Selasa, Desember 1, 2020

Solidaritas Ditengah Pandemi Covid

Program Bela Negara: Buah Tangan Fasisme di Lingkup Kampus

They have the masses brainwashed "we're so lucky to be free" They won't remove the blindfold fearing someday we may see For if the people see...

Hysteria: Sebuah Laboratorium Komunitas

Telah lama, kota identik menjadi wilayah pertempuran sengit antardimensi. Mulai dari dimensi sosial, sampai dimensi yang jarang terjamah sekalipun; contohnya penanganan limbah industri. Namun tak...

Tentang Sumpah dan Tugas-Tugas yang Tak Selesai

Setelah Sumpah Palapa yang terkenal itu (era-1330). Perang bergejolak untuk suatu hasrat untuk menyatukan daerah kekuasaan di bawah payung Majapahit. Satu persatu kerajaan terdekat...

Idul Adha Wahana Reformasi Akhlak

Di tengah hiruk pikuk kegaduhan politik yang semakin tidak bermoral sekarang ini, Idul Adha seharusnya menjadi momentum umat muslim memperbaiki akhlak kepada sesama manusia...

Pandemi covid-19 sejauh ini masih terus berlanjut. Hingga kini belum ada tanda-tanda “kepastian” virus ini akan berakhir. Pemerintah dan tim medis sejauh ini telah bekerja ekstra menghadapi penyebaran virus corona yang semakin destruktif. Bahkan korban yang terjangkit virus terus bertambah dan ini semakin menimbulkan baragam kepanikan di masyarakat akar rumput.

Harus diakui, kondisi ini menimbulkan banyak persoalan lain yang menyebabkan kita kehilangan kendali untuk bersabar melewati persoalan ini. Kepanikan akan bahaya virus corona mulai merasuki pikiran kita dan dalam kondisi demikian kita mudah dijangkiti virus corona. Kepanikan seharusnya tidak perlu digemborkan karena akan menyebabkan kita tidak konsen pada upaya menyelesaikan wabah corona namun akan memunculkan sikap-sikap arogan dan saling menyalahkan pihak lain.

Mengutip Zizek, menghadapi virus corona dengan sikap panik, justru membuktikan bahwa kita tidak benar-benar serius menghadapinya. Kita malah bersikap remeh dalam upaya menyelesaikan wabah ini. Bagi saya, Zizek tepat untuk menggambarkan suatu kondisi dimana semua pihak harus menahan diri dan tidak mudah panik menghadapi virus ini.

Dalam kondisi yang demikian seperti saat ini, yang kita butuhkan dan seharusnya kita lakukan yakni membangun satu sikap solidaritas bagi saudara sebangsa. Sikap solidaritas pada batas tertentu dan dalam kondisi seperti ini akan lebih baik dan menghadirkan satu pemahaman dan misi besar menyelesaikan virus corona. Tentu yang musti dilihat sekaligus dipahami, membangun sikap solidaritas ditengah pandemi covid sangat sulit jika kita masih mendaku sikap egois.

Solidaritas harus dibentuk atas dasar persamaan nasib sekaligus ingin berkorban bagi semua orang. Dalam kondisi seperti hari ini sangat sulit menemukan sikap-sikap seperti ini karena kita telah menciptakan satu wabah besar yang bahkan lebih buruk dari wabah corona yakni kepanikan. Sikap panik seperti yang saya utarakan diatas membawa kita pada sikap egois dan menjauh dari rasa solidaritas.

Menguatnya sikap egois dalam diri kita telah membentuk kita menjadi manusia yang rentan dan sewaktu-waktu kehilangan kendali menghadapi wabah corona. Diatas semua itu, kita kehilangan konsep besar membangun kesadaran bersama memerangi pandemi covid. Di sinilah sebenarnya rasa solidaritas harus dibubuhkan dalam setiap pikiran kita untuk lebih mengedepankan aspek kerja sama dan membangun satu nilai besar yaitu kemanusiaan.

Wabah corona hari ini yang menyerang beberapa negara dan menelan banyak korban telah menjadi suatu masalah kemanusiaan yang membutuhkan sikap tanggap, solutif dan kerja sama. Masalah ini tidak hanya soal ekonomi akan ambruk tetapi yang lebih penting adalah kemanusiaan harus dilindungi.

Semua orang perlu mendapatkan perlindungan dan harus terhindar dari wabah mematikan ini. Namun ini harus berangkat dari sikap solidaritas yang utuh untuk mengobarkan energi kita berperang melawan pandemi covid. Saya pikir sikap seperti ini harus lebih ditumbuhkan ditengah krisis yang melanda kita. Ketimbang membangun sikap egois yang dibentuk dari rasa panik akan menyebabkan kita rentan terjangkit wabah corona.

Pada aras ini sikap altruisme harus lebih diutamakan. Mengedepankan sikap seperti ini lahir karena rasa solidaritas dan kemanusiaan kita untuk memberikan nilai (value) bagi sesama kita. Hal ini bagi pembaca barangkali terlalu abstrak, namun jika ini betul-betul dilandaskan bagi masa depan bangsa dan umat manusia, saya pikir kita telah menjadi pemenang dalam situasi krisis seperti ini.

Seperti kalimat bijak yang sering kita dengar, dalam masa krisis seseorang harus bertarung melawannya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang banyak dan itulah sikap pemenang. Bagi saya kalimat ini harus bersarang dalam pikiran kita ditengah situasi wabah corona.

Rasa solidaritas tidak hanya bahwa kita harus turun ke jalan membagikan sembako, masker dan lain-lainnya. Namun mematuhi instruksi pemerintah dan tim medis merupakan sikap solidaritas dalam memutus mata rantai wabah corona. Mematuhi instruksi adalah bagian kecil dari sikap solidaritas kita sebagai warga negara dan demi kebaikan kita bersama.

Membangun Harapan

Saya tertarik dengan sebuah inti kotbah pada hari Minggu Paskah, membangun harapan. Pesan yang disampaikam lewat kotbah dalam perayaan paskah tahun ini memberikan suatu kesadaran penting bagi kita untuk memahami kata “harapan” sebagai kekuatan untuk melewati masa sulit.

Harapan itu harus dibentuk dalam setiap situasi. Apalagi dalam kondisi tertekan seperti masa krisis akibat penularan wabah corona. Menurut hemat saya, membangun harapan harus berangkat dari kesadaran etis dan pada titik tertentu kita akan dikuatkan dengan harapan yang kita bentuk. Perayaan paskah harus menjadi suatu semangat kebaruan iman, pikiran dan tindakan kita untuk terus mengupayakan kebaikan dan menebar semangat cinta kasih.

Semua itu dimulai dari semangat harapan yang kita bentuk dalam diri. Untuk itu, ditengah pandemi covid yang masih terus berlanjut, kita harus membangun sikap solidaritas dan semangat harapan bahwa kita mampu melewati masa krisis ini.

Pada akhirnya, sikap pesimis yang tumbuh dalam diri kita dalam situasi wabah corona justru telah membawa kita pada suatu sikap yang buruk dan itu merusak nilai kemanusiaan. Rasa solidaritas adalah yang paling penting untuk kita bangun dalam bingkai misi besar yakni memerangi virus corona. Semangat untuk kita.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.