Sabtu, Januari 16, 2021

Soe Hoek Gie, Aktivisme dan Pejuang Yang Membebaskan

“The Third Way” Arah Ekonomi Indonesia

Kita mungkin lebih mengenal istilah the third way dalam pemikiran politik yang dikeluarkan oleh Anthony Giddens. Pemikiran politik Giddens ini mencoba menyuguhkan sebuah jalan...

bisnis dalam dunia modern

Bisnis dan etika dalam dunia modern  Bisnis modern merupakan realita yang amat komplek. Sekarang ini masyarakat lebih banyak memilih untuk berbisnis dibandingkan dengan pekerjaan yang...

Bukan Sekedar Money Politic, Tapi Patronase

Kurang dari dua bulan untuk menginjak hari-H, hingar bingar yang mengiringi Pemilu serentak terus mengisi ruang-ruang media. Media sosial utamanya, memberikan peranan penting dalam...

Ocehan Fahri Hamzah Soal Aksi Teroris, Ngelantur!

Keberadaan sosok Fahri Hamzah dan Fadli Zon, ‘bagai pinang dibelah dua’. Dua elit parpol yang berkantor di Senayan ini, gayanya sangat mirip dan sulit...

Nama Soe Hoek Gie barangkali tidak asing lagi bagi kalangan aktivis mahasiswa. Soe Hoek Gie yang akrab dengan panggilan Gie merupakan salah satu dari ribuan mahasiswa yang hadir ketengah masyarakat memperjuangkan kebebasan dan kesejahteraan.

Sebagai mahasiswa, Gie sadar betul bahwa perjuangan membela masyarakat kecil merupakan tugas yang mulia sekaligus penuh dengan resiko. Namun bukan berarti Gie bersikap takut apalagi mundur, justru melalui semangat sebagai aktivis yang dibarengi dengan pribadi intelektual, Gie menunjukan kebaharuan dalam semangat sebagai aktivis.

Gie beberapa kali terlibat aktif menyuarakan kesejahteraan bagi masyarakat sekaligus mengkritik pemerintah, baik melalui tulisan ataupun terlibat aktif di jalan sebagai parlemen jalanan. Dari beberapa tulisan Gie selalu membuat pihak penguasan merasa terpojok, marah sekaligus menyimpan perasaan malu karena pada masa itu elit-elit kekuasaan dianggap menutup mata terhadap masyarakat.

Dengan itu memaksa Gie untuk bersuara bahwa tanggung jawab kekuasaan harus mampu hadir berpihak kepada masyarakat. Semangat membela mereka yang tersisihkan dan tidak diperhatikan, mendorong Gie untuk terus berjuang membangun semangat kerja kemanusiaan.

Dalam buku harian Gie yang kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh LP3ES dengan judul ‘Catatan Seorang Demonstran’, kita mengenal lebih dekat dengan dunia aktivis mahasiswa yakni Gie. Melalui tulisan pendek tersebut, Gie ingin menunjukan sebuah sikap dan cara berpikir bahwa menjadi aktivis mahasiswa berarti menjadi seorang yang bebas dan menempuh jalan sendirian.

Melalui surat dari temannya di Amerika yang menulis kepadanya, “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian”. Kalimat ini tidak saja tanpa arti, namun memiliki makna yang sangat penting bagi perjuangan Gie selanjutnya.

Namun menurut saya, Gie tidak saja ingin menunjukan sebagai pribadi yang bebas, tetapi menurut saya Gie pada sisi yang lain sedang berupaya membangun suatu cara berpikir dan sikap tentang kebebasan yang tidak terikat. Saya menemukan itu ketika membaca buku catatan hariannya yang menyimpan banyak cerita penting yang mengandung banyak makna.

Dari situ saya berpikir bahwa Gie adalah seorang yang punya kemauan dan tekad yang kuat untuk membangun suatu cita-cita bersama yakni kebebasan. Karena itu, tepat jika saya mengatakan bahwa Gie merupakan sosok yang dalam bahasa Nietzsche, Ubermensch yakni manusia yang melampaui.

Saya mungkin terlalu naïf membuat penilaian tersebut, namun menurut saya, di sisi yang lain Gie lebih tepat (jika tidak lebih saya mengatakan) sebagai pejuang yang mencoba membangun suatu sikap baru yakni konsistensi. Itulah yang saya temukan dalam diri seorang aktivis mahasiswa yakni Soe Hoek Gie. Melalui berbagai macam pertarungan ide dan gagasan, Gie mencoba mendedahkan bahwa setiap kata yang diucapkan harus mampu dipertanggung jawabkan.

Di sinilah sebenarnya bagi saya, Gie tidak saja menunjukan kebaharuan diri bagi setiap perjuangan mahasiswa, namun mampu menjadi pribadi yang aktif dan konsisten terhadap segala apa yang diucapkan.

Gie dan Mahasiswa Hari Ini

Tidak berlebihan jika saya mengatakan Soe Hoek Gie sebagai pribadi yang konsisten. Gie melalui pembacaan saya terhadap catatan hariannya selalu menampilkan suatu sikap yang kontroversi. Sejauh pemahaman saya, Gie memang kerapkali melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah dan ini yang membuat Gie selalu dimusuhi penguasa.

Namun dari sikap kontroversi dan yang membuat orang bingung, Gie menurut saya punya sikap yang sangat dekat dengan perjuangan kemanusiaan. Potret perjuangan seperti ini hampir sulit kita temukan hari ini bahkan aktivis mahasiswa hampir absen berjuang seperti Gie.

Pasca reformasi digulirkan, kita menemukan banyak kehidupan mahasiswa yang mulai surut dalam upaya memperjuangkan kepentingan masyarakat. Perjuangan mahasiswa dibanyak tempat di Indonesia mengalami pembelokan arah yang menurut saya menyebabkan perjuangan aktivis mahasiswa mengalami stagnasi.

Inilah salah satu dari sekian banyak permasalahan yang sedang dihadapi mahasiswa terutama aktivis hari ini. Pergerakan mahasiswa saat ini dinilai bersifat momentum dan hampir selalu mengalami pergerakan yang mudah disusupi dan ditunggangi kepentingan dari sekelompok tertentu.

Basis perjuangan akhirnya tidak mampu menerobos tembok kekuasaan karena telah terdistorsi kedalam desain kepentingan tertentu. Inilah tantangan yang akan dihadapi pergerakan mahasiswa jika tidak melihat dan mengkritisi dan membangun upaya perlawanan terhadap pergerakan seperti ini.

Konstruksi pergerakan jika tidak dilandasi semangat kemanusiaan dan konsistensi dalam perjuangan, saya pikir mudah kolaps dan ditunggangi dengan kepentingan tertentu. Dalam upaya meredusir pergerakan inilah, mahasiswa terutama kalangan aktivis saya pikir harus bermuara pada pembacaan kritis dan teladan dari Soe Hoek Gie.

Walaupun kalangan mahasiswa telah mengenal Gie, namun upaya untuk membangun kesamaan pikiran dan sikap, saya pikir perlu dilakukan. Dalam konteks ini, Gie selain menunjukan suatu cara pandang terhadap garis perjuangan, pada sisi yang lain sedang membangun suatu pergerakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat terutama mereka yang tersisihkan.

Garis perjuangan ini mengilhami Gie untuk terus berpacu-berjuang terlibat secara aktif meskipun melalui banyak resiko. Itulah mengapa pejuang seperti yang dikatakannya harus siap berada pada posisi sendirian.

Pada titik ini, saya pikir mahasiswa hari ini harus membangun suatu sikap baru melalui pergerakan Soe Hoek Gie. Di sana pergerakan tidak saja hendak menunjukan suatu keberpihakan, namun sebenarnya bagi saya sedang membangun suatu sikap konsistensi. Karena itu, pergerakan tanpa konsistensi bagi saya hanyalah suatu perjuangan tanpa nilai yang pada akhirnya menggerus optimisme pergerakan.

Pada akhirnya, Gie merupakan sosok yang paling fenomenal dan tidak akan pernah usai untuk diperbincangkan, tidak saja dari kalangan aktivis mahasiswa, tetapi semua lapisan masyarakat yang mau bergerak dan menjadi manusia yang bebas tanpa terikat.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.