Rabu, Maret 3, 2021

Sistem Zonasi PPDB, Cocok Gak Sih untuk Kita? (2-Selesai)

Peran Gastronomi Indonesia dalam Menumbuhkan Gastro Preneurship

Presiden Jokowi pada pertengahan tahun lalu menyampaikan bahwa diplomasi terbaik di dunia baik secara sosial budaya maupun ekonomi, adalah melalui boga /makanan. Dan memang...

Sajak Palsu untuk Yang Suka Berpura-pura

”Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.” Sebuah pembuka yang manis sekaligus menohok dari Agus R. Sarjono dalam puisi masterpiece-nya,...

Bencana Sambut Bulan Kemerdekaan

Genap 73 tahun seluruh masyarakat Indonesia mendengar kata merdeka, tepat di bulan Agustus pula Indonesia mendeklarasikan sebagai Negara yang sudah tak terjajah oleh Negara...

Sebuah Prahara Bangsa Moro

Suku Moro di Mindanao. Sebuah bangsa etnoreligius yang hidup dalam entitas keberagaman dan adat-istiadat yang kuat. Dahulu, di tanah itu, nenek moyang mereka hidup...
Fikri Abdillahhttp://fikriabdillahblog.wordpress.com
Education Technology and Management Enthusiast

Baca juga tulisan pertama dari tulisan ini. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa Pak Muhadjir dkk di kementerian pendidikan sudah barang tentu memikirkan matang-matang tekait kebijakan ini supaya pemerataan kualitas pendidikan yang selama ini kita keluhkan dapat tercapai dan bukan hanya sebagai angan-angan saja.

Pasalnya saya yang saat ini menginjak umur 25 tahun ini, sudah mendengar pembahasan terkait pemerataan pendidikan semenjak dulu SD dan mungkin saja si Surti tetangga saya waktu kecil dulu begitu. Namun hingga hari ini, pemerataan itu seperti dongeng yang setiap tahun di hari pendidikan nasional dibacakan dan dibahas.

Tentu saja pemerataan pendidikan ini perlu waktu yang panjang, tapi juga bukankah dalam setiap tujuan dan waktu selalu ada awalan? Dan begitulah kita ini, memang harus selalu “dipaksakan” untuk setiap perubahan ke arah yang lebih baik. Tak percaya? Mari kita bahas beberapa hal yang dipaksakan namun berdampak baik bagi masa depan bangsa ini.

Minyak ke Gas. Masih ingat tentang 1 benda yang membuat nama Wapres kita saat ini melambung Namanya? Yap, Tabung Gas dan “Lebih cepat lebih baik”. Dan lihat hari ini mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan Kompor gas.

Commuter line. Siapa yang pernah merasakan naik kereta di Jabodetabek pada jaman karcis dan abang-abang pengamen dan jualan bersama mengantarkan kita ke stasiun tujuan? Rasanya dulu seperti mustahil membayangkan wajah transportasi massal seperti saat ini. Sehingga kemudian pun berdampak bagi moda transportasi lainnya, seperti bus dan angkutan umum lainnya.

Wajib belajar 9 tahun. Kalau gak ada kebijakan ini, saya rasa jumlah masyarakat yang hanya tamatan SD masih sangat menjamur hingga saat ini. Namun, dengan adanya kebijakan tersebut, presentase Pendidikan tamatan SMA semakin meningkat dan kesadaran pentingnya Pendidikan pun semakin membaik. Terlebih, pengangguran semakin berkurang karena makin banyak orang yang punya Ijazah dan melancarkan ijab sah nya kemudian.

UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Masih ingat pembahasan tentang murid yang menangis karena salah menggunakan pensil atau begitu menakutkannya lingkaran demi lingkaran yang harus kita isi dengan sempurna? Atau terlambatnya UN di daerah-daerah timur dan barat Indonesia dikarenakan distribusi soal dan LJK yang telat? Dan saat ini Pendidikan kita sedang dipaksakan untuk transformasi ke sebuah sistem baru yang disebut UNBK.

Dan hari ini Pendidikan kita sedang “dipaksakan” untuk melakukan perubahan supaya misi Pendidikan yang merata dan berkualitas tak hanya menjadi sekedar pembahasan saja selama bertahun-tahun. Kita harus perhatikan sekali lagi, misi Pendidikan merupakan misi Panjang yang memerlukan permulaan.

Dan kita semua tahu awalan tak selalu berjalan baik dan menyenangkan, Syerina di petualangan Syerina saja butuh waktu supaya terlepas dari kenangan sekolah lama dan berdamai dengan Sadam si Derbi Romero yang gempal, apalagi ini mencakup hajat orang banyak.

Tangisan seorang anak dan mencak-mencaknya ibu-ibu di berita televisi dikarenakan merasa dirugikan lantaran tak diterima di sekolah favorit saya rasa hal yang biasa dalam sebuah adaptasi yang sudah sangat lama begitu nyaman berjalan dalam sistem Pendidikan kita. Toh sekolah favorit itu setahu saya ada karena sarana prasarananya, lulusannya, dan mungkin seragamnya.

Padahal sistem ini akan membawa dampak baik bagi seluruh sekolah di setiap wilayah supaya terpacu menjadi lebih baik dan tentunya focus pemerintah melalui pemerintah daerah untuk memanjukan Pendidikan di daerahnya semakin nyata.

Sarana dan prasarana yang masih kurang dan belum merata tentu akan menjadi fokus selanjutnya bagi pemerintah kita supaya percepatan pemerataan pendidikan yang berkualitas ini dapat terlaksana sesuai misinya. Serta teserbarnya anak-anak yang unggul dalam bidang akademik dan non akdemik di daerahnya masing-masing tentu akan memberikan dampak positif bagi daerahnya untuk membangun daerahnya tersebut.

Sejatinya sekolah bukanlah ajang untuk keren-kerenan dan adu gengsi baik orang-orang yang ada si sekolah maupun ibu-ibu, bahkan anaknya. Sekolah sejatinnya harus kembali ke alasan dasar kenapa kita harus pergi ke sekolah, yakni untuk belajar. Bukan hanya tentang nilai dan angka, tapi lebih untuk value yang tertanam pada diri setiap murid di sekolah.

Hari ini Pendidikan kita sedang menuju mimpi kita bersama tentang bagaimana kita dapat melihat senyum dan tawa anak yang berjalan kaki ke sekolah bersama teman-temannya tanpa harus cemas ketinggalan angkutan umum atau pun terjebak kemacetan, bagaimana tak ada lagi sekolah favorit sedangkan sekolah lainnya adakah sekolah ecek-ecek, bagaimana tak ada lagi bahasan tahunan nilai UN yang dipaksakan atau siswa stress hanya karena takut tak diterima di sekolah bergengsi, bagaimana setiap murid dapat focus akan mimpi dan cita-citanya melalui minat bakatnya bukan tentang sekedar focus di nilai dan aturan gengsi-gengsian sekolah lainnya.

Sistem baru ini memang masih perlu banyak evaluasi, namun begitulah memang kita seharusnya. Negeri ini sudah terlalu lama menunggu untuk mendapatkan Pendidikan berkualitas kawan, jadi jangan hanya karena tangisan satu atau dua anak dan mencak-mencaknya ibu-ibu yang sebetulnya ada solusinya dapat menghambat mimpi kita bersama ini. Tentu ketimpangan sarana dan prasaran Pendidikan akan menjadi PR penting bagi pemerintah kita, dan tugas kita adalah mendukung upaya-upaya pemerintah selagi itu memang berdampak positif baik jangka pendek maupun Panjang.

Akhir kata dari saya, sistem ini memang belum cocok untuk saat ini dan beberapa wilayah. Tapi bukankah cocok atau tidak itu perlu waktu? Anggap saja ini masa PDKT kita, biasanya dalam pendekatan ada yang acuh, ada yang tak suka, bahkan ada yang benci. Tapi, tunggu saja dulu siapa tahu nanti kita dapat merindu dan saling menyatu. Kalau sudah begitu misi pelaminan kita, eh Pendidikan kita dapat terlaksana dengan baik dan lancer jaya. Amin.

Fikri Abdillahhttp://fikriabdillahblog.wordpress.com
Education Technology and Management Enthusiast
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.