OUR NETWORK

Surat Terbuka untuk Romo Franz Magnis-Suseno

Yang sangat saya kasihi, Romo Franz Magnis-Suseno, di manapun Romo berada kini. 

Sudah sejak SMA, saya membaca tulisan-tulisan Romo, baik dalam buku Romo maupun yang dimuat di koran atau majalah. Saat kuliah, puji Tuhan, saya berkesempatan bertemu langsung Romo. Saat itu, 19 September 2015, Romo menjadi pembicara dalam Seminar Nasional ‘Mengenang 50 Tahun Pembantaian Massal 1965-1966 di Indonesia’, di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, bersama Pastor John Prior, dosen di kampus kami itu.

Saya ingat baik waktu itu, Romo katakan, kampus kami, di sudut Flores ini, adalah yang paling pertama menggelar seminar ilmiah mengenang 50 tahun peristiwa tragis 65-66 itu. Sungguh, sebagai mahasiswa aktif waktu itu, saya bangga bukan main.

Cukup begini saja, pengantar awal saya, Romo. Saya yakin, Romo tetap tidak akan ingat saya. Kendati begitu, Romo tetap tokoh teladan bagi saya pribadi. Mengutip tulisan dalam buku Romo, atau bawa-bawa nama Romo dalam diskusi, kuliah, atau obrolan santai sambil ngopi lainnya, sungguh akan membuat saya merasa begitu keren. Maklum, perasaan wong cilik.

Romo yang baik. Masih Romo ingat, apa pernyataan Romo menjelang Pilpres 2014 dulu? Ah, pertanyaan ini aneh, karena tentu ada banyak sekali pernyataan Romo, kala itu. Maksud saya, pernyataan yang viral itu, yang telah jadi quote terkenal itu. Hmm.. daripada lama, saya lampirkan saja.

“Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik

tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.”

Tentu Romo sudah ingat dan mungkin langsung berujar, “Yaaaa, saya ingat.” Dengan suara Romo yang tenang, berat, juga sejuk itu. Atau malah sebaliknya, “Itu bukan pernyataan saya!”, juga dengan tenang tapi tegas. Saya yakin yang pertama, “Yaaaa, saya ingat.” Soalnya, sudah viral dan dipakai di mana-mana loh, Mo.

Sekitar akhir 2015, pernyataan Romo itu mulai mengganggu saya. Makin lama, makin sangat mengganggu, malah. Rencana untuk membuat semacam tanggapan kecil, sudah mulai pada awal 2016, tapi, terus tertunda oleh sebab berbagai faktor. Menjadi jelas, butuh waktu sangat lama, dengan referensi yang juga mesti banyak, untuk membuat tanggapan atas penyataan seorang Profesor hebat di Negeri ini. Profesor serentak pastor Katolik, panutanqu. Setelah 5 tahun, barulah saya berani dan selesai membuat tanggapan. Tanggapan itu saya lampirkan dalam Surat Terbuka ini.

Romo yang baik.

Pertama, saya sangat terganggu, persis pada ini: “Pemilu bukan untuk MEMILIH ….. tapi untuk MENCEGAH …..” Hampir semua kita sudah tahu, Pemilu itu singkatan dari pemilihan umum. Dalam artian lurus ini, pernyataan Romo itu kontradiktif dalam dirinya sendiri. Kok pemilu bukan untuk MEMILIH tapi untuk MENCEGAH?

Bagaimana kalau saya usul, pernyataan itu diganti: “Pencu bukan untuk MEMILIH …. tapi untuk MENCEGAH ….” Pencu di sini, Pencegahan Umum. Tapi, saya paham kok, konteks penyataan Romo ini. Yang Romo maksudkan waktu itu ialah, maaf, mencegah Prabowo berkuasa, yang mana kita tahu, lawan Jokowi di 2014 itu pernah terlibat dalam kejahatan kemanusiaan. Pemilu itu mencegah yang terburuk berkuasa, antara Jokowi dan Prabowo, saya paham maksudnya.

Namun, Romo, kedua, saya juga keberatan, kalau merujuk pada konteks ini. Pernyataan Romo ini adalah pukulan. Kita tahu, siapa pun yang maju menjadi calon Presiden, itu sudah tentu putri/putra terbaik Bangsa ini. Kita harus tetap memilih yang terbaik, Romo. Bukan memilih yang terbaik tapi mencegah yang terburuk berkuasa, itu berarti Jokowi-Prabowo itu buruk, dan Prabowo paling buruk dari keduanya yang harus dicegah untuk tidak boleh berkuasa.

Bagaimana misalnya pernyataan ini diuji ke hadapan masing-masing tim sukses di 2014 lalu? Bukankah para pengusung, tim sukses, relawan, dan pendukung lainnya dari dua kubu ini tetap harus tegas mengatakan bahwa junjungan mereka itulah yang terbaik? Saya ragukan antropologi yang Romo anut, ragukan cara Romo melihat calon-calon orang nomor 1 di Negeri ini.

Nah, persis pada Pilpres 2014, Prabowo kalah. Kalau tuduhan saya sebelumnya salah, bahwa mencegah yang terburuk yang Romo maksudkan ialah mencegah Prabowo berkuasa, apakah setelah melihat hasil Pilpres terakhir kali lalu, tuduhan saya itu dibenarkan? Kalau benar, berarti partai pengusung, tim sukses, relawan, dan loyalis Jokowi, jangan bangga dulu, dong.

Pilpres 2014 itu bukan memilih Jokowi, tapi mencegah Prabowo doang. Benar begitu, Romo? Tapi, lagi-lagi saya kurang sepakat. Pemilu adalah untuk memilih yang baik atau terbaik dan mencegah yang buruk atau terburuk berkuasa. Sebaiknya dirumuskan begitu.

Ketiga, penyataan di 2014 itu, saya pakai untuk konteks Pilpres 2019 ini. Untuk Pilpres 2019, penyataan Romo itu baru saya terima. Memang, setalah melihat sejumlah fakta belakangan ini, bagi orang kritis, sebetulnya tidak ada opsi dalam Pilpres 2019. Opsi hanya milik mereka yang tamak dan mau agar kepentingannya tetap terjamin. Iya, mereka, Cebong dan Kampret.

Bahwa kemudian Pilpres 2019 adalah bukan memilih untuk yang terbaik tapi mencegah yang terburuk berkuasa, itu baru tepat. Memang tidak ada yang terbaik atau baik, dalam Pilpres mendatang. Yang ada hanyalah yang buruk dan terburuk, sebagaimana Romo maksudkan di 2014 lalu. Pilpres 2019 adalah memilih yang buruk dan mencegah yang terburuk berkuasa, disederhanakan begitu saja. Meski sekali lagi, bagi orang kritis, tidak ada pilihan untuk buruk dan terburuk!

Sekian poin-poin yang mau saya sampaikan dalam Surat Terbuka ini, Romo. Semoga Romo berkenan membaca dan bila mungkin, membalasnya. Sehat selalu, Romo, salam sejahtera.***

Freelancer dan relawan sosial siap pakai. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero. Tinggal di Bajawa, Flores, NTT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.