Minggu, Oktober 25, 2020

Soleh Ritual Dan Soleh Sosial Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani

Dakwah Bajik dan Bijak

Mengajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang...

Fenomena Kepo Society Dibalik Kasus First Travel

Pasangan suami istri bos agen perjalanan umroh Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan ditangkap polisi dengan sangkaan kasus pencucian uang para calon jamaah umroh yang...

Pemilu Partisipatif untuk Pemilu Demokratis

Integritas penyelenggara dan proses penyelenggaraan Pemilu adalah prasyarat penting dalam Pemilu, agar hasil dari pelaksanaan pemilu mendapat legitimasi secara konstitusional dari seluruh rakyat. Dalam kaitan...

Inkonstitusional, Treshold 20-25%.

Rancangan Undang-Undang Pemilu akhirnya diselesaikan setelah perdebatan panjang. Jumat lalu(21/7), UU pemilu disahkan dengan mekanisme vooting. Meskipun vooting ini diwarnai aksi walk out (WO)...
Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam

“Carilah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu untuk kehidupan akhirat kelak, namun jangan lupakan juga bagianmu dari dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash: 77).

Penggalan ayat al-Qur’an di atas mengingatkan kepada kita semua tentang prinsip keseimbangan hidup menurut Islam, yakni prinsip hidup yang sama-sama mementingkan praktek ‘ubudiah (peribadatan) di satu sisi dan mu’amalah (pergaulan) di sisi lain. Praktek yang pertama dalam ayat di atas berorientasi “untuk kehidupan akhirat”, sedangkan yang berikutnya merupakan “bagianmu dari dunia”. Dalam kerangka keseimbangan ini, maka di samping beribadah kepada Allah, kita juga dituntut untuk turut ambil bagian dalam merajut kehidupan dunia menjadi lebih baik. Dari ayat ini pula diperoleh pemahaman bahwa kehidupan dunia dan akhirat itu berada dalam satu garis kontinum (terusan) dimana setiap ritus ibadah yang dilakukan itu seyogianya memantulkan pesona kesholehan perilaku dalam bermasyarakat.

Prinsip keseimbangan ini sebenarnya dapat juga ditelusuri jejaknya pada makna esoteris dua kalimat syahadat (syahadatain). Syahadat yang pertama, asyhadu an la ilaha illa Allah merupakan deklarasi agar sikap dan tindak yang dilakukan itu diorientasikan vertikal atau tegak lurus kepada Allah (hablun min Allah). Sedangkan syahadat yang kedua, asyhadu anna muhammadan rasulullah mendeklarasikan pentingnya orientasi horizontal atau orientasi hidup yang mempertimbangkan kemaslahatan manusia (hablun min al-nas) sebagai titik bidik dalam berperilaku. Disandingkannya Allah sebagai Khaliq dan Muhammad sebagai makhluq-Nya dalam dua kalimat syahadat di atas tidak lain untuk menegaskan betapa pentingnya dua orientasi ini dalam kehidupan setiap insan.

Sering kita dengar dari kalangan Muslim, orang yang  mempertentangkan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial.  Mereka memisahkan secara dikotomis  antara dua bentuk kesalehan ini. Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan individual/ ritual” dan “kesalehan sosial”. Dalam kenyataannya, kita juga melihat masih terdapat ketimpangan yang tajam antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Banyak orang yang saleh secara individual, namun tidak atau kurang saleh secara sosial.

Kesalehan individual kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, kenapa? Karena lebih menekankan  dan mementingkan pelaksanaan  ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dst. Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermasyarakat.  Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba  formal, yang hanya hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minan nas.

Dalam Islam, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan suatu kemestian yang tak usah ditawar. Keduanya harus dimiliki seorang Muslim, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Agama mengajarkan “Udkhuluu fis silmi kaffah !” bahwa kesalehan dalam Islam mestilah secara total !”. Ya shaleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan sesama manusia.

Karena itu, kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari seperti ibadah ritualnya shalat dan puasanyanya, tetapi juga dilihat dari output sosialnya/ nilai-nilai dan perilaku sosialnya: berupa kasih sayang pada sesama, sikap demokratis, menghargai hak orang lain, cinta kasih, penuh kesantunan, harmonis  dengan orang lain, memberi dan membantu sesama.

Saya pikir ketika soleh ritual dan sosial sudah melekat pada suatu masyarakat muslim, ini sangat erat kaitannya dengan terwujudnya masyarakat madani.

          Masyarakat Madani (dalam bahasa Inggris: civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Istilah masyarakat madani adalah terjemahan dari civil atau civilized society, yang berarti masyarakat yang berperadaban.

          Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep civil society, juga berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M, yang telah membawa keberadaban terhadap masyarakat yang tadinya jahiliyah kepada masyarakat yang maju dan bermoral.

          Kolerasinya dengan realitas modernitas hari ini tentu pemahaman madani ini mampu untuk dikembangkan dengan konsep negara berdemokrasi seperti negara Indonesia kita ini, untuk mengukur dalam hal partisipasi masyarakat Indonesia dalam membangun negara yang religius, demokrasi, humanis dan menyesuaikan dalam keberadaban modernitas ini.

Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.