OUR NETWORK

Siraman rohani yang membengkokkan

Beberapa hari yang lalu, kita dihadapkan sebuah peristiwa yang mungkin bisa dikatakan kurang sopan bagi sebagian orang. Yaitu tindakan walk out yang telah dilakukan oleh beberapa peserta kolase Kanisius. Tindakan serupa memang tak sepatutnya dilakukan apalagi dalam acara yang sakral seperti itu. Namun, sebagai umat beragama tak sebaiknya kita menilai tindakan tersebut secepat membolak-balikkan sebuah koin. Alasannya sangat sederhana karena tindakan sembrono atau penilaian singkat bisa membawa malapetaka bagi kita umat beragama, dan juga tindakan menghargai sepatutnya kita lakukan.

Dalam tulisan ini, kali ini penulis akan membahas ketika agama disalahgunakan sebagai alat politik. Mungkin kata membengkokkan agak sedikit disederhanakan sebagai cara agar para pembaca mudah menangkap maksud dari tulisan ini.

Di dalam agama tentunya kita sudah tahu bahwa agama memiliki sebuah sarana yang di mana semua merasakan hal yang sama. Itu dirasakan tentunya pada saat kita melaksanakan ibadah. Ibadah pun tentu beragam bentuknya. Ada ceramah, ada juga sembahyang. Namun, adakah siraman rohani yang membengkokkan?

Di dalam agama juga mengajarkan kita bagaimana kita menyingkirkan sifat-sifat hewani kita. Misalnya nafsu, itu tak pernah lepas dalam kajian agama. Nafsu di mata agama pastilah buruk atau mungkin baik tergantung di mana kita menempatkannya. Itulah fungsi agama membuat kita lebih manusiawi dan juga sebagai pembeda identitas kita dari hewan.

Siraman-siraman rohani pada dasarnya berfungsi seperti itu, yaitu memanusiakan diri kita. Tapi perlu dipertanyakan bagaimanakah ‘memanusiakan’ itu. Memanusiakan tentunya berkaitan dengan arahan kita kepada kebaikan. Kebaikan itu sendiri juga beragam bentuknya tapi pada dasarnya bersifat rasional atau masuk akal agar kita setuju dan mau melaksanakan kebaikan tersebut itu.

Agama tidak lain berfungsi sebagai alat untuk menjinakkan nafsu-nafsu liar kita. Jadi sebagai alat penjinak, siraman rohani pun bisa memberikan kita kepada arahan-arahan positif dibandingkan negatif. Misalnya saja waktu saat penulis mengalami suatu kejadian unik. Waktu saat itu penulis berada di masjid besar yang memang notabenenya markas “jamaah tablig”. Sewaktu itu penulis terkejut saat mengetahui seseorang yang sangat rajin beribadah tapi sebenarnya dia baru tobat bahkan tato-tatonya masih kentara di lehernya.

Di sinilah menariknya agama. Agama betul-betul merupakan alat untuk menjinakkan nafsu hewani kita dan lebih mensyaratkan kita kepada kemanusiaan. Jika ada yang masih merasa dirinya memiliki perasaan-perasaan yang liar seperti galau, kesepian, dan segala bentuk macam bentuknya, solusinya tentu terletak pada agama. Nafsu atau gairah-gairah liar itu bisa dijinakkan.

Ada lagi yang lebih menarik dari saat prosesi penjinakan nafsu atau gairah-gairah liar itu. Itu tak lain perubahan dari gairah yang dirasionalisasikan. Sesuatu yang tersembunyi pada prosesi itu tidak lain adalah sebuah kepentingan. Jika kita masih mengalami gairah atau nafsu seperti merasakan kesepian maka itu juga tak lain sebuah kepentingan. Dan ketika agama menjadi solusinya, kepentingan itu pun menjadi kabur.

Siraman-siraman rohani itu pada dasarnya memang sangat baik dalam pembentukan manusia. Namun, ada juga yang menggunakan ini sebagai alat politik. Gairah yang dirasionalkan sudah menjadi alat mendasar bagi mereka yang mau mengadukan kita sebagai umat beragama. Ada yang bahkan menggunakannya sebagai alat bisnis. Misalnya ada umat beragama lain yang ingin menjual usaha atau jasanya, maka umat beragama yang satu malah menjelek-jelekkan karena tak sama agamanya.

Mungkin siraman rohani inilah yang patut kita pisahkan. Dan kebanyakan pesan-pesan rohani tersebut tak lepas dari teknologi. Teknologi sebagai medianya seperti internet tak mengharuskan pembicara dan pendengar harus berada di lokasi yang sama. Sehingga pesannya pun terkesan tak komunikatif. Kita pun gampang diaduk-aduk karena kita tak ketemu langsung. Bahkan ada sesuatu kata yang sangat mendasar memicu gairah kita.

Agama tak seharusnya bersifat ini. Sejak kapan agama yang merasionalkan gairah-gairah kita kepada yang lebih baik justru menjadi perusak kemanusiaan? Apakah ini agama yang merunut pada istilahnya sebagai a (tak) gama (kacau)? Apakah mereka mungkin takut menyebarkan agama yang berbau politis ini ke dalam sesuatu yang real dan lebih merujuk ke teknologi yang sifatnya non-real?

Pertanyaan-pertanyaan itu patut kita jadikan bahan refleksi jika kita menganggap agama bukan alat politik maupun bisnis. Jangan sampai ketika kita mengatakan agama itu tak politis maka kita dengan naifnya menjadikan agama sebagai alat politik secara tak sadar? Apakah kita harus menyalahkan kenaifan itu atau diri kita sebagai pelaku atau korban? Gairah yang berbau kepentingan ini selayaknya dijadikan tempat beradu iman kita kepada kebaikan bukan kepada keburukan.

Seorang Guru
Penulis Lepas
Alumnus Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan Bahasa Inggris

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…