Sabtu, Februari 27, 2021

Suara Rakyat yang Tercekik

UU Pemilu Baru dan Legitimasi Demokrasi

Semangat perubahan undang-undang pemilu rutin setiap 5 tahunan yang ditata kembali bertujuan menjamin prinsip keterwakilan, keterpilihan, akuntabilitas, legitimasi dan demokratisasi yang lebih luas. Nyatanya...

Fenomena Sesat Pikir Ad Hominem di Media Sosial

Seseorang sedang rindu bercengkerama dengan sahabatnya. Kesibukan kerja dan rutinitas yang lain, membuat dia dan para sahabatnya sulit bersua. Mereka pun mengatur waktu untuk...

Menjadi Pembaca Pintar Masa Kini

Dalam salah satu Bab pada bukunya yang berjudul Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (1991), Kuntowijoyo memaparkan tentang Serat Cebolek, sebuah dokumen yang ditulis pada...

Climate Change as Humanity Reflection

Climate change is a popular terminology for more than a decade due to potentially causing catastrophe. Then, international and national forum, the discourse to...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Saya bukan siapa-siapa. Bukan aktivis. Bukan praktisi hukum. Bukan politisi pro rakyat. Juga bukan SJW partisan maupun non partisan. Tak pernah ikut demo. Tak pernah memperjuangkan apa-apa. Kecuali cinta. Haha. Saya hanya pemuda kurang produktif yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan mantengin HP.

Namun, setelah saya melihat undangan itu (yang tidak ditujukan untuk saya) di sosial media, saya merasa bahwa saya harus datang. Harus ikut berjuang. Sekecil apa pun itu. Lebay bukan?

Tak apa-apa. Karena kelebayan itu saya jadi belajar banyak hal.

Dalam sebuah aksi (demonstrasi) kehadiran setiap orang itu penting. Bahkan yang hanya duduk dan diam di lokasi aksi. Persoalan ada korlap, ada yang orasi, ada yang dicat tubuhnya itu hanya pembagian tugas.

Banyaknya masa, menunjukkan bahwa apa yang disuarakan bukan hanya suara segelintir orang atau kelompok saja. Tetapi suara banyak sekali orang. Bisa dikatakan mewakili suara rakyat.

Orang yang cara berpikirnya cenderung pragmatis sering berkomentar. Ikut aksi itu dapat apa? Hanya dapat rasa lelah saja kan? Komentar-komentar semacam itu biasa terjadi. Tetapi sikap apatis semacam itu, di era demokrasi seperti ini, adalah sebuah kenaifan yang lebay. Tingkat kelebayannya jauh melebihi kelebayan saya dalam menyusun kalimat di paragraf satu dan dua tadi.

Kalau mau ikut ya ikut saja tidak usah pamer dan merasa bangga. Kalau tidak ikut ya tidak ikut saja. Tidak usah menyalah-nyalahkan atau menakut-nakuti yang ikut. Yang pasti bersuara adalah hal lumrah dalam sebuah atmosfir demokrasi.

Orang – orang yang ikut aksi tak menginginkan imbalan apa-apa yang bersifat pragmatis–individualis. Mereka hanya berusaha menunjukkan keseriusannya sebagai masyarakat, sebagai rakyat yang hidup di sebuah negara yang mengaku sebagai negara demokratis namun pengelola negaranya sedang mencederai demokrasi itu sendiri. Semata – mata untuk mengingatkan. Bahwa ketidakadilan sedang mengancam hajat hidup orang banyak.

Konon, dulu saat Nabi Ibrahim dibakar ada seekor semut datang membawa setetes air. Nabi Ibrahim menanyai semut itu.

“Bukankah setetes air yang kamu bawa itu tak bisa memadamkan api ini ?”

“Iya,” jawab Semut, “Saya hanya ingin menunjukkan kepada Tuhan bahwa saya serius menghamba kepada-Nya dengan cara berpihak kepadamu.”

Peserta aksi, berposisi seperti semut itu. Berusaha membawa setetes air walaupun tahu tak akan bisa memadamkan api yang membakar. Ibrahim bisa apa saja. Termasuk kebajikan, kebijaksanaan, keadilan.

#gejayanmemanggil bukanlah aksi politis. Berbagai isu yang muncul, mulai dari anarkisme, ditunggangi kelompok pro khilafah hanya hoax belaka. Tidak lain hanya sebagai penggembosan yang tak perlu. Dikira, para buzzer itu bisa membendung suara rakyat?

Saya membuktikan sendiri di lapangan. Sangat damai, tertib, ada aktivis kebersihan yang rela berkeliling menawari siapa saja untuk membuang sampah.

Saya, sebagai orang yang awam politik dan hukum saja tahu bahwa apa yang sedang terjadi memang sudah keterlaluan. Mulai dari UU KPK, RKUHP, karhutla, Papua serta beberapa tuntutan yang lain itu memang perlu diinterupsi.

Tak perlu dikaji materinya secara detail sebenarnya sudah kelihatan. Gelagat – gelagat DPR diwaktu yang singkat dengan mencoba mengesahkan undang – undang krusial sama dengan anak – anak yang berbohong saat berbuat kesalahan. Seakan berlaku benar, tetapi di mata orang lain terlihat masyghul.

Apalagi perihal pembakaran hutan dan penindasan di Papua. Anak kecil umur 10 tahun saja kalau melihat hal seperti itu sudah pasti tahu bahwa itu salah.

Bagaimanapun, aksi #gejayanmemanggil serta aksi – aksi di kota lain yang bersamaan atau pun yang ada setelahnya dengan tujuan yang sama itu penting. Sangat, sangat penting.

Tak ada orang berhati nurani yang tega melihat asap – asap pekat merusak paru – paru banyak orang, orang – orang Papua ditembaki, uang – uang rakyat dicuri, orang – orang baper yang berduit mengkriminalisasi orang – orang yang dianggapnya sebagai musuh.

Kecuali, hati nurani memang sudah tak ada. Karena tertutup oleh uang-uang yang sudah digelontorkan para investor-investor asing, uang-uang hasil korupsi, kemarahan-kemarahan tak perlu yang memicu seseorang mau membinasakan siapa saja.

#gejayanmemanggil agaknya hanya permulaan. Sebelum semua tuntutan itu benar-benar terpenuhi. Sebelum keadilan benar-benar ditegakkan.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.