Minggu, April 11, 2021

Spasi yang Makin Lebar dalam Politik dan Ideologi Kita

Mengenalkan Spiritualitas Jawa

Melalui karya berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness, Paviliun Indonesia hadir dalam seminar berjudul The Tale of The Void, yang dilaksanakan Minggu (8/7), di...

Kerakusan Elite Politik Negeri Ini

Pembahasan RUU Pemilihan Umum, kini sudah beumur sepakan sejak disahkan oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam sidang paripurna pada Jum’at, 21 Juni...

Perang Dominasi antar Angkot

Kasus pahit antar para sopir angkot baik yang umum maupun yang online sudah memadati alam pikiran kita akhir-akhir ini. Di Makassar sendiri, bahkan para...

Manfaatkan Halaman Kosong

Kita adalah makhluk yang boros terhadap penggunaan kertas. Seringkali kita tanpa sadar menyia-nyiakan kertas yang sebenarnya masih bisa kita gunakan, akan tetapi karena tiadanya...
Dhanny Sutopo
Pengajar pada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) Univ. Brawijaya Malang, sedang menempuh program doktoral pada Universitas Airlangga

Suhu politik saat ini guna menanti festival demokrasi kepemimpinan nasional cukup membara, padahal masih enam bulan kedepan. Statement termutakhir dari petinggi Partai Demokrat, SBY hiruk pikuk atmosfer politik saat ini adalah kelanjutan dari Pilkada DKI.

Baiklah kita coba sedikit menengok proses Pilkada Ibu Kota Jakarta kemarin periode 2017-2022. Saat itu jagad maya ataupun netizen membara. Perbedaan keyakinan dari calon petahana yang turut maju, seolah membangunkan kelompok-kelompok masyarakat. Terutama dari kelompok muslim, mulai memberikan respon dan menanggapi isu kepemimpinan yang berasal dari pemeluk agama minoritas di Indonesia.

Kelompok muslim mulai dari yang tradisional, moderat hingga garis keras atau fundamentalis, saling berebut memberikan argumen sehingga menjadi discourse, terkait dengan isu kepemimpinan dan good governance.

Perbedaan pandangan tersebut telah merubah suksesi kepemimpinan dari arena politik menjadi sebuah pertarungan ideologi. Palagan yang seharusnya tempat bertarungnya program-program, visi, figure dan rekam jejak.

Riuh dengan konsep seperti jihad, haram, kafir, kemaslahatan umat dan lain-lain. Hingga kondisi seperti itu berpengaruh terhadap kondisi psikologis masyarakat dalam menentukan atau memilih pemimpin pemerintahan. Dan politikpun tertikam oleh pertarungan ideologi, hingga diapun takluk.

Menariknya, pola yang sama coba di “copy-paste” untuk pesta suksesi pimpinan nasional, namun ideologi yang dijadikan gelanggan tidak berbeda kutub. Dua kandidat pemimpin negeri sama-sama muslim.

Mirisnya jika para calon-calon kontestan berada pada kutub keyakinan/agama yang sama. Maka amunisi pertarungan akan menghasilkan pandangan dengan merujuk pada teks-teks sakral yang bernuansa dogmatis, saling klaim sebagai “penjaga” agama dan pelindung umat. Hingga menuduh calon yang lainnya tidak semurni dirinya. Kecenderungan tersebut mulai merayap mewujud, dibeberapa panggung-panggung kampanye Pilpres.

Ladang Fundamental 

Memercayai bahwa kepercayaan mereka hanyalah satu-satunya yang sejati, adalah cawan subur tumbuhnya aktivitas kelompok yang berdasarkan fundamentalisme agama (Hoffman, 1998). Memang istilah fundamentalisme sendiri hingga saat ini belum merujuk pada sebuah definisi yang final, karena luasnya dimensi ideologi transnasional yang mewadahinya. Namun yang pasti dia juga tidak hadir dari sebuah ruang yang kosong. Dan nahasnya Pilkada dapat menjadi lakmus dari sebuah fundamentalisme agama.

Terdapat beberapa karakteristik fundamentalisme. Salah satunya tentang definisi mengenai “fundamentalis,” yang di sini adalah dalam hal kontrol yang mereka inginkan untuk diterapkan dalam interaksi sosial dengan non-fundamentalis.

Para fundamentalis cukup kukuh dalam ketidakmampuan mereka untuk berkompromi atas masalah seperti moralitas dalam kehidupan pribadi, korupsi dalam kehidupan negara atau publik, dan kekurangan yang mereka soroti dalam aturan hukum negara.

Bagi  fundamentalis, perbedaan kelompok dapat didasarkan pada suku, agama, budaya, bahasa, warna kulit, penampilan, dan lainnya. Ketika jurang perbedaan kelompok menjadi “fundamental,” dan sangat meresap dalam masyarakat, akan tiba satu titik di mana perbedaan tersebut akan menjadi konflik.

Namun dalam abad ke-21 ada hubungan bahwa kekuasaan negara mulai berkompromi terhadap kelompok yang berpandangan konservatif. Agama dan gerakan keagamaan dapat langsung mempengaruhi politik internal negara dan dengan demikian memenuhi syarat kekuasaan negara. Misalnya, Injili Protestan di Amerika Utara menghasilkan dampak agama dan politik yang cukup kentara di Guatemala pada 1980-an.

Hasilnya, Gereja Katolik sebagai suprastrukturnya kehilangan banyak peran pentingnya dalam kelembagaan tradisional. Secara perlahan, terdapat aliansi yang terbentuk antara Injili Protestan dan politisi konservatif berbagai macam yang berbagi tujuan yakni untuk menghancurkan struktur politik yang kompetitif dan kemajuan sosial (Haynes, Jeff. 2001)

Di Indonesia, kemunculan fundamentalisme Islam menemukan momentumnya kembali pasca reformasi. Berbagai macam isu politik dilancarkan untuk menempatkan pemimpin yang “religius” ke dalam kekuasaan dan agama mulai dijadikan legitimasi politik untuk memilih pemimpin. Hal ini berakar pada satu dekade sebelum pecahnya reformasi.

Pada masa orde baru, terdapat juga bentuk politik jalanan Muslim dari tahun 1990-an secara bertahap menjadi lebih menonjol dan yang muncul untuk menikmati diam- dan juga mendapat dukungan dari faksi dalam rezim Suharto. Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), muncul pada 1987.

Namun pergerakan publiknya mulai 1990, hampir bersamaan pada saat ICMI didirikan. Para pendirinya ditengarai sebagai “garis keras”, yang berpegang kuat pada konspirasi Yahudi dan Kristen Barat untuk melemahkan atau menghancurkan Islam, dan umumnya memusuhi non-Muslim (Martin van Bruinesse. 2002)

Dengan merebaknya bermacam-macam media sosial sebagai new media di era informasi digital, kecenderungan individu untuk mendapatkan informasi menjadi lebih “instan” dari sebelumnya.

Banyaknya informasi tentang paham agama yang dihubungkan dengan isu politik menjadi sebuah paradoks tersendiri, di mana individu menjadi sulit memilah informasi yang obyektif, dan cenderung lebih bias. Media sosial yang paling populer di Indonesia ialah Facebook, Twitter, YouTube dan berbagai aplikasi penyampai pesan instan lainnya.

Bias politik ini dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk memperkuat propaganda dan identitas atau afiliasi politiknya agar tetap eksis di konstelasi kekuasaan nasional. Tak terkecuali kelompok Islam fundamentalis yang sempat mengalami represi pada masa pemerintahan Soeharto. Dengan adanya media sosial, paham fundamentalisme mampu menyebar tanpa harus melalui institusi legal maupun mencari dana yang lebih banyak. Terdapat berbagai jenis wacana yang dilemparkan, termasuk bagaimana tata cara memilih pemimpin yang sesuai dengan ajaran Islam.

Kita berharap Pemilu 2019 adalah ajang kedewasaan dalam berpolitik, ketika pemilih (voters) dihidangkan metode propaganda dengan sentimen-sentimen agama dengan tujuan jangka pendek, hal ini akan menikam harapan dari lahirnya pemimpin  nasional yang berkinerja, berpihak pada rakyat serta berufuk kesejahteraan.

Dhanny Sutopo
Pengajar pada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) Univ. Brawijaya Malang, sedang menempuh program doktoral pada Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.