Minggu, Maret 7, 2021

Solidaritas yang Lebih Besar

Nasib Honorer Siapa yang Memperhatikan?

Pendaftaran CPNS sebentar lagi akan digelar baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, bahkan formasi dan kuota CPNS pun telah diumumkan. Namun ada hal yang...

Memanusiakan Aplikasi Ojek Online

Ojek Online atau yang acap kali dibunyikan Ojol seketika menjadi primadona di Indonesia sejak kelahirannya beberapa tahun silam. Untuk wilayah Banjarmasin khususnya, kehadiran Ojol...

Undang-Undang dan Ambiguitasnya

Fungsi utama parlemen ialah legislasi. Membuat undang-undang. Sebentuk aturan yang diposisikan banyak orang demikian luhur, sekaligus ngeri. Sebab ia bisa memaksa orang untuk patuh...

Sebuah Prahara Bangsa Moro

Suku Moro di Mindanao. Sebuah bangsa etnoreligius yang hidup dalam entitas keberagaman dan adat-istiadat yang kuat. Dahulu, di tanah itu, nenek moyang mereka hidup...
Avatar
Ubaidillah
Penulis, Kader PCPM Sawahan, Surabaya

Setiap manusia memiliki akal pikiran dan keyakinana yang berbeda-beda. Oleh karena itu sangat dimungkinkan ketika manusia lebih mementingkan pribadinya dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Selain mempunyai akal pikiran dam keyakinana yang berbeda manusia juga berhak atau bebas dalam menentukan pilihannya sendiri.

Kebebasan manusia sangat diperlukan demi mewujudkan potensi dirinya. Akan tetapi kebebasan itu hanya berlaku ketika manusia hidup seorang diri. Beda halnya ketika manusia hidup bermasyarakat. Dikarenakan ketika manusia hidup bermasyarakat dia akan bertemu dengan individu-individu yang lain yang juga memiliki akal pikiran, keyakinan, dan kebebasan yang sama. Demikian itu, ketika manusia hidup bermasyarakat maka kebebasan yang dimilikinya dihalangi oleh kebebasan orang lain.

Jean-Paul Satre berpendapat, relasi antara manusia diawali oleh konfilik. Dikarenakan dari perbedaan manusia itu mereka saling mengobjekkan satu sama lain. Dari konflik tersebut manusia akan mengelompokkan dirinya atas kesamaan pemikiran, keyakinan, tujuan, dan kepentingan. Manusia tidak mungkin bersatu tanpa ada tujuan dan rasa yang sama.

Seperti halnya di Indonesia yang memilliki banyak suku dan budaya, dari sabang hingga merauke bermacam-macam suku dan budaya. Namun itulah kekayan Indonesia. Akan tetapi kenapa Indonesia bisa bebas dari penjajah? Kenapa cita-cita besar bangsa Indonesia itu bisa tercapai? Ketika dilihat dari perbedaan  Indonesia yang multikulturalisme, cita-cita itu tidak mungkin tercapai. Seperti apa yang telah di lakikan oleh pejuang-pejuan daerah, meraka mampu dipatahkan oleh belanda.

Dari segi multikulturalisme Indonesia dibutuhkannya solidaritas yang tinggi agar apa yang dicita-citakan tercapai dengan mudah. Seperti halnya yang terjadi pada masa penjajah, para pejuang melawan penjajah berdasarkan kesamaan latar belakang dan tujuan untuk merdeka. Sehingga mereka tidak lagi memandang perbedaan satu sama lain. Oleh karenanya bangsa Indonesia mampu merebut kemerdekaan.

Begitu juga pesan yang disampaikan Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam karyanya Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, beliau berpesan bahwa kita harus banyak menghindari konflik antar etnis, suku dan budaya. Karena Nusantara terlalu elok untuk dijadikan medan tempur. Indonesia seharusnya bisa banyak belajar dan memetik kearifan dari pendahulu. Beliau menyampaikan agar Indonesia dapat menjadi negara besar karena telah menghargai dan mengambil pelajaran dari pendahulu, serta saling menjaga kerukunan sebangsa setanahair.

Pancasila dan Semangat Religiusitas

Bangsa Indonesia terbentuk atas keragaman suku, ras, bahasa, adat, budaya dan agama. Dengan kerelaan hati semua elemen dari berbagai latar belakang itu bergabung ke dalam sebuah bangsa baru di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua). Semboyan ini berasal dari falsafah kuno yang ditulis menggunakan huruf latin dan sudah digunakan sejak dulu untuk menyatukan Nusantara.

Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika harus diterima sebagai identitas, sebagai kenyataan pertama dan utama yang harus dipahami untuk saling melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Dengan adanya pluralitas, maka persatuan dan kesatuan dengan sendirinya menjadi prioritas yang mesti dikawal secara mendasar. Rajutan nilai yang telah diterima sebagai konsensus bersama perlu terus diperkuat melalui pemahaman utuh untuk dieksternalisasi dalam hidup sehari-hari.

Selanjutnya, dalam pembukaan konstitusi kata ketuhanan memiliki landasan historis yang cukup mendalam dalam sejarah kebangsaan. Secara historis menurut Yudi Latif, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sudah mengenal agama. Sejak zaman duhulu, masyarakat Nusantara menganut suatu agama tertentu, mulai dari agama-agama lokal, Hindu, Budha, hingga Islam.

Kalimat Ketuhanan yang maha esa berdasarkan konsensus, menjadi sila pertama dari Pancasila. Kata ketuhanan pada sila pertama tersebut menunjukkan adanya sikap religiusitas yang dipeluk masyarakat beragama Indonesia. Secara bahasa, religius berasal dari bahasa Latin religio yang berarti mengikat.

Sedangkan secara pengertian, religius berarti berhati-hati dan berpegang teguh pada norma (agama) secara ketat. Dengan kata lain, religiusitas adalah segala tindak tanduk sikap perbuatan yang didasarkan pada norma agama yang dianut. Nilai religiusitas merupakan konsekuensi dari masyarakat berketuhanan itu sendiri.

Implementasi nilai-nilai religiusitas sesungguhnya bukan sekedar menjalankan ibadah ritual semata, tetapi menghayati aturan dan ritual agama sehingga perilaku tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Inti dari ibadah atau ritus keagamaan adalah menciptakan kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial.

Semakin religius seseorang, maka semakin banyak ia berbuat kebaikan bagi masyarakatnya, atau, semakin saleh seseorang, maka semakin banyak ia memberikan manfaat bagi banyak orang. Religiusitas seseorang diharapkan dapat tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya dengan kejujuran, integritas, empati, saling tolong menolong, bergotong royong dan solidaritas sosial.

Meningkatkan Solidaritas Berbangsa

Manusia yang sesungguhnya adalah mahluk sosial, di mana mereka membutuhkan orang lain, dalam arti kata lain manusia tidak bisa hidup sendirian. Maka sangat diperlukannya solidaritas.

Solidaritas penting sekali untuk di terpakan dalam kehudupan sosial, karena solidaritas berpengaruh besar terhadap kehidupan sosial budaya manusia. Terleih seperti Negara Indonesia yang multikultural dalam arti memiliki banyak perbedaan, solidaritas harus menjadi kebutuhan setiap bangsa.

Apabila rasa solidaritas telah hilang maka yang tersisa hanyalah perbedaan-perbedaan antar individu manusia. Ketika manusia sudah terlalu mementingkan dirinya sendiri, kihidupan yang harmonispun tidak akan pernah tercipta.

Penanaman rasa solidaritas harus dilatih sejak dini. Melihat dari pentingnya solidaritas yang dapat memperkaya relasi, budaya dan persatuan, maka solidaritas harus diusahakan dan dipertahankan.

Cara untuk melatih rasa solidaritas, mulailah dari hal kecil seperti tidak membeda bedakan orang lain, saling menghargai satu sama lain, saling membangun dan membesarkan. Setelah pelatihan telah diterpkan sejak dini maka usahakanlah rasa solodaritas itu tetap ada dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari demi tercapainya kihidupan yang harmonis dan damai tentram tanpa ada konflik.

Melihat Negara Indonesia yang sedang dilanda oleh Covid-19 maka untuk mengatasi problem itu kita harus tingkatkan rasa solidaritas yang tingi. Seperti halnya memperhatikan apa yang telah dianjurkan pemerintah dan juga ikut berperan andil dalam mengatasi masalah ini. Dengan atas nama bangsa Indonesia dan juga demi tujuan yang sama yaitu membersihkan Covid-19, semuanya bersatu dan menjadi satu.

Oleh sebab itu, tugas pemerintahan, masyarakat Indonesia, tentu Pemuda Muhammadiyah, terutama pasca milad ke-88, seutuhnya adalah menguatkan solidaritas. Karena dengan menguatkan solidaritas sesama kader bangsa, adalah bukti bahwa kita telah menjaga nilai luhur yang diwariskan pendahulu kita.

Avatar
Ubaidillah
Penulis, Kader PCPM Sawahan, Surabaya
Berita sebelumnyaMuhammadinu dan Nuhammadiyah
Berita berikutnyaOrang-Orang Kelaparan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.