OUR NETWORK

Spiritualitas, Kritik Modernisme yang Dangkal

Manusia bingung menentukan arah tujuan hidup yang memberi makna akan keberadaannya sebagai manusia yang diberi akal, hasrat, dan hati perasaan.

Realitas berjalan begitu cepat, bergulir terus menerus menggilas semuanya yan lambat dan tidak mau bergerak. Modernisme yang menjanjikan kehidupan lebih baik, malah berjalan tanpa arah akan di mana muara yang tujuannya.

Manusia dikontrol oleh teknologi yang membawa pada hilangnya eksistensi sebagai manusia seutuhnya. Materialisme dan individualisme menjadi laku keseharian yang tanpa rasa belas kasian menyingkirkan yang lian.

Ketidakbermaknaan yang dibungkus eksistensi grombolan menjadi ukuran kesuksesan seseorang. Ketika manusia terpuruk pada ketidak mampuannya beradaptasi dengan kondisi sosial, jalan pintas meregang nyawa menjadi pilihan yang tidak dapat dipersoalkan.

Begitulah cerminan kondisi manusia hari ini yang sedang kita alami, kehidupan yang dibalut dengan ukuran-ukuran semu dan ketakutan akan hari esok yang diciptakan sendiri tanpa tahu apa yang akan terjadi.

Pertanyaanya kenapa semua itu bisa terjadi, bukanya manusia hari ini sudah bisa menciptakan teknologi  yang dapat digunakan untuk mengolah hasil kekayaan alam yang mendulang banyak kekayaan dan mempermudah aktivitas manusia.

Tidak cukup disitu, bukanya relasi manusia sudah begitu mudahnya dengan adanya berbagai teknologi canggih sehingga jarak bisa dilipat dengan satu sentuhan tangan. Semua itu adalah hasil cipta karya masyarakat modern yang mengagap masyarakat paling unggul selama sejarah umat manusia.

Namun terlepas dari itu semua, bisa dikatakan dalam fase ini manusia telah mengalami krisis yang begitu dalam atas ketidak bermaknaan hidup yang esensial. Hari ini Manusia terjebak pada cara fikir modernisme yang memuja rasionalisme dan materialisme yang pada kenyataanya membawa manusia pada nihilitas tetang tujuan hidup yang memberi kebahagiaan. Manusia bingung menentukan arah tujuan hidup yang memberi makna akan keberadaannya sebagai manusia yang diberi akal, hasrat, dan hati perasaan.

Semuanya menjadi persoalan mendasar masyarakat modern hari ini yang dikritik keras oleh Sayyed Hossein Nasr salah satu intlektual dari Iran dalam salah satu Esai dari Khoarudin Hidayat.

Intelektual jebolan dari Universitas Harvard yang menekuni kajian History of Science and Philosophy, dengan titik tekan pada islamic and Philosopy, mengeluarkan kritik yang begitu dalam terhadap modernitas dan kondisi masyarakat Barat, tetapi dalam hal ini Nasr tidak memeberi batasan siapa konteks Barat yang dimaksut.

Namun dalam pemahaman saya yang di maksut Barat adalah kualitas kehidupan yang orientasinya dianggab rasionalistik dan kapitalistik dan cenderung melepaskan pandangan tentang kegamaan.

Dalam banyak studianya Nasr menjadi salah satu juru bicara yang mehubungkan masyarakat dunia Islam di timur dan masyarakat Barat. Di dalam dunia Barat ia menawarkan pemikiran Islam dalam wacana sufistik yang ditawarkan sebagai alternatif nilai hidup way of life, sementara itu pada dunia Islam ia memeberitahu bahwa Barat sedang mengalami krisis spiritual, yang menurutnya tidak cukup dipahami oleh dunia Islam di Timur. Sedangkan untuk menemukan alternatif baru Nasr mengunakan pendekatan falsafi dan sufistik.

Kritik yang dilakukan oleh Nasr mengenai masyarakat Barat yang sering digolongkan sebagai the post industrial society, dimana suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuran materi dibarengi dengan kecanggihan teknologi yang serba mekanis dan otomatis, bukanya membawa Barat untuk mendekati kebahagian hidup, melainkan sebaliknya, dihinggapi rasa camas akibat kemewahan yang mereka miliki.

Barat telah menjadi pemuja ilmu dan teknologinya, sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaanya tereduksi dan terperangkap pada jaring yang mereka buat sendiri yaitu teknologi  yang sangat tidak human tersebut.

Menurut Nasr perkembangan masyarakat Barat telah kehilangan visi keillahian dan telah tumpul penglihatan yang disebut Nasr intellectus-nya dalam melihat realitas hidup dan kehidupan. Yang dimaksut dengan intellectus mempunyai konotasi kapasitas hati, yang merupakan satu-satunya elemen yang ada pada diri manusia, yang dapat menangkap bayang-bayang Tuhan yang diisyrakatkan oleh alam semesta.

Karna fungsi intellectus dalam diri manusia Barat tidak difungsikan lagi, maka yang ada pengetahuan apa pun yang diraih manusia modren tidak lebih dari pengetahuan yang bersifat parsial dan tidak utuh lagi.

Disamping itu bukan wawasan pengetahuan yang sesungguhnya dapat mendatangkan kearifan untuk melihat lapis hakikat dari alam semesta sebagai satu kesatuan yang tunggal, yang merupakan cermin dari keesaan dan kemahakusaan Tuhan.

Dari hal itu kata Nasr, tidak bisa diharapkan dari mereka (Barat) masyarakat yang ada di pinggir (rim atau periphery) dengan bekal pengetahuan yang terpecah-pecah (fragmented knowleadge) akan sanggup mengungkap tabir dari hakikat kehidupan yang utuh dan menyeluruh.

Dari hal itu juga menurut Nasr orang yang dapat melihat realitas lebih utuh manakala ia berada pada titik pusat center. Dan ini memperlukan apa yang disebut dengan pendakian sepiritual dan ketajaman intellectus.Tidak cukup disitu ditandaskan oleh Nasr bahwa pengetahuan fragmentaris tidak dapat digunakan untuk melihat realitas yang utuh kecuali memiliki visi intellectus tentang yang utuh.

Apa yang dilakukan Nasr sebenarnya untuk melihat bagaimana kondisi mentalitas Barat yang sesungguhnya sangatlah kering karna tidak ada pandaran dari cahaya Tuhan. Namun Nasr sangatlah berbeda dengan para sufi yang melangkahkan kakinya ke dalam wilayah Tuhan pateisme.

Karena Nasr mengakui bahwa realitas sesunguhnya obyektif dengan hukum-hukumnya yang ada dan melekat padanya, tetapi menurut Nasr jangan jadikan alam ini menjadi terminal terakhir orientasi kehidupan dan hendaknya segala ilmu dan usaha manusia berupa “kepingan-kepingan” di ikatkan pada center tadi, agar tidak terplanting ke wilayah pinggiran seperti yang telah dijelaskan diatas. Upaya itu sangat mungkin dilakukan bilamana manusia mempunyai kesadaran religius dan ketajaman visi intellectusnya, suatu ketajaman intuisi yang melampaui ketajaman rasio.

Namun sayang ungkap Nasr bahwa porsi intellectus ini, tidak mendapatkan tempat dalam kajian metafisika barat kontemporer hari ini, terutama sejak rasionalisme yang tersistematisasikan ini berkembang yang mengakibatkan manusia hanya di lihat dari tiga dimensi yaitu, pesikis, fisik, dan rasio yang mengakibatkan dimensi spiritualnya ditinggalkan.

Padahal metafisika pada mulanya merupakan ilmu yang suci (scirntia sacra) dalam bahasa Islam pengetahuan keilahiahan, bukan filsafat yang profan (profan philosophy) seperti yang berkembang hari ini yang hanya mengahasilkan konsepsi ruhaniah yang semu.

Dalam konteks agama Islam itu sendiri, spiritualitas yang sering disebut ilmu tasawuf merupakan unsur terpenting untuk membentuk karakter keberagamaan (islam) yang diimplementasi

kan dalam prilaku keseharian manusia berupa cinta kasih kepada sesema mahluk Tuhan. Disamping itu, jalan tasawuf dengan  laku sufinya merupakan kunci untuk mendapatkan kedamaian dunia dan akhirat, karna dengan menempuh jalan itu kebermaknaan hidup dapat di raih dari hasil  penyerahan totalitas manusia terhadap semua ketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan.

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, pernah menjadi Pemimpin Umum LPM Arena UIN Sunan Kalijaga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…