OUR NETWORK

Suara Rakyat yang Tercekik

Kecuali, hati nurani memang sudah tak ada. Karena tertutup oleh uang-uang yang sudah digelontorkan para investor-investor asing, uang-uang hasil korupsi, kemarahan-kemarahan tak perlu yang memicu seseorang mau membinasakan siapa saja. 

Saya bukan siapa-siapa. Bukan aktivis. Bukan praktisi hukum. Bukan politisi pro rakyat. Juga bukan SJW partisan maupun non partisan. Tak pernah ikut demo. Tak pernah memperjuangkan apa-apa. Kecuali cinta. Haha. Saya hanya pemuda kurang produktif yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan mantengin HP.

Namun, setelah saya melihat undangan itu (yang tidak ditujukan untuk saya) di sosial media, saya merasa bahwa saya harus datang. Harus ikut berjuang. Sekecil apa pun itu. Lebay bukan?

Tak apa-apa. Karena kelebayan itu saya jadi belajar banyak hal.

Dalam sebuah aksi (demonstrasi) kehadiran setiap orang itu penting. Bahkan yang hanya duduk dan diam di lokasi aksi. Persoalan ada korlap, ada yang orasi, ada yang dicat tubuhnya itu hanya pembagian tugas.

Banyaknya masa, menunjukkan bahwa apa yang disuarakan bukan hanya suara segelintir orang atau kelompok saja. Tetapi suara banyak sekali orang. Bisa dikatakan mewakili suara rakyat.

Orang yang cara berpikirnya cenderung pragmatis sering berkomentar. Ikut aksi itu dapat apa? Hanya dapat rasa lelah saja kan? Komentar-komentar semacam itu biasa terjadi. Tetapi sikap apatis semacam itu, di era demokrasi seperti ini, adalah sebuah kenaifan yang lebay. Tingkat kelebayannya jauh melebihi kelebayan saya dalam menyusun kalimat di paragraf satu dan dua tadi.

Kalau mau ikut ya ikut saja tidak usah pamer dan merasa bangga. Kalau tidak ikut ya tidak ikut saja. Tidak usah menyalah-nyalahkan atau menakut-nakuti yang ikut. Yang pasti bersuara adalah hal lumrah dalam sebuah atmosfir demokrasi.

Orang – orang yang ikut aksi tak menginginkan imbalan apa-apa yang bersifat pragmatis–individualis. Mereka hanya berusaha menunjukkan keseriusannya sebagai masyarakat, sebagai rakyat yang hidup di sebuah negara yang mengaku sebagai negara demokratis namun pengelola negaranya sedang mencederai demokrasi itu sendiri. Semata – mata untuk mengingatkan. Bahwa ketidakadilan sedang mengancam hajat hidup orang banyak.

Konon, dulu saat Nabi Ibrahim dibakar ada seekor semut datang membawa setetes air. Nabi Ibrahim menanyai semut itu.

“Bukankah setetes air yang kamu bawa itu tak bisa memadamkan api ini ?”

“Iya,” jawab Semut, “Saya hanya ingin menunjukkan kepada Tuhan bahwa saya serius menghamba kepada-Nya dengan cara berpihak kepadamu.”

Peserta aksi, berposisi seperti semut itu. Berusaha membawa setetes air walaupun tahu tak akan bisa memadamkan api yang membakar. Ibrahim bisa apa saja. Termasuk kebajikan, kebijaksanaan, keadilan.

#gejayanmemanggil bukanlah aksi politis. Berbagai isu yang muncul, mulai dari anarkisme, ditunggangi kelompok pro khilafah hanya hoax belaka. Tidak lain hanya sebagai penggembosan yang tak perlu. Dikira, para buzzer itu bisa membendung suara rakyat?

Saya membuktikan sendiri di lapangan. Sangat damai, tertib, ada aktivis kebersihan yang rela berkeliling menawari siapa saja untuk membuang sampah.

Saya, sebagai orang yang awam politik dan hukum saja tahu bahwa apa yang sedang terjadi memang sudah keterlaluan. Mulai dari UU KPK, RKUHP, karhutla, Papua serta beberapa tuntutan yang lain itu memang perlu diinterupsi.

Tak perlu dikaji materinya secara detail sebenarnya sudah kelihatan. Gelagat – gelagat DPR diwaktu yang singkat dengan mencoba mengesahkan undang – undang krusial sama dengan anak – anak yang berbohong saat berbuat kesalahan. Seakan berlaku benar, tetapi di mata orang lain terlihat masyghul.

Apalagi perihal pembakaran hutan dan penindasan di Papua. Anak kecil umur 10 tahun saja kalau melihat hal seperti itu sudah pasti tahu bahwa itu salah.

Bagaimanapun, aksi #gejayanmemanggil serta aksi – aksi di kota lain yang bersamaan atau pun yang ada setelahnya dengan tujuan yang sama itu penting. Sangat, sangat penting.

Tak ada orang berhati nurani yang tega melihat asap – asap pekat merusak paru – paru banyak orang, orang – orang Papua ditembaki, uang – uang rakyat dicuri, orang – orang baper yang berduit mengkriminalisasi orang – orang yang dianggapnya sebagai musuh.

Kecuali, hati nurani memang sudah tak ada. Karena tertutup oleh uang-uang yang sudah digelontorkan para investor-investor asing, uang-uang hasil korupsi, kemarahan-kemarahan tak perlu yang memicu seseorang mau membinasakan siapa saja.

#gejayanmemanggil agaknya hanya permulaan. Sebelum semua tuntutan itu benar-benar terpenuhi. Sebelum keadilan benar-benar ditegakkan.

Penulis. Tinggal di Bantul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…