Minggu, Maret 7, 2021

Sukseskan Gerakan Sadar Arsip

The Fallacy of Reification

Dalam suatu kesempatan saya pernah menyaksikan dialog panas antara Rocky Gerung dengan sejumlah politisi di salah satu channel televisi swasta. Tema utama dalam debat...

Milenial dan Virus Golput

Dalam pusaran politik praktis, partisipasi politik kaum Milenial dalam meramaikan ruang demokrasi di Indonesia semakin masif. Terlihat banyaknya Milenial yang tebilang prematur berani menjadi...

Menelisik Karhutla di Kalimantan

Beberapa waktu ini, kita rakyat indonesia terus disuguhi berita yang menyayat hati. Tentang Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Banyak masyarakat yang mengungkapkan bahwa ini...

Anda Tahu, Mengapa Kita Malas?

Salah satu hal yang paling sulit dalam berkarya adalah “memulai”. Tak peduli seberapa banyak niat yang sudah dikumpulkan dalam kepala. Sering sekali terjadi saya...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Kearsipan adalah sebuah ruang yang sunyi. Sepi. Dalam kesendiriannya, Arsiparis, merasakan ada keramaian dalam mengamankan sebuah warisan kebudayaan dari sebuah bangsa. Sebuah memori kolektif yang mesti harus diselamatkan guna mempertahankan jati diri sebuah bangsa.

Di era global seperti sekarang ini sebuah bangsa akan semakin sulit menjaga ciri kebangsaanya apabila memori kolektif hasil proses perjalanannya sebagai sebuah bangsa tidak tersimpan sebagai pijakan generasi penerusnya. Dan inilah tantangan yang musti dihadapi oleh dunia kearsipan apabila ingin ikut berperan dalam menjaga Jati Diri Bangsa.

Kenapa Arsiparis? Profesi arsiparis memang kurang dikenal dan masih asing di telinga masyarakat. Berdasarkan Undang undang Nomor 43 TH 2009 arsiparis adalah seseorang yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan/ atau pendidikan dan latihan kearsipan serta mempunyai  fungsi, tugas dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan.

Dalam era informasi ini tentunya peran yang diambil arsiparis tidaklah kecil. Semua informasi tertulis adalah area kerja yang harus ia masuki. Menekuni kertas berdebu seolah menjadi keseharian arsiparis.

Obyek sasaran kerja arsiparis adalah arsip. Baik itu arsip dimamis maupun arsip statis. Meski saat ini sudah ada arsip digital namun arsip tekstual masih lebih banyak volumenya. Terlebih lagi arsip statis yang bernilai kesejarahan hmapir semuanya berupa artip tekstual maupun foto.

Arsip Tekstual, arsip yang terekam dalam media  kertas, masih mendominasi kebanyakan dokumen yang kini masih banyak ditangani oleh arsiparis. Sebagai pengelola arsip tentunya keseharian arsiparis pasti akan selalu bersinggungan dengan kertas.

Terlebih lagi untuk arsip arsip yang sudah jarang terpakai lagi dalam proses kegiatan organisasi, baik itu arsip inaktif maupun statis.

Arsiparis dalam hal ini akan bertindak sebagaimanan arkeolog yakni memugar informasi yang berserakan agar menjadi informasi yang terstruktur dan bisa dibaca orang lain. Arsiparis akan memugar arsip kacau yang tidak ada sarana pencarian informasinya atau  daftar arsipnya,

Jelas sekali bahwa arsiparis beresiko dengan segala ancaman yang berhubungan dengan penyakit pernafasan. Menekuni kertas kertas lusuh adalah bagian dari tugas arsiparis mengingat saat arsip sudah selesai urusannya kebanyakan dilalaikan begitu saja oleh sang pemilik pekerjaan.

Ketidakpedulian pada arsip yang sudah selesai pekerjaan yang berkaitan dengannya membuat tugas arsiparis semakin berat mengingat mereka akan memugar sesuatu dari berkas berkas yang informasinya campur aduk itu.

Tugas pengelolaan kearsipan sekarang bukanlah menjadi tanggung jawab penuh arsiparis. Dengan dicanangkannya Gerakan  Nasional Sadar Tertib Arsip atau yang disingkat GNSTA  oleh kepala Arsip Nasional Republik Indonesia. Hal ini dikuatkan dengan diterbitkannya Peraturan Kepala Arsip Nasional Nomor 7 tahun 2017 tentan GNSTA.

Gerakan ini bertujuan agar  penyelenggaraan kearsipan dapat menjadi pendukung proses reformasi berokrasi menuju terciptanya tata kelola  pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, terpercaya, akuntabel dan transparan baik di pusat maupun di daerah .

Pemerintahan yang bersih dan terbuka pastilah didukung dengan dokumen sebagai bukti menjalankan pekerjaan. Seringkali dalam pemberantasan korupsi peranan dokumen/arsip begitu penting sebagai bukti adanya transaksi. Koruptor seringkali tidak bisa berkutik bila penyidik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mendapatkan dokumen penting berkaitan dengan transaksi bermasalah tersebut.

Namun, anehnya di setiap lembaga pemerintahan pengelolaan kearsipan malah kurang mendapat perhatian penanganannya. Padahal semua lembaga publik itu menyadari bahwa arsip termasuk salah satu elemen penting dalam transparansi birokrasi agar setiap proses menjalankan pemerintahan bisa dilihat oleh masyarakat.

Di bidang politik juga tak kalah penting bahwa kearsipan menjadi bukti proses penyelenggaraan demokrasi tersebut. Di tahun politik ini kita akan merayakan Pilpres dan Pilleg. Segala dokumen yang berkaitan dengan proses penyelenggaraan pemilu mulai dari tingkat desa dan pusat harus dikontrol keberadaanya secara cermat.

Jangan lagi terjadi ketelodoran karena arsip yang berhubungan dengan proses pemilu tersebut adalah bukti jika diperlukan di pengadilan jika ada sengketa di pengadilan. Kesadaran untuk mulai tertib pengarsipan adalah untuk kita semua karena semua catatan tersebut adalah bukti penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga dengan adanya Perka GNSTA ini bisa membuat pengelolaan kearsipan di Pemerintah daerah, Lembaga Negara,  Partai politik serta organisasi kemasyarakatan lainnya semakin tertib dan kuat. Jangan menyepelekan setiap catatan karena suatu saat ia yang akan berbicara untuk membuktikan kinerja kita.

GNSTA adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran lembaga negara dan penyelenggara pemerintahan daerah, partai politik dan masyarakat  dalam mewujudkan tujuan penyelenggaraan kearsipan melalui aspek kebijakan, organisasi, sumber daya kearsipan, prasarana dan sarana, pengelolaan arsip serta pendanaan kearsipan.

Semoga ini menjadi jalan masuk untuk membuat arsip lebih diperhatikan terutama untuk para pelaku kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Ayo sukseskan gerakan sadar dan tertib arsip agar kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai sebuah bangsa.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.