Sabtu, Maret 6, 2021

Surat Sederhana untuk Para Tokoh-Tokoh Politik

PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan dan Ketidakadilan Hukum

Masyarakat tak begitu terkejut ketika Hakim Agung Artidjo Alkostar yang memimpin sidang peninjauan kembali (PK) mantan Gubernur Jakarta Ahok, mengetok palu usai memutuskan PK...

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Kutukan Wiji Thukul yang Masih Bergentayangan

Ia berteriak lantang, "Hanya satu kata: Lawan!" Teriakannya itu diikuti oleh barisan-barisan di belakangnya bahkan termasuk anak-anak yang belum lahir saat ia meneriakkan kalimat...

Suporter Indonesia dan Malaysia, Tolong Berdamailah!

Pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 sekaligus Piala Asia 2023 masih menyisakan kisah tragis. Kali ini bukan membahas seputar blunder ala Yanto Basna ataupun Kekalahan...
Muhammad Najib Murobbi
Alumni Universitas Islam Indonesia, Mahasiswa Ma'had Aly Krapyak Yogyakarta & Pascasarjana Universitas Indonesia

Aku kira sehabis pasca pencoblosan pilpres dan pileg masa keributan akan selesai dengan damai. Baik diranah sosial media dan dunia nyata. Keributan yang selalu dilakukan dari beberapa pihak dengan mengatasnamakan keadilan namun caranya salah, walaupun di mata mereka benar. Yang penting menang apapaun itu caranya.

Makar, teriak dengan lantang hingga al-Qur’an dijadikan alat untuk sumpah-sumpahan. Dan yang ada dipikaranku; bagaimana ada orang-orang yang tidak sedikit jumlahnya percaya dan menjadikan orang itu sebagai panutan. Kok bisa! Akibatnya yang sudah panas malah semakin panas.

Yang retak malah menjadi patah. Dan hal-hal ini bisa kita lihat salah satunya di media sosial. Orang berkomentar tidak dengan adab dan sopan santun bahkan kata-kata kotor diutarakan dengan lantang. Dalam media sosial orang bisa menjadi ahli apasaja termasuk ahli dalam berkomentar.

Tetapi disisi lain aku bersyukur masa-masa perhitungan pilpres dan pileg masih berjalan dengan baik dan kolektif. Dan yang terpenting berada pada jalur bulan suci ramadhan. Harapannya berkat ramadhan nuansa dan suasana menjadi lebih tentram. Semisal para tokoh bersilaturahim ramah tamah.

Dalam kitab jawamiul kalim karya K.H Ali Maksum krapyak tertulis hadist:

صل من قطعك وأحسن إلى من أساء اليك وقل الحق ولو على نفسك

“Sambunglah silaturrahim kepada orang yang memutuskanmu dan berbuat baiklah kepada orang yang berprilaku buruk kepadamu dan katakanlah kebenaran walaupun terhadap dirimu sendiri.”

Islam mengajarkan kepada kita semua untuk bersilaturahim, bahkan kepada orang memutuskan hubungan dengan kita. Tidak sampai disitu, islam mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita. Serta berani berbicara kebenaran terhadap diri sendiri. Dalam qaidah lain dikatakan katakanlah kebenaran walaupun itu pahit.

Jika berbuat baik terhadap orang yang baik terhadap kita itu adalah hal yang wajar. Tapi jika orang itu berbuat buruk lalu kita berbuat baik. Disinilah sebenarnya letak keindahan islam dalam beragama. Tidak sedikit dari kita yang merasa canggung dan sulit melakukan hal semacam itu. Seperti melangkah kedapan tapi kita tahu bahwa didepan jalan ada duri yang harus kita lompati.

Seperti kisah Nabi Muhamad SAW menyuapi seorang Yahudi pengemis buta yang sangat membencinya. Disalah satu sudut kota Madinah terdapat seorang pengemis yang selalu berpesan kepada orang yang menghampirinya, “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir.”

Suatu ketika saat sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq datang menemuinya dan melakukan apa yang selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pengemis buta itu murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu? Engkau bukan orang biasa datang menyuapiku dengan lembut.” Hingga akhirnya sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq bercerita bahwa orang yang sering menghampiri dan menyuapainya telah tiada. Dia Nabi Muhammad SAW. Pengemis buta ini menangis hingga akhirnya ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dalam hadist lain dikatakan:

ما من مسلمين يلتقيان فيتصفحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا (رواه أبو داود)

“Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.”  (H.R Abu Dawud)

Jadi sudah sepatutnya kita semua, terkhusus para tokoh-tokoh yang menyelam dalam dunia pilpres dan pilpeg sebaiknya bertamu dan bertemu satu sama lain. Tidak ada ruginya dan hilangkan rasa benci, sok-sokan serta ingin dimuliakan terlebih dulu.

Segala sesuatu lebih baik jika kita memulai pada diri sendiri dan yakinlah jika para tokoh-tokoh sudah betamu bertemu masyarakat akan lebih tentam dan tenang hingga menunggu keputusan siapa orang yang akan memipin Indonesia 5 tahun kedepan. Dan yang terpenting adalah persatuan Indonesia sebagaimana tertulis dalam sila ketiga.

Muhammad Najib Murobbi
Alumni Universitas Islam Indonesia, Mahasiswa Ma'had Aly Krapyak Yogyakarta & Pascasarjana Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.