya berpikir KPK...

Beda Agama, Satu Visi Kemanusiaan

Pernah suatu ketika saya ditanya oleh seorang murid ngaji di pelosok kampung sana perihal kebaikan. Anak usia SD yang menjadi murid ngaji saya bertanya,...

Memaafkan Ratna Sarumpaet

Hari ini, jaksa membacakan tuntutan hukuman 6 tahun atas Ratna Sarumpaet (RS), perempuan berusia 70 tahun itu atas kasus menyampaikan berita bohong yang menimbulkan...
Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.

Malam itu Robert Snodgrass bak seorang pahlawan bagi kubu West Ham United lantaran ia berhasil menceploskan bola ke gawang Sheffield United yang tengah unggul 1-0 hingga menit ke-92. Semua bersorak, satu poin di depan mata, terutama mereka yang tengah away sedari London menuju Yorkshire yang berjarak cukup jauh. Pun David Moyes yang belum terkalahkan semenjak datang kembali menangani West Ham bersorak, meloncat dan meninju langit beberapa kali.

Dean Henderson, kiper Sheffield United pun bangkit dengan cepat, melihat kawan-kawannya yang berdiri menatapnya dengan lemas. Dalam perayaan gol detik akhir The Irons, julukan West Ham, Stadiun Bramall Lane pun bergemuruh: “VAR! VAR! VAR!” pihak tuan rumah menyuarakan agar wasit memeriksa gol tersebut menggunakan video assistant referee (berikutnya VAR).

Bak kado tahun baru, Michael Oliver yang bertugas sebagai pengadil lapangan saat itu pun merestui teriakan tersebut. Bramall Lane menjadi senyap, semua pemain menunggu Oliver yang memeriksa proses gol menggunakan VAR cukup lama. Hingga akhirnya ia menuju ke lapangan dan mengatakan bahwa bola terlebih dahulu mengenai tangan Declan Rice dalam melakukan build-up serangan.

Para pemain The Irons tertunduk lesu, peluit akhir berbunyi setelahnya. Ketika ditanya siapa aktor utama dalam laga tersebut, jawabannya lagi-lagi VAR!

Sebenarnya bukan kali itu saja VAR melakukan sebuah ‘dosa’ bernama hilangnya keseruan menonton sepakbola. Lawatan Man. City menuju Anfield pun serupa. Bola yang mengenai tangan bek Liverpool, tidak ada tindakan pemeriksaan menggunakan VAR. Sampai-sampai Pep Guardiola menyalami wasit sembari mengatakan kata-kata satir berupa ucapan terimakasih.

Ada lagi, yang paling unik adalah ketika Jack Grealish saat memasukan gol untuk timnya, Aston Villa, ketika melawan Burnley. VAR menganggap hal itu tidak sah karena tumit Grealish tertangkap basah melewati pagar offside para bek Burnley. Ya, dikatakan offside sih memang offside, tapi….ayolah! ini tumit. Sebuah alarm tanda bahaya untuk para bomber yang berambut lebat atau berhidung mancung.

Menggunakan VAR di Liga Inggris itu seperti menggunakan kartu AS berupa dalil-dalil Ayat Suci ketika berdebat. Hingga pada akhirnya, temanmu akan berkata, “jika debat jangan bawa-bawa agama, dong! Kan jadi gak seru!” Pun sama dengan VAR di Liga Inggris, “main bola jangan bawa-bawa VAR, dong! Kan jadi gak seru!”

Tapi, jika berbicara tentang perkembangan jaman, siapa yang bisa melawannya? Sebenarnya bukan hanya VAR produk kemajuan jaman yang telah menjajah sepakbola, ada juga satu hal yang perlahan memakan sepakbola menjadi sebuah alat yang harus selalu menguntungkan. Baik kepada si pelaku sepakbola, maupun orang-orang yang berada di belakangnya. Ya, hal ini bernama industri sepakbola.

Kan tidak bisa kita berpatokan pada sepakbola “tradisional”, di mana sepakbola dijadikan sebagai pelepas penat buruh-buruh di tanah Britania ketika jeda kerja. Semakin populer, semakin banyak pula yang melirik, pun pepatah yang mengatakan bahwa ada gula di situ pula ada semut cukup untuk menggambarkan keseluruhannya. VAR dengan dalih keadilan dan penengah dalam industri yang kian mengandalkan uang ini seakan menjadi jawaban problem kemajuan pesat sepakbola.

VAR hadir untuk mengantisipasipasi kecurangan, keberpihakan dan negtingnegting lainnya. Tentu hadirnya VAR itu sangat baik. Tapi, bercermin dalam banyaknya kejadian seperti di awal, menjadi pertanyaan besar adalah kapan VAR bisa digunakan? Apa syarat-syarat wasit menggunakan VAR? Kan tidak elok ketika handball terjadi lima sampai sepuluh detik sebelum terjadinya gol, yang dianulir malah golnya.

Nah, sedang di olahraga lain, teknologi sudah berteman akrab dalam membantu mempermudah jalannya sebuah olahraga. Contohnya bisbol, dengan hadirnya pistol radar kita bisa mencatat kecepatan bola yang dipukul. Juga adanya kamera di atas gawang hoki es. Hal ini mempermudah ketika menentukan gol atau tidaknya dalam situasi yang serba cepat dan biasanya para pemain yang mengerumuni gawang.

Ada juga yang mirip-mirip dengan VAR, yakni eagle eye yang diberlakukan dalam cabor bulu tangkis. Tepatnya pada Malaysia Open edisi 2013 yang menempatkan delapan kamera di sepenjuru lapangan. Para pemain diberi dua kesempatan di tiap babak untuk menggunakan keuntungan ini dengan cara mengangkat tangan dan berkata “challenge” kepada Umpire. Jika challenge dinyatakan berhasil, maka kesempatan pada babak itu masih 2 dan jika gagal, maka kesempatan melakukan challenge berkurang.

Akan menjadi adil, tidak akan ada tuduh-tuduhan, jika kesempatan melakukan VAR itu dilakukan oleh pihak yang bersangkutan. Misalkan Pep Guardiola merasa bahwa Joe Gomez melakukan handball, maka ia tinggal mengangkat tangan dan meminta challenge kepada wasit. Nah, kesempatan tiap babak hanya ada dua, jika challenge yang dilakukan Pep itu gagal, maka kesempatan melakukan challenge dari pihak Man. City di babak pertama tinggal satu.

Tinggal diperjelas, siapakah yang berhak meminta challenge berupa VAR kepada wasit. Kandidat terbaik tentu saja kapten, ia adalah mulut rekan-rekannya. Sedang yang merasa atau melihat pemain lawan rasanya melakukan handball atau offside adalah para pemain di lapangan dan sang kapten adalah kepanjangan tangan mereka. Atau pelatih, sang nahkoda, juru selamat dan terkadang merekalah yang marah-marah dan bisa melancarkan protes langsung kepada asisten wasit.

VAR di Liga Inggris adalah sesuatu yang sangat genting. Karena jika VAR tidak diperjelas fungsi dan penerapannya, apa bedanya dengan tanpa VAR? Tetap masih ada olok-olok tim yang diuntungkan VAR itu nyogok wasit lah, main uang lah, itu lah ini lah dan rasan-rasanan lainnya. Dengan adanya VAR atau tidak, selama tidak diperjelas fungsinya, sama saja.

Dan menggunakan konsep challenge dalam bulu tangkis bisa dijadikan sebagai jawaban. Ya, setidaknya salah satu upaya. Sedang upaya lainnya adalah menghapus VAR seutuhnya dalam sepakbola.

Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.