Sabtu, Januari 16, 2021

Sriwijaya Air dan Undang-Undang Penerbangan; We Are Human After

Hukum dan Kuasa Politik dalam Kacamata Hukum Kritis

Pansus hak angket DPR RI bertemu dengan napi-napi kasus korupsi di Lapas Suka Miskin guna mengutip keterangan tentang pelaksanaan pemeriksaan kasus-kasus korupsi yang dilaksanakan...

Menyuarakan Keberagaman dalam Mewujudkan Persatuan

Bicara Indonesia tidak lepas dari bicara soal kemajemukan bangsa. Indonesia yang sangat besar dan penduduknya relatif banyak akan memberikan rekor tersendiri bagi bangsanya. Indonesia lahir...

Ada Apa dengan Pajak E-Commerce?

Di era sekarang dunia seakan terasa sempit dan penuh dengan kemudahan. Hal ini tidak terlepas dari peranan teknologi yang semakin canggih sehingga tak bisa...

Masalah Properti Milenial dan Land Value Tax

Tanah merupakan aset berharga yang mampu memberikan imbal hasil tinggi bagi pemiliknya. Imbal hasil tersebut didapatkan dari meningkatnya harga jual tanah setiap tahunnya. Imbas dari...
Annisa Salsabila
Annisa Salsabila, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bengkulu sejak 2018.

Apapun yang kami sukai, siapapun yang kami cintai, telah kami tinggalkan diujung landasan. Apapun yang terjadi, itu kehendak Tuhan.”-Anonim

Awal tahun yang kelabu, 9 Januari 2021 kita dikejutkan dengan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak yang hilang kontak sekitar 4 menit setelah lepas landas (takeoff) dari Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini semakin membuat polemik mengenai jawaban atas penyebab terjadinya beberapa kecelakaan pesawat di Indonesia terus menjadi sorotan, lantas akankah kita mengkaitkannya dengan hasil investigasi kecelakaan pesawat yang tidak dilakukan secara terbuka?

Pesawat yang diduga jatuh dari ketinggian 10.000 kaki kurang dari satu menit ini mengangkut setidaknya 56 penumpang yang terdiri dari 46 dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi. Data ini tentu menyisahkan pilu mendalam dan trauma bagi siapapun yang mendengarnya. Sky is vast, but there’s no room for error, kalimat ini tampaknya terus menjadi lampu kuning bagi segenap penyelenggara penerbangan diseluruh dunia.

Jika menilik buku James Reason yang menulis tentang Human Error, kecelakaan pesawat mayoritas terjadi tidaklah karena single factor, melainkan several factors yang terdiri dari faktor fisik dan psikologi, faktor lingkungan, faktor internal, hingga faktor situasional. Menurut lembaga administrasi penerbangan Federal Amerika Serikat, FAA (Federal Aviation Administration) menyebut sebagian besar penyebab kecelakaan penerbangan karena faktor manusia atau human error, selebihnya karena faktor pesawat itu sendiri seperti teknis instrumen mesin dan teknologi pesawat yang menyebabkan terjadi kecelakaan pesawat. Tak terkecuali cuaca juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.

Penyebab terjadinya kecelakaan tersebut secara umum akan disampaikan oleh KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) melalui hasil investigasi teknis yang dilakukannya. Paradigma yang dilakukan oleh KNKT dalam hal ini bersifat preventive action, bertujuan untuk mencegah jangan sampai terjadi kecelakaan dengan sebab yang sama. Unsur-unsur paradigma preventive action adalah tidak akan menyalahkan siapapun, tidak memerlukan bukti, tidak memerlukan saksi yang memiliki dampak hukum, tidak terbuka untuk umum dan tidak akan diajukan kepengadilan yang diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan yang sejalan dengan kebijakan Organisasi Penerbangan Internasional yakni Annex 13 tentang Aircraft Accident Investigation.

Ya, aturan tersebut dapat dilihat melalui pasal 359 ayat (1) yang menegaskan “Hasil investigasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan”. Tak heran jika selama ini pihak korban kerap mengaku kecewa dengan isi laporan awal ataupun final report yang dirilis KNKT karena dinilai kurang spesifik dan tidak ada informasi baru selain yang sudah beredar luas di masyarakat. Mengajukan gugatanpun? Tidak diberi akses.

Untuk beberapa kasus, perusahaan penerbangan tampaknya patut menjadi sorotan. Pesawat Boeing 737-500 yang mengalami tradegi kali ini diketahui berusia 26,7 tahun yang pertama kali terbang pada tahun 1994 menuju pemilik pertamanya yakni Continental Air Lines (Amerika Serikat). Memang, pada dasarnya pesawat terbang tidak dibatasi oleh usia pakai. Namun, pertanyaan terpusat pada apakah maskapai sudah melakukan kewajibannya untuk melakukan pengecekan secara berkala? Terlebih untuk pesawat yang terbilang tua pasti membutuhkan frekuensi pengecekan yang jauh lebih tinggi daripada pesawat  baru.

Secara teoritis menurut Henry Abraham Wassenbergh dalam bukunya yang berjudul International Air Transport in the Eighties menjelaskan, bahwa sesungguhnya tujuan utama investigasi kecelakaan pesawat udara ialah untuk menjamin keamanan penerbangan. Maka dari itu, sistem investigasi kecelakaan pesawat udara di Indonesia seharusnya tidak memisahkan model investigasi teknis dan model investigasi hukum. Adapun model investigasi hukum berkutat pada mencari siapa yang paling bersalah dan bertanggung jawab akibat terjadinya kecelakaan pesawat udara.

Hingga saat ini, konsep pertanggungjawaban dikembalikan kepada pihak maskapai dengan cara memberikan kompensasi kepada keluarga korban kecelakaan pesawat udara sebagaimana yang dimaksud dengan konsep strict liability (pertanggungjawaban mutlak) yang tidak harus dibuktikan kesalahannya terlebih dahulu layaknya konsep liability based on fault yang kerap dipraktikkan dalam kasus-kasus lingkungan.

Tak hanya berhenti dipasal 359 ayat (1), ayat (2) pun menyebut ada beberapa data hasil investigasi yang digolongkan sebagai non-disclosure record atau data yang tidak boleh disampaikan ke publik yang terdiri dari pernyataan dari orang-orang yang diperoleh dalam proses investigasi, rekaman atau transkrip komunikasi antara orang-orang yang terlibat di dalam pengoperasian pesawat udara, Cockpit Voice Recorder, Air Traffic Services, Flight Data Recorder, hingga informasi mengenai kesehatan atau informasi pribadi dari orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan atau kejadian.

Pertanyaan lantas berfokus pada apakah dari enam data tersebut tidak ada satupun yang bisa diakses oleh publik dan dijadikan sebagai alat bukti di persidangan? Sebab publik terutama keluarga korban jelas memiliki legal standing untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari suatu kecelakaan pesawat terbang dengan mengetahui beberapa dari enam data yang digolongkan sebagai non-disclosure record tersebut.

Setidaknya kita memiliki pandangan yang sama bahwa investigasi ditujukan guna mencari akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat agar dapat segera diatasi sehingga tidak berdampak pada penerbangan lainnya. Namun, kita perlu kembali menimbang efektivitas pembaruan model investigasi yang akan berpengaruh tidak hanya bagi keselamatan penerbangan, melainkan juga akan menjadi pelajaran bagi pihak mana pun yang terlibat dalam kecelakaan pesawat untuk lebih berhati-hati.

Melalui tulisan ini, Penulis juga menyampaikan duka mendalam dan doa yang teramat tulus untuk segenap korban dan keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak. Kembali pada judul tulisan ini, we are human after all.

Annisa Salsabila
Annisa Salsabila, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bengkulu sejak 2018.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.