Rabu, Desember 2, 2020

Suporter Indonesia dan Malaysia, Tolong Berdamailah!

Pemotongan Salib di Yogyakarta, Hasil Politik SARA?

Tentu sebagian besar dari kita pernah mendengar salah satu kalimat legendaris dari seorang Gusdur yang berbunyi seperti ini “Tidak penting apa pun agama atau...

Diskusi Green Millenials GeoInstitute dan FKIP Uhamka

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) gelar diskusi lingkungan hidup bertema Gaya Hidup Go Green, Green Millenials, di...

Menemukan Jejak Filsafat Pendidikan Islam

Sistem pendidikan nasional kita masih centang perenang. Haidar Bagir melalui buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia (2019) menunjukkan adanya kerancuan hakikat, sistem, dan tujuan pendidikan kita....

Persatuan Sebagai Manifestasi Sumpah Pemuda

Semangat persatuan pemuda menjadi kekuatan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Delapan puluh sembilan tahun yang lalu menjadi peristiwa yang perlu direfleksikan bersama oleh para pemuda...
Aditya Mahyudi
Penulis Lepas di berbagai Media dan Alumni Unikom.

Pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 sekaligus Piala Asia 2023 masih menyisakan kisah tragis. Kali ini bukan membahas seputar blunder ala Yanto Basna ataupun Kekalahan Indonesia atas Malaysia selama 2 periode berturut-turut.

Permasalahan utama sesungguhnya terletak pada ulah oknum suporter Malaysia yang tak sengaja melemparkan flare ke arah penonton Indonesia. Pada awalnya tindakan ini adalah hal sepele namun dikarenakan salah satu Suporter Indonesia mengalami luka berat maka terjadilah perang yang tak terhindarkan yaitu tawuran antar suporter.

Saking tidak mau kalah, suporter Indonesia yang awalnya ingin menonton pertandingan dengan damai mulai terpancing emosi yaitu melancarkan serangan balasan pada suporter Malaysia sebagai tanda solidaritas.

Di sisi lain, oknum suporter Malaysia justru malah mengajak penonton lain untuk ikut tawuran bersama-sama demi menjaga kehormatan Harimau Malaya. Akibatnya, suasana pertandingan yang diharapkan berjalan sportif malah berujung menjadi ajang balas dendam sehingga menyaksikan pertandingan saja seperti melihat tinju.

Kerugian ini bukan hanya mencoreng sepak bola kedua negara saja melainkan berimbas pada hubungan Indonesia dan Malaysia yang malah semakin memburuk hanya gara-gara ulah kedua suporter yang sudah kelewat batas.

Padahal perbuatan yang mereka lakukan baik suporter Indonesia maupun Malaysia nyatanya malah mencederai nilai-nilai sportivitas olahraga. Bukan hanya itu, mereka terancam sanksi FIFA apabila tidak berakhir damai. Para hadirin sekalian, jangan ditiru perbuatan mereka ya soalnya nanti malah berujung kurungan penjara!

Tidak hanya terjadi di dalam lapangan, kejadian di luar lapangan pun tidak kalah hebohnya. Kasus perampokan di Bukit Bintang Kuala Lumpur adalah bukti kuat bahwa kekerasan bisa terjadi dimana saja.

Salah suporter Indonesia yang bernama Fuad Naji mengaku pernah menjadi korban intimidasi oleh suporter Malaysia. Akibatnya barang-barang penting seperti Dompet dan Passport pun mulai dijarah oleh mereka dengan paksa. Hasilnya adalah dia kesulitan dalam mencari jalan pulang dan mulai hidup terlunta-lunta.

Belajar dari kasus tersebut, suporter itu semestinya diperlakukan seperti sahabat dan bukannya dianggap sebagai musuh apalagi pelaku kriminal. Kalau begini caranya sampai kapan permusuhan mereka benar-benar berakhir?

Berbicara tentang sejarah, peristiwa perseteruan Suporter antara Indonesia dan Malaysia ternyata sudah berlangsung dari era Bung Karno. Teriakan seperti Ganyang Malaysia hingga Garuda di Dadaku selalu digaungkan oleh suporter demi memanaskan atmosfer pertandingan Indonesia melawan Malaysia. Alih-alih menontonnya lewat televisi, Saat itu belum lengkap rasanya jika tidak menonton pertandingan antara Indonesia dan Malaysia secara langsung di stadion.

Kesamaan budaya, bahasa, dan menjadi alasan kuat mengapa kita pantang untuk melewatkannya sekalipun. Rahasianya adalah pertandingan tersebut sangatlah sarat akan gengsi dan menontonnya seakan tidak ada bosannya sampai kapanpun.

Sebagai perwakilan Asia Tenggara, mereka diharapkan bisa bermain di Piala Dunia dan syukur-syukur bisa meraih gelar juara walaupun langkah mereka terbilang sulit. Harapannya mereka bisa menaklukan tim-tim kelas dunia agar mampu mencetak sejarah di persepakbolaan dunia.

Kalau pertandingan Indonesia melawan Malaysia dulu berjalan indah dan aman tenteram. Sekarang yang ada justru malah berjalan sebaliknya. Masih ingatkah anda pada momen Final AFF 2010 dimana pertandingan tersebut disinyalir pernah disebut sebagai pengaturan skor?

Semua bermula dari pemain Indonesia yang dituduh bermain tidak seperti biasanya. Performa mereka justru tidak seperti bermain di penyisihan grup bahkan mereka malah tampil loyo saat menjamu Malaysia di Bukit Jalil.

Secara teori, ada yang bilang permainan Indonesia menurun karena kehadiran laser oleh Suporter Timnas Malaysia yang mengenai mata Markus saat tendangan bebas. Sebagian lagi ada yang menyebut kehadiran pejabat PSSI di ruang ganti pemain disebut-sebut sebagai penyebab Indonesia meraih kekalahan telak.

Dari berbagai fakta yang ada, tidak ada satupun bukti yang sama sekali valid bahkan AFC saja hanya mengetahui insiden laser saja ketimbang mengusut kasus sampai tuntas. Salah satu acara televisi swasta yaitu Mata Najwa pernah menginvestigasi kasus tersebut.

Dimulai dari Pemain hingga Ofisial semua ditanyakan satu persatu mengenai kejadian sesungguhnya di AFF 2010. Namun takdir berkata lain yaitu pelakunya belum ditemukan dan tidak ada yang mengakui kejadian tersebut secara terang-terangan alias hasilnya nihil. Jadi, isu pengaturan skor pada Final AFF 2010 masih menjadi misteri hingga kini.

Perseteruan suporter antara Indonesia dan Malaysia itu sebenarnya adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Mau hasilnya berakhir kalah, imbang, ataupun menang, menonton pertandingan itu seharusnya dilakukan dengan adil dan jangan sampai ada korban yang berjatuhan.

Andaikan ada salah satu suporter baik Indonesia maupun Malaysia yang terluka, bantulah mereka dengan menolongnya ke rumah sakit tanpa pamrih. Selain itu, perlakukan mereka layaknya sahabat yang dimulai dari bergandengan tangan dengan percaya diri demi menjaga persahabatan untuk selamanya.

Apapun yang terjadi, semangat fairplay tidak harus lewat slogan melainkan harus dijunjung tinggi dan diterapkan dimana saja. Kepada suporter Indonesia dan Malaysia, kalian bisa menonton pertandingan bersama-sama biar lebih akur tanpa adanya perbedaan dan kalian harus selalu utamakan semangat persatuan dengan indah dan damai. Ingatlah, Indonesia dan Malaysia itu adalah negara serumpun dan harus mendukung satu sama lain.

Jangan sampai ada permusuhan di antara mereka walau dalam hal sekecil apapun.

Salam perdamaian Indonesia Malaysia!

Aditya Mahyudi
Penulis Lepas di berbagai Media dan Alumni Unikom.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.