Minggu, Februari 28, 2021

Surat Terbuka untuk VAR di Liga Inggris

Pesta Demokrasi Bukan Pesta Koruptor

"Memang masih bisa maju, tapi kan pasti kalah," begitu Sekjen PAN Eddy Soeparno mengomentari peluang Asrun dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara (Koran Tempo 2/3/2018)....

Apa Kabar Reformasi Ekonomi Indonesia?

Bulan Mei tahun 2018 ini genap 20 tahun sebuah era yang seringkali disebut dengan era reformasi, yang dimulai dari tanggal 21 Mei 1998 pada...

El Hombre de Las Mil Caras, Parodi Politik di Film Spanyol

Perkenalkan, "El Hombre de Las Mil Caras". Itu adalah film bajigur asal Spanyol. Berkisah tentang seseorang yang mempecundangi seluruh negeri. Si penipu ulung. Tokoh...

Natal dan Teologi Ibu

Perayaan Natal tiap tahun dirayakan sebagian besar umat Nasrani di seluruh dunia, khususnya di Indonesia menandakan bahwa suasana keberagaman kita masih ada. Dirayakan sebagian...
Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.

Malam itu Robert Snodgrass bak seorang pahlawan bagi kubu West Ham United lantaran ia berhasil menceploskan bola ke gawang Sheffield United yang tengah unggul 1-0 hingga menit ke-92. Semua bersorak, satu poin di depan mata, terutama mereka yang tengah away sedari London menuju Yorkshire yang berjarak cukup jauh. Pun David Moyes yang belum terkalahkan semenjak datang kembali menangani West Ham bersorak, meloncat dan meninju langit beberapa kali.

Dean Henderson, kiper Sheffield United pun bangkit dengan cepat, melihat kawan-kawannya yang berdiri menatapnya dengan lemas. Dalam perayaan gol detik akhir The Irons, julukan West Ham, Stadiun Bramall Lane pun bergemuruh: “VAR! VAR! VAR!” pihak tuan rumah menyuarakan agar wasit memeriksa gol tersebut menggunakan video assistant referee (berikutnya VAR).

Bak kado tahun baru, Michael Oliver yang bertugas sebagai pengadil lapangan saat itu pun merestui teriakan tersebut. Bramall Lane menjadi senyap, semua pemain menunggu Oliver yang memeriksa proses gol menggunakan VAR cukup lama. Hingga akhirnya ia menuju ke lapangan dan mengatakan bahwa bola terlebih dahulu mengenai tangan Declan Rice dalam melakukan build-up serangan.

Para pemain The Irons tertunduk lesu, peluit akhir berbunyi setelahnya. Ketika ditanya siapa aktor utama dalam laga tersebut, jawabannya lagi-lagi VAR!

Sebenarnya bukan kali itu saja VAR melakukan sebuah ‘dosa’ bernama hilangnya keseruan menonton sepakbola. Lawatan Man. City menuju Anfield pun serupa. Bola yang mengenai tangan bek Liverpool, tidak ada tindakan pemeriksaan menggunakan VAR. Sampai-sampai Pep Guardiola menyalami wasit sembari mengatakan kata-kata satir berupa ucapan terimakasih.

Ada lagi, yang paling unik adalah ketika Jack Grealish saat memasukan gol untuk timnya, Aston Villa, ketika melawan Burnley. VAR menganggap hal itu tidak sah karena tumit Grealish tertangkap basah melewati pagar offside para bek Burnley. Ya, dikatakan offside sih memang offside, tapi….ayolah! ini tumit. Sebuah alarm tanda bahaya untuk para bomber yang berambut lebat atau berhidung mancung.

Menggunakan VAR di Liga Inggris itu seperti menggunakan kartu AS berupa dalil-dalil Ayat Suci ketika berdebat. Hingga pada akhirnya, temanmu akan berkata, “jika debat jangan bawa-bawa agama, dong! Kan jadi gak seru!” Pun sama dengan VAR di Liga Inggris, “main bola jangan bawa-bawa VAR, dong! Kan jadi gak seru!”

Tapi, jika berbicara tentang perkembangan jaman, siapa yang bisa melawannya? Sebenarnya bukan hanya VAR produk kemajuan jaman yang telah menjajah sepakbola, ada juga satu hal yang perlahan memakan sepakbola menjadi sebuah alat yang harus selalu menguntungkan. Baik kepada si pelaku sepakbola, maupun orang-orang yang berada di belakangnya. Ya, hal ini bernama industri sepakbola.

Kan tidak bisa kita berpatokan pada sepakbola “tradisional”, di mana sepakbola dijadikan sebagai pelepas penat buruh-buruh di tanah Britania ketika jeda kerja. Semakin populer, semakin banyak pula yang melirik, pun pepatah yang mengatakan bahwa ada gula di situ pula ada semut cukup untuk menggambarkan keseluruhannya. VAR dengan dalih keadilan dan penengah dalam industri yang kian mengandalkan uang ini seakan menjadi jawaban problem kemajuan pesat sepakbola.

VAR hadir untuk mengantisipasipasi kecurangan, keberpihakan dan negtingnegting lainnya. Tentu hadirnya VAR itu sangat baik. Tapi, bercermin dalam banyaknya kejadian seperti di awal, menjadi pertanyaan besar adalah kapan VAR bisa digunakan? Apa syarat-syarat wasit menggunakan VAR? Kan tidak elok ketika handball terjadi lima sampai sepuluh detik sebelum terjadinya gol, yang dianulir malah golnya.

Nah, sedang di olahraga lain, teknologi sudah berteman akrab dalam membantu mempermudah jalannya sebuah olahraga. Contohnya bisbol, dengan hadirnya pistol radar kita bisa mencatat kecepatan bola yang dipukul. Juga adanya kamera di atas gawang hoki es. Hal ini mempermudah ketika menentukan gol atau tidaknya dalam situasi yang serba cepat dan biasanya para pemain yang mengerumuni gawang.

Ada juga yang mirip-mirip dengan VAR, yakni eagle eye yang diberlakukan dalam cabor bulu tangkis. Tepatnya pada Malaysia Open edisi 2013 yang menempatkan delapan kamera di sepenjuru lapangan. Para pemain diberi dua kesempatan di tiap babak untuk menggunakan keuntungan ini dengan cara mengangkat tangan dan berkata “challenge” kepada Umpire. Jika challenge dinyatakan berhasil, maka kesempatan pada babak itu masih 2 dan jika gagal, maka kesempatan melakukan challenge berkurang.

Akan menjadi adil, tidak akan ada tuduh-tuduhan, jika kesempatan melakukan VAR itu dilakukan oleh pihak yang bersangkutan. Misalkan Pep Guardiola merasa bahwa Joe Gomez melakukan handball, maka ia tinggal mengangkat tangan dan meminta challenge kepada wasit. Nah, kesempatan tiap babak hanya ada dua, jika challenge yang dilakukan Pep itu gagal, maka kesempatan melakukan challenge dari pihak Man. City di babak pertama tinggal satu.

Tinggal diperjelas, siapakah yang berhak meminta challenge berupa VAR kepada wasit. Kandidat terbaik tentu saja kapten, ia adalah mulut rekan-rekannya. Sedang yang merasa atau melihat pemain lawan rasanya melakukan handball atau offside adalah para pemain di lapangan dan sang kapten adalah kepanjangan tangan mereka. Atau pelatih, sang nahkoda, juru selamat dan terkadang merekalah yang marah-marah dan bisa melancarkan protes langsung kepada asisten wasit.

VAR di Liga Inggris adalah sesuatu yang sangat genting. Karena jika VAR tidak diperjelas fungsi dan penerapannya, apa bedanya dengan tanpa VAR? Tetap masih ada olok-olok tim yang diuntungkan VAR itu nyogok wasit lah, main uang lah, itu lah ini lah dan rasan-rasanan lainnya. Dengan adanya VAR atau tidak, selama tidak diperjelas fungsinya, sama saja.

Dan menggunakan konsep challenge dalam bulu tangkis bisa dijadikan sebagai jawaban. Ya, setidaknya salah satu upaya. Sedang upaya lainnya adalah menghapus VAR seutuhnya dalam sepakbola.

Gusti Aditya Suprihana
Pecinta sepakbola, terutama sepakbola Asia Tenggara. Berusaha mengarsipkan segenap kultur dan sub-kultur sepakbola di Asia Tenggara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.