Jumat, Februari 26, 2021

Sudahilah Polemik Pribumi!

Dalil Eksistensialisme Sartre untuk Islam Jabariyah

Agama Islam dalam perkembangannya banyak ditafsirkan sesuai dengan pikiran dan pemahaman para pemeluknya. Apalagi pasca meninggalnya Rasul, interpretasi baru dalam memahami Islam pun bermunculan...

Ada Sketsa Di Balik Masterpiece

Di balik setiap mahakarya (masterpiece), selalu ada peran kertas yang melatarbelakangi proses terciptanya. Banyak ilmuwan dan seniman yang memakai kertas kerja  sebagai konsep dalam...

Teknologi dan Janji Pemerataan Pendidikan

logan di atas gencar dipromosikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui sebuah situs belajar bernama Rumah Belajar, guru dan siswa dapat mengakses berbagai macam materi...

Prinsip Business Judgement Rule Bagi Direksi Perusahaan

Beberapa waktu lalu setelah melalui serangkaian proses pemeriksaan di pengadilan, akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dan denda 1...
Hidayat Doe
Peminat isu hubungan internasional, alumnus Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin, Makassar

Belum genap sehari Anies Baswedan resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022, mantan Menteri Pendidikan itu sudah dibuli habis-habisan di berbagai media, utamanya Medsos.

Aksi bulan-bulanan oleh warganet atas kutipan pidato pelantikannya yang menyelipkan kata ‘ Pribumi’ menjadi penanda bahwa publiknet yang berseberangan dengan Anies pada Pilkada DKI Jakarta lalu nampaknya masih memendam kusumat. Mereka rupanya belum move on, kata orang jaman now.

 Anies hanyalah manusia biasa yang juga bisa salah.Kesalahannya jangan dibesar-besarkan serupa menuangkan bensin pada suatu persoalan kecil. Kita harus adil menilai ucapan yang diungkapkan Anies pada saat eforia pelantikan yang berlangsung pada Senin, 16 Oktober lalu. Bila Anies blunder membawakan istilah pribumi itu, jangan lantas mengkambinghitamkan Anies pada berbagai hal. 

Sodara-sodara, Anies baru manggung di kursi kekuasaan ibu kota kenapa sudah lebih dulu dihajar. Negeri macam apa ini?

Warganet sebaiknya jangan terlalu mudah ikut-ikutan membulli Anies. Bisa jadi tergiring pada agenda setting yang dimainkan oleh barisan orang-orang kalah dalam Pilkada DKI Jakarta lalu.

Sebagai pengguna dunia maya, kita jangan menjadi bagian yang memperkeruh suasana politik. Salah satu persoalan yang menjadi catatan buruk demokrasi kita saat ini adalah maraknya aksi membuli seorang pemimpin tanpa logika dan akal sehat yang jernih.

Anies adalah pemimpin terpilih di ibu kota. Kita harus sepakat untuk memberikan ruang yang elegan baginya untuk mengatasi persoalan yang membelit Jakarta. Ibu kota butuh kerja sama dan sinergi berbagai pihak. Barisan yang menang dan kalah dalam Pilkada DKI sudah semestinya berdamai ketika kandidat masing-masing pihak menyampaikan pidato kekalahan dan kemenangannya. Warga ibu kota, lebih-lebih penduduk luar jangan terus menebar api perseteruan. Kebersamaan dan kekompakan mesti kembali ditabur.

Indonesia tak akan bangkit jika bara pertarungan politik terus mewarnai perjalanan negeri dan bangsa ini. Ingat, tantangan Indonesia sesungguhnya bukan kompetisi sesama anak negeri, tetapi kuatnya terjangan persaingan arus globalisasi yang mengandaikan daya saing sebuah bangsa. 

Kita sedang menyaksikan revolusi teknologi yang mahadahsyat. Negara-negara di dunia berusaha menjadi pemain dalam global value chain. Negara-negara di luar sana juga sedang bertarung menjadi actor global supply chain yang kompetitif. Jika negeri ini urusannya hanya siku sana situ tanpa mau memberikan kesempatan yang baik bagi pemimpin yang terpilih dipastikan Indonesia bakal terlempar jauh dalam berbagai rantai persaingan dunia.

Sebagai ibu kota, Jakarta mesti menjadi contoh bagaimana situasi dan stabilitas politik terbangun di sana. Jakarta sudah terlalu lama menjadi medan pertarungan. Jauh sebelum Pilkada di DKI Jakarta dimulai, warga nusantara sudah ikut memanas-manasi situasi ibu kota. Jika situas Jakarta terusmemanas, bukan tidak mungkin berdampak buruk bagi pemerintahan pusat. 

Kekisruhan di ibu kota akan menjadi kontributor negatif bagi jalannya stabilitas pemerintahan pusat. Padahal di sanalah semua kebijakan negeri ini disusun untuk memacu vitalitas bangsa. Apalagi musim Pilpres sudah semakin dekat. Pemerintah pusat bisa saja sudah tidak fokus menjalankan agenda pembangunan di sisa periodenya.

Kita berharap, berbagai kekisruhan politik yang muncul tidak menjadikan pemerintahan Jokowi-JK buyar merealisasiskan Nawacita-nya. Jokowi- JK  beserta jajaran kabinetnya diharapkan tetap konsentrasi menyelesaikan semuaa genda prioritas. 

Saya khawatir, jangan sampai karena terlalu panas suhu politik di ibu kota, perhatian pemerintah bergeser. Apalagi aroma politikPilpres sudah mulai menyembul. Sejumlah analisis yang mengaitkan persoalan istilah pribumi dengan ancang-ancang Pilpres sudah mulai bermunculan. Kita berharap, analisis tersebut hanyalah spekulasi yang tidak memancing hangatnya berbagai isu.

Kini saatnya kita menebar inspirasi dan menabur kebersamaan. Damai Indonesiaku, maju bangsaku.

Hidayat Doe
Peminat isu hubungan internasional, alumnus Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin, Makassar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.