Sabtu, Februari 27, 2021

Suka Baperan di Facebook

Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Kalau kita dengarkan mereka yang ngobrol di warung kopi, kepercayaan masyarakat kepada partai sebenarnya sangat kecil. Mungkin kasarnya, masyarakat sudah tidak percaya terhadap Partai...

Paradoks Kegairahan Komunitas Sastra di Indonesia

Banyak karya sastra dihasilkan para anggota komunitas sastra. Banyak buku diterbitkan komunitas sastra. Tapi, dokumentasi menjadi persoalan serius yang dihadapi pelbagai komunitas di Indonesia....

Drama Kota Pintar

Meski fase sedang hangat-hangatnya sudah berlalu. Tapi saya kira ini waktu yang paling tepat untuk mengajukan pertanyaan tentang, adakah hal-hal berubah ketika kota menjadi...

Hubungan antara Agama dan Gerakan Feminis

Kemunculan  gerakan feminis telah menjadi babak baru dalam sejarah umat manusia tentang arti penting kesetaraan dan menghapus segala macam penindasan yang menghubungkan  relasi antara...
Rusdiyanto -
Manusia post-primitif, post-tradisionalis dan pos-ko spritual

Diantara cara membahagiakan orang lain yang tak butuh modal materi adalah senyum, bahkan katanya senyum itu sedekah.

Dalam dunia bermedia sosial yang tak membutuhkan perjumpaan fisik, senyum bisa diganti dengan menyukai, memberi tanggapan, atau membagikan apa yang di medsoskan oleh orang lain.

Pada suatu kapan saya pernah menjumpai seorang pemuda yang bahagia luar biasa sampai lompat-lompat di tengah keramaian, belum sempat ada yang tanya apa penyebabnya pemuda itu teriak-pelan “Yes, yes, yes… postinganku di-like dan di-share cewek tercantik di kampusku” katanya.

Begitulah, barangkali cewek yang ngelike itu tak ada maksud membuat pemuda itu sebahagia itu, tapi begitulah kejadiannya. Tanpa sadar ia telah berjasa besar membahagiakan orang lain.

Lain waktu, lain lagi ceritanya tapi masih berkait-kelindan dengan tulisan ini. Konon, saya punya teman yang sukanya menyukai apa saja yang tampil di beranda facebooknya (sekarang dia sedang menjalankan puasa dari medsos entah sampai kapan), tanpa dibaca dan dilihat secara seksama.

Dibalik kebiasaannya menyukai itu diam-diam tanpa sepengetahuannya ternyata ada perempuan yang merasa bahagia dengan tingkahnya itu. Entah atas pertimbangan apa, tiba-tiba teman saya itu pilah-pilih postingan apa yang mesti disukainya, dan perempuan itu merasa jadi korban dari kebijakan eh keputusan yang tanpa diketahui apa ‘dosa’-nya itu.

Dan tanpa dinyana, teman saya bercerita “Beberapa waktu lalu saya di inbox cewek, dia bertanya apa salahnya kok aku jadi berubah padanya?” Setelah ketawa sebentar dia melanjutkan.

“Aku kan bingung, apa yang berubah dariku ya! Setelah aku tanya cewek itu bilang kok belakangan jarang menyukai postingannya di facebook?” Ia pun tertawa kembali, saya pun yang mendengarnya ikutan nyenger. “Jadi hati-hati bro dalam bermedsos, sebagian ada yang baperan” begitu nasihat teman.

Begitulah, sejak dapat cerita itu saya jarang menyukai apalagi membagikan postingan orang lain, meskipun setiap posting apapun yang selalu saya cek pemberitahuan tentang berapa dan siapa saja yang menyuka dan memberi komentar.

Rusdiyanto -
Manusia post-primitif, post-tradisionalis dan pos-ko spritual
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.