Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Suara Korban Kerusuhan YLBHI

Salah Bidik Pajak Buku Elektronik

Langkah pemerintah Indonesia untuk menarik pajak barang tidak berwujud (intangible goods) tahun depan telah mendapatkan restu dari organisasi perdagangan dunia (WTO). Meskipun Moratorium WTO...

Piala Dunia 2018: Berkurangnya Kuasa Dominasi Berkat VAR

Menarik jika kita mencermati tulisan yang  berjudul “Kuasa VAR di Piala Dunia”, yang ditulis oleh Fajar Junaedi. Tulisan tersebut dimuat oleh Kedaulatan Rakyat di...

Debottlenecking Pendidikan Madrasah

Istilah debottlenecking pernah popular pada awal pemerintahan Presiden SBY Jilid 2 yang berarti mengurai masalah. Debottlenecking dalam hal ini merujuk pada keadaan untuk mengurai...

Radikalisme dalam Tubuh KPK

Radikalisme bisa ada dimana saja.. Radikalisme itu bukan hanya berupa tindakan, tetapi lebih berbahaya adalah ideologi, terutama ideologi sekarang yang ingin menjadikan Republik ini sebagai...
liskafauziah
pegiat antikorupsi

Malam itu, sekitar 1000 massa berkumpul di depan kantor YLBHI Jakarta (17-09) sambil meneriakkan “Ganyang PKI, Bunuh PKI!” ada pula yang sambil bertakbir “Allahu Akbar”. Mereka menuntut untuk membubarkan diskusi yang katanya membangkitkan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara puluhan peserta yang mengikuti acara Asik Asik Aksi tertahan semalaman di dalam gedung dengan kondisi panik dan ketakutan.

Acara malam itu terselenggara akibat dari penghentian diskusi dan pemutaran film dengan tema “Pelurusan Sejarah 1965-1966” pada tanggal 16 September 2017 oleh kepolisian setempat. Alasannya karena diskusi tersebut di demo oleh massa yang mengakui Aliansi Masyarakat Anti Komunis. Banyak masyarakat sipil menilai hal tersebut menunjukan adanya kemunduran demokrasi di Indonesia. Sehingga perwakilan masyarakat sipil langsung berencana membuat aksi kesokan harinya.

Acara yang diselenggarakan 17 September 2017 berlangsung lancar sejak pukul 15.00 WIB hingga selesai pukul 21.30 WIB. Pun acara ini di jaga ketat oleh kepolisian sejak sore hari. Dari mulai sambutan, stand up comedy, pemutaran film dokumenter YBHI, dan ada pernyataan bersama terkait “Darurat Demokrasi” di Indonesia. Tak lupa penampilan Band Simponi, Band 3 Nada, Melany Subono, hingga Ananda Badudu ex Banda Neira menutup penampilan malam itu.

Dipenghujung acara saat Nanda masih memetikkan gitarnya dan bersenandung ria dengan para peserta, sekelompok massa datang sambil berteriak untuk menghentikan acara tersebut. Sontak panitia dan peserta menghalau upaya mereka karena bisa menimbulkan kericuhan. Dari dalam gedung orang-orang langsung bersiaga dengan menutup pintu dan membuat barikade dengan meja dan kursi agar massa dari luar tidak bisa masuk. Lampu ruangan dimatikan dan semua orang berkumpul di tengah panggung. Bersama-sama membacakan pernyataan sikap terkait kondisi Indonesia yang semakin mudur dalam berdemokrasi.

Pada pukul 10.00 WIB, panitia sigap untuk mengevakuasi para lansia dan para perempuan ke gedung lantai 3. Dalam keadaan panik, para peserta masuk ke dalam ruangan kerja ukuran 60 m2. Tak lama, beberapa panitia mengantarkan nasi kotak sisa acara tadi meskipun jumlahnya sangat terbatas. Kemudian panitia meminta setiap peserta dan panitia yang ada diruangan tersebut untuk mengisi identitas nama lengkap, lembaga, dan no telepon. Tujuannya agar mengetahui jumlah orang yang terevakuasi.

Kemudian sekitar pukul 10.30 WIB, seorang panitia memohon instruksi untuk beberapa hal seperti mengunggah pernyataan sikap dan kondisi terkini di gedung YLBHI, meminta dukungan teman-teman lain untuk mendukung peserta yang terjebak didalam gedung dengan meneruskan berita tersebut. Lalu, peserta harus melawan berita-berita hoax yang sudah tersebar terkait kegiatan dalam gedung YLBHI. Caranya dengan menceritakan kegiatan yang sebenar-benarnya. Namun peserta pula dilarang untuk mengunggah atau merekam kondisi lantai 3 karena khawatir massa mengetahui tempat persembunyian.

Sementara itu, para laki-laki dan beberapa wartawan dan panitia berjaga di lantai dasar dan memantau kondisi di luar gedung. Namun para peserta yang di lantai 3 hanya bisa hanya bisa mendengar riuhan dan teriakan massa. Mereka tidak bisa melihat kondisi diluar melalui jendela karna khawatir akan diketahui massa. Yang bisa dilakukan peserta hanya tetap bersikap tenang, berdoa, dan menunggu instruksi dari panitia yang ada di lantai bawah.

Sekitar pukul 00.30 WIB teriakan massa semakin keras, mulai terdengar tembakan. Semua peserta panik dan langsung berkumpul di beberapa titik ruangan yang lebih tersembunyi. Lampu segera dimatikan semua berdiri dalam keadaan bingung. Memantau informasi dari media sosial dan group terkait apa yang sedang terjadi diluar. Sesak, pengap, gelap, dan panik karena mendengar kericuhan diluar gedung.

Kondisi diluar terdengar kembali tenang meskipun masih ada teriakan-teriakan massa. Beberapa peserta kembali ke ruangan utama agar tidak terlalu pengap dan lampu utama kembali dinyalakan. Masih dalam kecemasan, peserta terus menggalang dukungan dari media sosial dan terus melakukan perlawanan pemberitaan hoax yang semakin tidak masuk akal.

Sekitar pukul 02.30 WIB ditengah kebisingan suara para demonstran yang semakin menjadi, beberapa kali terdengar bunyi tembakan. Kemudian terdengar beberapa kaca pecah dari lantai dasar dan terdengar ada yang melempar batu ke lantai 3. Kondisi ini membuat para peserta semakin panik dan takut massa akan segera masuk kedalam gedung. Semuanya kembali berkumpul di titik-titik persembunyian dan mematikan semua lampu. Beberapa orang mengangkat meja rapat yang panjangnya sekitar 5 meter ke dekat jendela untuk dijadikan barikade.

Psikologis peserta semakin tidak terkontrol. Beberapa orang sakit, adapula yang menangis histeris, yang lainnya saling berpegangan dengan temannya agar tetap mampu bertahan. Beberapa panitia naik keatas untuk membantu menenangkan kondisi di lantai 3.

Tak lama kemudian, sekita pukul 03.30 WIB terdengar instruksi bahwa akan ada proses evakuasi keluar gedung. Panitia mendahulukan beberapa teman yang sakit untuk segera dibawa ke rumah sakit. Kemudian dibuat kelompok-kelompok untuk didata dan diantarkan keluar gedung. Nampaknya suasana luar gedung sudah cukup kondusif. Tidak ada lagi massa yang berorasi, hanya para panitia, peserta laki-laki, wartawan, dan para polisi.

Diluar gedung semua peserta dan panitia diarahkan oleh Kepolisian. Semuanya diinstruksikan duduk sambil menunggu koordinasi untuk proses evakuasi. Setelah mendapat tempat tujuan dan kondisi jalanan aman, semuanya diarahkan untuk naik ke barakuda. Ada 4 barakuda yang mengantarkan peserta dan panitia ke Gedung Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Kejadian itu tentu amat membekas bagi para korban baik peserta maupun panitia yang tertahan dalam gedung YLBHI. Teringat kisah masa lalu saat Indonesia belum merdeka dimana masyarakat sipil harus bersembunyi dan diam dalam ancaman para penjajah. Atau kisah tahun 1965 saat banyak masyarakat sipil yang diduga anggota PKI harus mencari cara  agar tidak ditangkap oleh para ABRI pada masa itu.

Cerita ini memberi pesan bahwa demokrasi dan keadilan belum terwujud secara nyata di negara yang telah merdeka 72 tahun lamanya. Masyarakat belum terbebas dari intimidasi kelompok-kelompok yang ingin berkuasa. Namun, hal itu membuat mereka untuk lebih semangat dalam memperjuangkan keadilan dengan berbagai cara.

Oleh Liska Fauziah, Pegiat Antikorupsi ICW, Salahsatu korban kerusuhan di Gedung YLBHI.

liskafauziah
pegiat antikorupsi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.