Senin, April 12, 2021

Spirit Marhaen, dari Purwakarta untuk Jawa Barat

Muhammad Dalam Kacamata Orientalis

Dalam perkembangan tradisi keilmuan, terdapat ilmuan barat yang mempunyai concern terhadap dunia Timur dikenal sebagai  orientalis. Kaum orientalis ini mengkaji dunia Timur (termasuk Islam)...

Tauhid Pemersatu Umat Islam

Tulisan ini muncul dari diskusi kecil di warung kopi sore hari. Awan gelap seakan menambah kesyahduan tukar pikiran dengan kawan-kawan. Ditemani secangkir kopi wine...

Fanatisme Politik dan Kebiadaban terhadap Pers

Tidak berbeda dengan masa lampau, pada saat ini juga masyarakat melihat atau bahkan mengalami di mana pers sudah benar-benar dialihfungsikan sebagai media yang selalu...

Masa Depan Perda Syari’ah

Setelah Indonesia merdeka dan menyepakati Pancasila sebagai dasar negara, tidak berarti bahwa perjuangan kearah negara Islam berhenti. Perjuangan terus digelorakan diberbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Sosok Ki Marhaen adalah orang yang mempengaruhi pemikiran Soekarno muda agar menjadi masyarakat berdikari dan berdaulat. Dari Ki Marhanen tersebut lahirlah pemikiran tentang ‘Marhaenisme’, di mana masyarakat Indonesia harus berdikari dan berdaulat.

Bung karno memperjuangkan nasib masyarakatnya dari tukang menjadi tuan di tanah airnya sendiri. Berpuluh tahun kemudian, spirit berdikari yang di lakukan oleh Soekarno dilakukan pula oleh Dedi Mulyadi selama memimpin Purwakarta. Gagasan Dedi Mulyadi untuk membangun ekonomi yang bertumpu pada masyarakat di terapkan dalam setiap kebijakannya.

Dedi yang merupakan tipikal pemimpin yang datang ke kerumah-rumah warga secara langsung mengetahui kondisi keadaan perekonomian masyarakatnya. Semangat menanam, semangat berternak terus digalakan Dedi pada masyarakatnya. Agar mereka berdikari secara ekonomi.

Sekedar contoh, pada tahun 2013 silam, di Kecamatan Cibatu dedi bertemu dengan seorang bocah angon (anak penggembala) kelas dua SD yang menggembalakan domba milik orang lain.

Cara menghitung pendapatannya dilakukan melalui persentase antara pemilik dan penggembala secara ‘maro’ (bagi hasil). Sebagai seorang marhaen, Dedi memberikan lima ekor domba secara cuma-cuma yang terdiri dari empat ekor betina dan satu ekor jantan.

Semenjak diberi domba, anak tersebut tidak lagi menggembala domba orang lain, tetapi domba miliknya sendiri. Musim berubah tahun berganti, domba yang lima ekor tersebut terus beranak pinak. Sekarang ini domba tersebut sudah berjumlah puluhan ekor.

Selanjutnya tinggal kita nantikan saja, berapa ratus ekor domba ketika dia sudah lulus SMA nanti?

Ketika anak tersebut akan melanjutkan sekolah keperguruan tinggi, dia tidak harus repot-repot mencari biaya karena dia sudah memiliki harta sendiri. Begitupun saat ia lulus kuliah, ia tidak perlu sibuk mencari pekerjaan, karena dia sudah memiliki peternakan sendiri.

Inilah cara yang dilakukan oleh kang dedi mulyadi untuk merubah nasib masyarakatnya dari yang tadinya tukang menjadi tuan di tanah airnya sendiri. Begitupun dengan seorang petani di wilayah Campaka yang memiliki beberapa petak sawah warisan dari orang tuanya.

Memang dia belum pernah berbicara secara langsung dengan Dedi Mulyadi. tetapi kepercayaan dirinya menjadi seorang petani tumbuh ketika dia mendengar pidato Kang Dedi saat kunjungan ke desanya.

Dengan tiga petak sawah cukup untuk menghirupi empat anak dan satu istrinya. Tapi dalam semangatnya ia ingin memiliki anak memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya.

Dari hasil panen tiga petak sawah kecil ia sisihkan untuk biaya anak sulungnya kuliah, mereka berdua rela berpuasa agar bisa mengurangi konsumsi beras dan pengeluaran yang lebih besar.

Walaupun panen tidak selamanya mulus, tapi terus sisihkan uang tersebut agar anaknya lulus dari perguruan tinggi. Beberapa tahun lalu anaknya lulus, ia pun tersenuyum bahagia. Pesan yang ingin saya sampaikan dalam hal ini, hanya dengan sawah kecil beberapa petak kecil tetapi bukan hanya cukup untuk dia makan, tapi juga berhasil melahirkan sarjana yang jarang terjadi di desanya.

itulah yang dilakukan oleh seorang pemimpin Dedi Mulyadi. perkataan dan perbuatannya bukan hanya mengilhami orang-orang. tetapi juga mengangkat derajat orang-orang yang hidupnya memiliki semangat.

Maka tidak heran kalau saya menyebut sosok Dedi Mulyadi sebagai anak Ideologis Bung Karno di Jawa Barat. Ini hanya contoh kecil yang dilakukan oleh Dedi untuk merubah nasib masyarakatnya, karena realita diluar sana masih banyak lagi orang-orang yang berhasil dan berdaulat berkat bantuan moralnya.

Spirit Marhaen yang diajarkan Bung Karno yang ingin terus diwujudkan dan terlestarikan di Purwakarta. Spirit Marhaen yang hendak ditularkan lebih luas, dari Purwakarta ke Jawa Barat. Salam hormat untuk Bung Karno, salam hormat untuk Ki Marhaen, salam hormat untuk Dedi Mulyadi.

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.