Senin, Januari 18, 2021

Sudah Saatnya Kebijakan Lapas Ramah Perempuan

Pak Menteri, Kami Memang Miskin, Tapi…

Ilmu lisan tak bisa diperoleh dari sumber yang sembarangan. Ilmu lisan juga tak bisa dibeli di segala tempat. Ada jurus dan cara jitu agar...

Digitalisasi Pembayaran UKT Berbasis E-Commerce

Digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini menimbulkan perkembangan yang sangat pesat dalam bidang teknologi di berbagai belahan dunia tak terkecuali Indonesia. Hal ini...

Alumni Bergerak Hadang Demoralisasi Politik

Kelompok Intelektual menyeruak menampakkan dukungan kepada pasangan Jokowi - Kiai Ma'ruf di Pilpres 2019. Ya, ini adalah wujud tangung jawab moral ancaman demoralisasi politik. Apa...

Loyonya Sains di Negara Islam Terbesar

Semua orang pasti sepakat bahwa agama dan sains harus selalu berjalan bersama-sama. Tapi sulit, sebagaimana sulitnya orang yang terbiasa berjalan dengan kaki kanan dan...
Panggih P. Subagyo
Pembimbing Kemasyarakatan di Bapas Kelas I Manokwari, Papua Barat

Pada suatu sesi konseling di Lapas Perempuan saya pernah kewalahan dalam mengelola jalannya konseling. Konseling kelompok ini diikuti oleh enam orang napi perempuan.

Awalnya konseling berjalan lancar dengan susana yang hangat dan cair. Kemudian setelah memasuki sesi curhat, satu persatu dari mereka benar-benar memuntabkan perasaaannya. Ada yang menangis tanpa henti, ada yang terus sesenggukan dan ada yang tertunduk lesu. Tentu ini bukan situasi yang saya harapkan.

Bu Ani menceritakan bahwa keluarganya saat ini tinggal di luar pulau sehingga tidak pernah mengunjunginya. Setiap hari selalu memikirkan buah hatinya yang baru berusia empat tahun.

“Bagaimana tidak kepikiran mas, anak saya baru empat tahun dan suami saya sedang sakit,” tutur Bu Ani sambil mengusap air matanya.

“Mas anak saya belum genap dua tahun, sekarang tinggal dengan neneneknya, suami saya entah dimana sekarang saya tidak tahu,” ungkap Bu Rita.

Bu Susi pun menambahi walau keluarganya selalu menjenguknya setiap minggu namun itu belum cukup baginya untuk mengobati kerinduan dengan keluarganya.

“Saya merasa ada yang hilang dalam hidup saya mas, dan itu berat bagi saya”ucapnya.

Saya kemudian sadar bahwa selama ini mereka memendam sesuatu yang sangat berat. Sepertinya banyak permasalahan yang selama ini disimpan. Ketika ada kesempatan untuk meluapkan perasaanya maka meluaplah seketika emosinya.

Lima dari enam orang peserta konseling berstatus sebagai ibu. Tentu setiap ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam keluarga. Saya pernah merasakan bagaimana bedanya antara sehari tanpa ibu di rumah dan sehari tanpa bapak di rumah. Bapak pergi dalam sehari tidak membuat ritme di dalam keluarga berubah. Namun jika ibu yang sedang pergi, ada hal-hal yang tidak dapat dimenngerti dengan baik oleh bapak.

Ibu saya waktu itu sedang ada kegiatan pelatihan selama seminggu. Setiap hari selalu menelpon saya, menanyakan keadaan rumah. Sudah ada makanan belum untuk sarapan, baju-baju sudah dicuci belum dan pertanyaan tentang kondisi rumah lainnya.

Bukannya saya anti kesetaraan gender, namun itulah realitas yang terjadi di keluarga saya. Mungkin kondisi seperti itu juga dialami oleh mayoritas keluaraga di Indonesia. Dimana seorang ibu masih mempunyai peran yang besar dalam urusan domestik rumah tangga.

Persis apa yang dirasakan para napi perempuan dalam sesi konseling. Hampir sebagian besar mempunyai keluhan yang sama. Kangen Keluarga. Ibu saya yang hanya pergi seminggu untuk diklat dan masih satu kota, pikirannya selalu saja tentang rumah. Ini mereka harus meninggalkan rumah dalam waktu lama dan akses komunikasi dibatasi. Bisa dibayangkan betapa gelisah dan gundah perasaan mereka.

Napi perempuan yang sudah berkeluarga akan merasakan beban mental yang lebih berat. Muncul perasan bersalah saat tidak melakukan tugas dan peran sebagai istri atau ibu. Hal ini akan membuat mereka rentan mengalami strees.

Peran mereka sebagai seorang ibu rumah tangga yang bisa melakukan banyak aktifitas tiba-tiba berubah segalanya serba terbatas. Mereka tidak bisa lagi bangun pagi, menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan suami. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka. Mungkin mereka merasakan semacam post power syndrome.

Bukan bermaksud merendahkan, namun saya kok berpikir para napi perempuan rentan mengalami konflik sesama napi. Kadang ada kondisi dan situasi di mana perempuan menjadi lebih sensitif dan emosial. Misalnya pada saat datang bulan, tentu adalah gesekan-gesekan sedikit dengan sesama napi bisa berakibat lebih besar.

“Konflik kecil ya ada, kayak jadwal piket, ada yang rajin ada juga yang malas-malasan, kadang membuat saya emosi dan ngomel-ngomel,” ucap Bu Ani.

“ Kalau saya  paling tidak suka kalau ada yang bicara-bicara di belakang, saya pasti langsung sikat dia” tegas Bu Reni menambahi.

Napi laki-laki melakukan kerusuhan bersama-sama memang menakutkan namun juga tidak kalah menakutkan jika para napi perempuan ngambek bersama-sama.

Jumlah napi perempuan di Indonesia memang lebih sedikit daripada napi laki-laki. Menurut data dari smslap.ditjenpas.go.id Ada 9.718 napi perempuan, sedangkan napi dewasa sebanyak 167.207. Bisa dilihat bahwa perbandingan jumlah napi laki-laki dan perempuan sangat mencolok. Terdapat 32 Lapas Perempuan di seluruh Indonesia. Di beberapa daerah napi perempuan masih dititipkan di Lapas Dewasa (Laki-laki).

Melihat realitas yang ada bahwa Lapas Perempuan belum sepenuhnya ramah perempuan. Belum ada payung hukum yang secara tegas membela hak-hak perempuan dalam sistem pemidanaan kita. Mungkin Negara kita masih terlalu fokus terhadap napi laki-laki yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Kegiatan di dalam Lapas yang monoton dan minim aktivitas produktif semakin menambah beban napi perempuan. Tidak banyak pilihan untuk mengalihkan rasa sedih yang mereka rasakan.

Di Lapas, kegiatan pembinaan yang diberikan kepada napi perempuan belum menyentuh aspek psikologis. Menurut saya, bimbingan  konseling merupakan kebutuhan urgent bagi para napi perempuan. Memberikan kesempatan mereka untuk mencurahkan perasaannya secara berkala. Ini sangat penting mengingat banyak beban mental yang mereka rasakan. Pikiran dan perasaan yang terus menerus dipendam oleh napi perempuan nantinya bisa menumpuk seperti gunungan sampah, suatu saat bisa meledak.

Memang secara kebijakan sudah ada pembinaan kepribadian melalui bimbingan konseling. Pada realitasnya program ini belum menjadi prioritas utama hampir di seluruh lapas. Kebanyakan lapas fokus pada kegiatan yang dapat dilihat hasilnya seperti ketrampilan menjahit, membuat rajutan dan ketrampilan tangan lainnya. Mungkin sudah saatnya pihak lapas mengakomodir kebutuhan-kebutuhan napi perempuan yang bersifat afektif.

“Apa yang selalu menguatkan ibu untuk tetap tabah menjalani hukuman ini?” tanyaku kepada semua peserta konseling.

“Keluarga!” jawab mereka kompak.

Panggih P. Subagyo
Pembimbing Kemasyarakatan di Bapas Kelas I Manokwari, Papua Barat
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.