Selasa, Desember 1, 2020

Singkong dan Keju sebagai Potret Si Miskin dan Si Kaya

Memakan “nasionalisme”

Semua manusia di muka bumi ini pasti memiliki makanan kesukaannya. Misalnya gado-gado, orang tertentu mempunyai alasan pribadi mengenai makanan ini. Dari segi kerenyahannya sebagai...

Komunitas Sastra dan Dunia Baru

Kita lihat anak-anak dan saudara Dunia Baru, mengabaikan jeniusnya, tak mentahbiskan yang pribumi, yang universal, yang dekat,  yang masih saja mengimpor yang jauh, yang...

Menyongsong Lomba Bahasa dan Sastra dalam Festival Literasi Purb

Literasi Sastra dan BudayaSastra adalah sebuah nama dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil seni tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. Cipta sastra merupakan karya...

Ibu Kota Pindah, Ribuan ASN Terancam LDR

Sesuai instruksi presiden Jokowi, sebanyak 182.452 ASN di lingkungan kementerian dan lembaga harus sudah siap pindah ke ibukota negara yang baru di Penajam, Kalimantan...
Ni Putu Dian Antalina
a forever learner, love to share

“Ingatlah wajah-wajah orang yang mengalami kemiskinan dan orang-orang yang tak berdaya yang telah kamu lihat, dan tanyakan pada dirimu sendiri langkah apa yang akan kamu ambil untuk mereka.” (Kutipan Mahatma Gandhi)

Ketika kita sibuk memasak shabu-shabu dengan panci khusus berisi kaldu di atas meja makan, sambil memutuskan untuk memakan sashimi atau sushi roll terlebih dahulu, pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda terdapat orang yang menahan lapar, makan makanan seadanya, tak apa tak ada nutrisinya, yang penting perut mereka ada isinya.

Singkong dan Keju sebagai Potret Si Miskin dan Si Kaya

Singkong sering dianggap sebagai makanan kelas bawah sedangkan keju merupakan makanan bagi kelas atas, sehingga singkong menggambarkan orang miskin dan keju menggambarkan orang kaya.

Berdasarkan data dari Berita Resmi Statistik (Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2018) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, data pada bulan Maret 2018 menunjukan jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia sebanyak 25,95 juta orang (9,82%) dengan Gini Ratio sebesar 0,389.

Itu berarti, dari setiap 10 orang yang tergolong mampu di Indonesia, terdapat 1 orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan sampai saat ini masih menjadi isu global maupun nasional yang bersifat kompleks dan terus dicari solusinya oleh pemerintah.

Bila masalah kemiskinan tidak diatasi dengan baik, kesenjangan sosial akan merajarela, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin akan semakin mencolok. Tujuan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat yaitu untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur tidak akan tercapai.

Bila kita mencari tahu apa penyebab seseorang menjadi miskin, jawabannya bisa karena pendidikannya rendah, tidak memiliki skill yang cukup, tidak pandai menghasilkan uang, tidak pandai mengelola uang, sakit, kematian anggota keluarga penopang hidup, atau yang lainnya.

Kondisi kemiskinan tersebut mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan papan yang layak sehingga apabila seseorang dalam kondisi kemiskinan ini mempunyai anak, maka anak tersebut akan mewarisi kondisi kemiskinan seperti di atas, kemudian anak ini akan menikah dengan anak yang juga memiliki kondisi kemiskinan yang sama.

Karena orang miskin yang dinikahi orang kaya hanya ada di sinetron. Hasil dari pernikahan tersebut adalah juga seorang anak yang hidup dalam kondisi kemiskinan dan begitu seterusnya sehingga kehidupan mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan (Vicious Circle of Proverty).

Memutus Visious Circle of Proverty dengan APBN

Teori Lingkaran Setan Kemiskinan (Vicious Circle of Proverty) yang dikemukalan oleh Ragnar Rurkse (1953) mengatakan siklus tersebut adalah serangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi secara sedemikian rupa sehingga menimbulkan keadaan dimana suatu Negara akan tetap miskin dan akan tetap mengalami banyak kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi. Untuk memutus lingkaran kemiskinan ini, penguatan peran Negara menjadi sangat penting. Peran tersebut diwujudkan dalam penyusunan strategi fiskal yang berkualitas.

APBN sebagai instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan Negara mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Dengan tersusunnya strategi fiskal yang berkualitas dan tepat sasaran di dalam APBN, maka ketidakseimbangan kesempatan (inequality of opportunities) dapat dihapuskan dengan pengelolaan anggaran yang baik dalam program pendidikan seperti Indonesia Pintar dan bidik misi dan memberikan investasi lebih pada 1000 hari pertama kehidupan anak seperti program imunisasi dan vaksinasi.

Ketidakseimbangan kesempatan mendapatkan pekerjaan (unequal jobs) dapat dihapuskan dengan penyediaan anggaran untuk menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan mendukung usaha UMKM. Kerentanan terhadap guncangan ekonomi (low resilience to shock) dapat dihindari dengan menyusun kebijakan keuangan untuk melindungi stabilitas harga kebutuhan pokok dan memperkuat sistem jaminan sosial seperti BPJS, dan menciptakan kebijakan anggaran pembangunan infrastruktur yang dapat memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian Indonesia seperti pembangunan Jembatan Holtekamp di Papua yang dapat mempermudah akses transportasi.

Dengan demikian, pengelolaan APBN yang bijak dapat mengeluarkan masyarakat dari lingkaran setan kemiskinan dan menghapus proverty gap di Indonesia. Seperti halnya singkong dan keju, walaupun merupakan makanan berbeda kelas, jika digabungkan dapat menghasilkan kudapan lezat yang bernilai ekonomis lebih tinggi yaitu singkong keju.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita taat membayar pajak yang merupakan sumber pendapatan terbesar APBN dan juga terus mengawal pemanfaatan uang kita yaitu APBN agar terbebas dari praktik korupsi dan tepat sasaran dalam penggunaannya. Karena APBN adalah uang rakyat yang digunakan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat.

Ni Putu Dian Antalina
a forever learner, love to share
Berita sebelumnyaJokowi, Sains, dan Teknologi
Berita berikutnyaHari-Hari Pikuk
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.