Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Solidaritas Ekologis

Membedah Rumah DP 0 Rupiah

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, beberapa waktu lalu sudah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk Program Rumah DP 0 Rupiah yang menandai realisasi...

Menyoal Optimis dalam Krisis Kapitalisme

Artikel tulisan ini adalah respon serius dari tulisan Airlangga Pribadi Kusman di Geotimes berjudul Dialektika Pembebasan Dan Penundukan Sains Dalam Kapitalisme. Genealogi tawaran dalam...

Musim Semi Persekusi

Sulit kiranya membayangkan demokrasi kita lepas dari bayang-bayang kebencian. Nalar demokrasi para politisi sudah kadung kalap dan cenderung ugal-ugalan. Konkritnya, bisa dilihat dari menjamurnya...

Hari Buruh, Nasib Pekerja Informal Mengambang

Hari buruh hadir lagi untuk kesekian kalinya, namun persoalan yang melingkupinya masih tetap sama, perlindungan hak dasar buruh masih saja belum terselesaikan, gaji buruh...
Ica Wulansari
Blogger & Penulis lepas isu sosial ekologi dan politik lingkungan hidup

Dalam kontestasi politik, perdebatan yang dihadirkan kelompok masyarakat pada akar rumput terkonsentrasi mengenai pilihan politik dengan debat yang tidak berkesudahan.

Sementara di saat yang bersamaan, kita menghadapi berbagai tantangan, salah satunya bagaimana terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang berakar dari kebijakan yang belum mendukung keberlanjutan lingkungan hidup. Hal tersebut pun diperburuk dengan praktek masyarakat yang abai terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Saya teringat dengan tokoh sosial ekologi, Murray Bookchin (1982) dalam tulisannya berjudul “The Ecology of Freedom” dengan gagasan mendorong masyarakat ekologis yang di sisi lainnya struktur sosial menjadi pembentuk peradaban. Bookchin meyakini masyarakat ekologis dapat terbentuk dengan penekanan mutualisme, pengorganisasian diri, kebebasan dan subjektivitas dengan prinsip persatuan dalam keragaman dan berdasarkan hubungan yang non hierarkis.

Gagasan masyarakat ekologis dalam kebutuhan mencapai keberlanjutan atau berkelanjutan menjadi hal yang searah. Sebelum membahas gagasan masyarakat ekologis, maka terlebih dahulu perlu membicarakan wacana berkelanjutan.

Wacana berkelanjutan dimulai pada tahun 1987 ketika lembaga bernama WCED (World Commission on Environment and Development) meluncurkan laporan mengenai ‘Our Common Future’, yang berupaya untuk menghubungkan beberapa dimensi dalam pembangunan yaitu pembangunan, ekonomi dan ekologi pembangunan (Hajer, 1995).

Sedangkan Jeffrey D. Sachs (2015) menyatakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan merekomendasikan kerangka yang menyeluruh untuk membangun masyarakat mencapai tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Sehingga pembangunan berkelanjutan disebut sebagai bentuk yang secara sosial inklusif, pro lingkungan hidup dan mendukung pertumbungan ekonomi yang berkelanjutan.

Maka, secara sederhana saya menerjemahkan masyarakat berkelanjutan sebagai bentuk prinsip dan praktek masyarakat dengan nilai-nilai ideal mendukung keberlanjutan lingkungan hidup, sosial dan ekonomi.

Selanjutnya, untuk mendukung nilai-nilai ideal maka perlu ada pengikat dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial, ditandai dengan masyarakat yang guyub dengan indikasi gotong royong sebagai praktek kehidupan sosial.

Untuk saat ini, gotong royong nampaknya semakin asing bagi masyarakat perkotaan. Bahkan di masyarakat pedesaan pun, praktek gotong royong nampak mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut karena pemahaman umum masyarakat saat ini bahwa tanpa didukung dengan materialisme menjadi sulit untuk guyub.

Sedangkan, praktek ramah lingkungan tidak dapat dilakukan secara individu saja, membutuhkan tindakan bersama-sama. Misalnya, dalam pengelolaan sampah rumah tangga, individu dapat memilah sampah kemudian lantas bagaimana pengelolaan sampah di tingkat tempat pembuangan sampah apakah mengalami pemilahan sampah?

Membangun kesadaran akan keberlanjutan perlu menyentuh secara individu dan kolektif. Kolektif dilakukan secara bersama dengan sasaran target yang lebih massal. Individu-individu yang telah memiliki kesadaran akan pentingnya praktek berkelanjutan akan memiliki tanggung jawab secara ekologis. Namun, pertanyaan berikutnya, bagaimana kesadaran individu-individu tersebut dibangkitkan menjadi kesadaran bersama sehingga memunculkan tanggung jawab bersama.

Menurut pandangan penulis bahwa tanggung jawab bersama akan muncul apabila terdapat dua hal yaitu ‘musuh bersama’ dan adanya insentif. Musuh bersama dalam hal ini kerentanan dan potensi ancaman terhadap kehidupan bersama, Apabila ancaman tersebut digulirkan, terutama ancaman yang terkait erat dengan keberlanjutan ekonomi maka akan menjadi perhatian individu-individu.

Pandangan kedua mengenai adanya insentif. Mencermati perkembangan sosial masyarakat saat ini yang cenderung individualis, maka membutuhkan energi besar untuk membangun ‘keguyuban’. Guyub apabila terdapat kepentingan bersama, secara ekologis menjadi sedemikian sulit karena ancaman ekologis tidak dapat dilihat pada saat ini.

Ancaman ekologis lebih bersifat antisipatif mengingat ancaman di masa depan akibat praktek kehidupan yang tidak mendukung keberlanjutan. Maka, langkah logis saat ini untuk mengubah praktek masyarakat agar mendukung keberlanjutan adalah dengan penerapan insentif.

Penerapan insentif seolah mengecilkan makna substantif bahwa perubahan perilaku hanya berdasarkan iming-iming yang bersifat materialistis. Namun, tantangan saat ini bagaimana struktur guyub dan individualis menjadi pertarungan sementara pengelolaan lingkungan hidup harus terus berlangsung.

Era keberlanjutan perlu diperkuat dengan penguatan narasi secara terus menerus dan memperkuat kesadaran masyarakat. Sehingga, penguatan narasi tidak cukup sekedar jargon perlu menghadirkan praktek solutif yang praktis di tatanan masyarakat.

Apabila praktek berkelanjutan ini berlangsung dengan kesadaran masyarakat, maka perilaku masyarakat akan mengalami perubahan yang diiringi dengan proses pembelajaran secara perlahan.

Proses pembelajaran tentunya membutuhkan insentif. Misalnya di beberapa gerai kopi yang menawarkan penggunaan botol minuman sendiri, maka pembelian jenis minuman mendapatkan potongan harga. Hal tersebut pada dasarnya berupaya mengubah praktek dengan mengurangi penggunaan kemasan konsumsi minuman dan makanan sekali pakai.

Ica Wulansari
Blogger & Penulis lepas isu sosial ekologi dan politik lingkungan hidup
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.