in

Sulitnya Belajar Islam dari NU


Saya terlahir dari bapak yang sangat fanatik Nahdlatul Ulama, sebagai warga Nahdliyin fanatik, tentunya bapak saya memperkenalkan banyak hal mengenai Nahdlatul Ulama. Sampai kiai tenar NU seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahid Hasyim, Mbah Maimun, Gus Dur, KH. Idham Chalid, KH. Sahal Mahfoedz, Gus Mus, dan masih banyak lagi.

Dikala senggang bapak saya lebih senang menonton ceramah kiai NU yang ada di handphonenya, ya begitulah hiburan warga Nahdliyin yang sangat sederhana.

Ahlussunah Wal Jamaah menjadi patokan utama kami sebagai warga Nahdliyin dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Doa Qunut yang selalu saya lakukan di setiap sholat subuh, atau tahlilan yang selalu istiqomah kami lakukan di malam jumat tak luput dari jadwal kami.

Untuk urusan berpolitik, warga Nahdliyin tidak akan jauh dari PKB atau PPP. Ketika tahun 1999 Gus Dur terpilih menjadi presiden, bapak saya senang bukan kepalang, ya meskipun saat itu umur saya masih 5 tahun, tapi memori itu masih teringat sampai saat ini.

“Le.. siapapun presidennya, asal PKB dukung bapak ikut dukung…..” begitu titahnya.

Sebagai warga Nahdliyin yang fanatik, tentu mengidolakan Gus Dur bukan hal yang aneh lagi, suatu ketika bapak saya pernah mengajak saya untuk ke Jombang hanya untuk mencari Songket dengan Signature “Gus Dur”. Luar biasa.

Untuk masalah fashion dalam beribadah, kami tidak jauh dari peci haji, baju koko putih, serta sarung. Yak, sarung menandakan kami adalah seorang santri, santri sangat identik dengan NU. Jadi kemana – mana untuk acara keagamaan, apapun atasannya sarung tetap bawahannya.

Masalah pendidikan, tentu tidak jauh dari pesantren. Saya nyantri di segala pesantren, dari mulai modern sampai pesantren kampung. Apapun pesantrennya, asal ahlussunah wal jamaah pedomannya. Saya diajarkan untuk tetap menjadi warga NU meskipun tidak masuk secara struktural di PBNU. NU tetap di hati.

Karena sejak kecil, saya sudah dilatih menjadi seorang NU sejati, ya saya pun tentu punya juga idola tokoh NU. Kalau boleh saya bilang, saat ini idola saya adalah Guru Besar KH. Mustofa Bisri atau biasa dikenal dengan Gus Mus.

Mungkin sudah ketularan bapak saya, saya pun jarang absen untuk nonton ceramahnya Gus Mus yang khas sekali dengan gaya NU. Pembawaan santai, materi ringan penuh canda, tetapi tetap mengena di hati. NU dikenal dengan gaya humornya yang tidak biasa, bisa teman – teman lihat, setiap kiai NU punya gaya mengajar dan ceramah yang lucu. Terutama Gus Dur.

Bicara masalah NU

Bertahun – tahun saya dikenalkan dengan NU, ngaji pun dari para kiai NU, tapi sampai saat ini saya belum juga nyandak, apalagi kalau Gus Dur yang ceramah. Maklum, beliau punya cara pandang dan visi kedepan dalam menyampaikan sebuah maksud, jadi kami sebagai jamaah selalu menelaah dan mencermati dengan betul – betul. Sulit sekali memahami apa yang dimaksud oleh Gus Dur, dan mungkin para kiai NU.

Dan saya dapat satu kesimpulan, “sulit juga ya belajar Islam ala NU..”


Bukan apa – apa, semenjak kecil saya sudah diajarkan menjadi seorang Nahdliyin sejati, tapi apa daya, otak saya tetep gak nyandak. Jika teman – teman sering nonton ceramahnya kiai NU, pasti tidak asing dengan guyonan sarkas yang menguras otak, apalagi kalau guru besarnya, Gus Dur sudah ceramah. Saya perlu dua sampai tiga kali mengulang dan mencerna betul maksud dan tujuannya.

Simpelnya begini, semenjak lahir saya sudah Islam, saya belajar agama sedari dini, sampai saat ini saya masih belum bisa dibilang pandai beragama. Ya hanya sebatas, yang penting sholat dan menjauhi segala laranganNya. Lalu, yang membuat saya heran adalah kelakuan mereka – mereka ini yang sok pintar dalam menceramahi tapi tanpa bekal belajar dulu.

Saya pernah nonton di Youtube acara Mata Najwa episode “Panggung Gus Mus”, ada satu momen dimana mbak Najwa membahas status yang dibuat Gus Mus sampai wanita secantik dan secerdas mbak Najwa saja tergetar, apalagi saya ? begini kutipannya :

“Betapa mudahnya kebencian disebar, khotbah – khotbah ceramah disertai & disarati Bahasa geram dilakukan oleh mereka yang memiliki nuansa nafsu dan keangkuhan orang pintar baru.”

Berkali – kali saya ulang maksud dan makna dari status Gus Mus, akhirnya saya donk juga maksud dari bahayanya OPB (Orang Pintar Baru) yang dimaksud Gus Mus. Inilah yang terjadi saat ini, di negeri kita tercinta, fenomena Orang Pintar Baru.

Hanya beberapa kali baca buku, hanya beberapa kali mendengar ceramah, dan baru beberapa hari dia berhijrah tapi sudah berani membid’ah – bid’ahkan, mengkafir – kafirkan, mengharam – haramkan. Lha rumangsamu koe sopo ? Nabi ?

Begini, jadi cermah adalah level tertinggi bagi seorang Muslim. Bagi saya lho, dan menurut saya. Kenapa bisa begitu ? bagi saya berceramah berarti memiliki ilmu, berarti paham betul maksud dan tujuannya apa, dan paham betul hukumnya apa, dan menurut saya si penceramah pasti punya ilmu yang tinggi dibandingkan jamaah lainnya.

Nah beban penceramah adalah pikulan yang berat, jika penceramah tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang diberikan, maka jamaah akan tersesat. Wong penceramah masa mau memberikan ajaran sesat ?

Masa iya sih ? ada kok.

Lah sekarang ini, buktinya banyak.

Betul, menceramahi bukan hanya ingin dilihat atau dipandang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi niat lillahi ta’ala sebagai wakil Allah SWT dalam menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat dimuka bumi dan mengabarkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Saat ini, dengan mudahnya mereka – mereka yang OPB mengkafir – kafirkan atau membid’ah – bid’ahkan tanpa alasan yang jelas, hanya tujuan untuk terlihat wibawa atau apalah. Naudzubillah..

Suatu hari saya pernah membaca artikel yang khusus meliput kegiatan Gus Mus, Gus Mus menjelaskan bahwa kehidupan kita ini akan semakin ruwet kalau kita diceramahi ustadz – ustadz yang tampil tapi tidak belajar terlebih dahulu. Sekelas Gus Mus saja masih belajar, mbok ya ngaca, apa pantes kita membid’ah – bid’ahkan tanpa memahami betul konteksnya apa.

Wong didalam Islam itu mengajarkan cinta, perdamaian, kasih sayang, dan penuh cinta. Terutama kepada seluruh saudara seiman, Muslimin dan Muslimat, masa iya tho sesama saudara kita malah menyakiti saudara kita yang lainnya ?

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah SAW Bersabda “Seorang Muslim adalah Saudara bagi Muslim lainnya. Oleh sebab itu, jangan mendzalimi dan meremahkan dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori, dan Muslim). Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Tuh, sesama Muslim jangan saling menyakiti.

Bicara masalah belajar, tentu tak akan mengenal umur, terutama belajar agama. Karena agama adalah pondasi manusia dalam menjalani kehidupan, mungkin butuh waktu seumur hidup bagi kita untuk benar – benar memahami Islam. Begitu sulitnya belajar Islam.

Berhubung saya warga Nahdliyin, ya meskipun bukan Nahdliyin fanatik, saya tetap harus mengakui bahwa saya kesulitan belajar Islam. Karena tafsir di Islam memiliki makna, ya… mungkin hanya yang ahli saja yang bisa mengartikannya. Sampai saya berani mendeklarasi bahwa belajar Islam butuh waktu sampai seumur hidup, apalagi Islamnya NU. Mumet.

Semoga Allah SWT merahmati kita semua, Semoga Allah SWT merahmati NU.

Amin… Allahuma Amin.


Written by mabdulrahman

Lulusan Universitas Sebelas Maret, Aktif di Dunia Perpajakan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR