Minggu, Maret 7, 2021

Superhero Barat Bukan Teladan Kemerdekaan Kita

Disinformasi Sebagai Destruksi

Hoaks, yang kadang dikemas seolah tindakan politik oposisional, silih berganti menghasilkan gejolak sosial. Tidak berhasil menggerus dukungan lawan, penyebarluasan hoaks potensial mendelegitimasi Pemilu. Penyebarluasan...

Lari Zohri dan Negeri yang Tak Tahu Diri

Zohri, begitulah orang memanggilnya. Dengan nama lengkap Lalu Muhammad Zohri, atlet sprinter (pelari) klas 100 meter, berusia 18 tahun ini berasal dari Kabupaten Lombok,...

Siti Fatimah az-Zahra pun Menolak Dipoligami

Kalau seorang istri dianggap durhaka dan salah besar karena menolak kemauan suaminya untuk  dipoligami, lalu bagaimana dengan Siti Fatimah az-Zahra as., putri kesayangan Rasulullah...

Panggilan Alam Liar Alex

Anak muda, kasta yang mendapat predikat sebagai labil maupun membara. Entah darimana predikat tersebut didapat. Atau malah jangan-jangan orang-orang di kasta tersebut menamakan diri...
A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.

Beberapa waktu lalu kita merayakan kemerdekaan Indonesia: sebuah imagined state yang dikukuhkan melalui sejarah panjang, sejumlah kejadian penting, serta nilai-nilai dan falsafah (UUD dan Pancasila), dan dirawat oleh kerja cerdas para negarawan dan intelektual, kerja keras pemangku jabatan, dan pembumian jargon-jargon yang sayangnya tidak dibarengi dengan telaah mendalam. Sepanjang bisa membunyikan pancasila, kita sudah Indonesia.

Mungkin karena jargonisme itulah, negara kita juga dihiasi dengan tak terhitungnya kerja malas dan korup para elit politik dan birokrasi. Mereka yang memasuki gelanggang politik dan birokrasi (yang seharusnya dimaknai sebagai gelanggang pengabdian, bukan pekerjaan) hanya mengejar status sosial dan ekonomi belaka. Yang dibawa adalah kuantitas (jargon-jargon, sedikit hapalan tentang ini-itu), bukan kualitas (pemahaman, penghayatan, etos, kritisisme).

Tentu kita tidak bisa berharap terlalu ideal (kejahatan akan musnah, dan manusia tenteram selamanya), tapi sisi busuk negara kita itu telah menjadi ayat, telah menjadi ujian, yang meluluskan manusia-manusia cemerlang berbudi luhur. Selalu ada mutiara yang membuncah di tengah nestapa. Selalu ada kabar baik di antara kabar buruk.

Maka, merayakan 17 Agustus, selain dengan bergembira ria ikut lomba makan kerupuk bersama masyarakat tersayang, bolehlah kita mengenang beberapa nama bersejarah, membaca kisah mereka yang idealis itu. Polisi Sugeng, Advokat Yap Thiam Hien, Intelektual Soedjatmoko, Aktivis Soe Hok Gie, atau pejuang HAM Munir Talib.

Atau, bila bosan (baca: tidak biasa) baca buku, merayakan 17 Agustus bisa juga dengan menonton beberapa film. Tidak mesti film kemerdekaan dari Arsip Nasional Republik Indonesia. Film apapun yang bisa membuat kita lebih menghayati makna kemerdekaan (individu atau komunal), bisa ditonton bersama.

Namun, saya kurang menyarankan film-film superhero Barat untuk ditonton.

Mereka mengajarkan heroisme, mungkin iya, tapi lihatlah tabiat mereka. Atas nama penyelamatan semesta, mereka bebas merusak properti publik dan pribadi. Atas nama penyelamatan semesta, mereka bebas menghancurkan tanpa menunjukkan itikad baik untuk meminta maaf. Kita digiring pada kesadaran bahwa upaya merebut kemerdekaan (keselamatan dan kebahagiaan) membolehkan sekelompok elit melakukan pengrusakan, dan publik pasti rela hati dengan pengrusakan itu.

Untuk penyelamatan dari bahaya besar yang mengancam, setiap kerusakan yang ditimbulkan masih termasuk murah.

Tapi itu film. Di dunia nyata, kita bisa mengajukan pertanyaan kepada mereka yang muncul (dan mendaku) sebagai superhero: (a) benarkah kamu sedang melakukan penyelamatan? (b) Musuh yang kamu bualkan, sungguhkah ia ada? (c) Kerusakan yang kamu timbulkan, bagaimana kamu menggantinya? (d) Tujuan penyelamatanmu ini, demi kami atau demi siapa?

Hahaha, kalau kita ajukan pertanyaan itu pada pihak-pihak yang ‘bermain’ hari-hari ini, kemungkinan kita akan dihabisi. Pertanyaan semacam itu, bagi pihak berkepentingan, sangat berbahaya.

Tapi kita perlu menghayati kemerdekaan bangsa dan negara kita secara kritis. Meskipun sejarah panjang kita sangat heroik, tapi kita tidak bisa berlepas tangan dan mengklaim sejarah kita berlangsung kompak dan satu tujuan. Di dalamnya ada kepentingan bertentangan (cobalah menilik debat-debat dalam sidang BPUPKI dan sidang perumusan dasar negara). Di dalamnya ada ketidakjujuran (cobalah mengamati perdebatan para saksi sejarah tentang suatu peristiwa).

Kritisisme membantu kita tidak terjebak romantisme sejarah (yang menganggap sejarah serba ideal). Kita perlu pahami sejarah itu tak selamanya indah, dan cita-cita kemerdekaan tidak lepas dari kemungkinan kooptasi-manipulasi demi kepentingan kelompok tertentu—yang ujungnya, rakyat kembali jadi korban. Demi mengenali dan menghindari bentuk-bentuk kemungkinan buruk itulah, kita mempelajari sejarah.

Agar kita tidak membiarkan superhero-superhero palsu berkuasa, yang merekayasa berita bohong tentang musuh bersama, dan merusak (baca: merampok kekayaan) bangsa dengan dalih penyelamatan semesta. Seperti superhero Barat itu.

Perayaan kemerdekaan seharusnya menyadarkan kita bahwa proses pemerdekaan belum selesai. Meminjam kalimat Anies Baswedan yang manis, “segenap kita harus berusaha mengisi kemerdekaan.” Kemerdekaan salah satunya diisi dengan perlawanan terhadap setiap yang mau merusak kemerdekaan itu. Selain, tentu saja, dengan bersenang-senang ikut lomba makan kerupuk, atau bergoyang dangdut. Sumpah, itu asik. []

A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.