Sabtu, Januari 16, 2021

Silaturahim: Menuju Fitrah, Menuju Mudik Besar

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Jangan Mau Menjadi Guru?

Jumlah guru secara nasional 3.017.296 jiwa (Kemdikbud, 2017), melahirkan beragam cerita menarik, membanggakan sekaligus menyedihkan. Kumpulan cerita tersebut sudah bermula dari awal masuk perguruan...

Korupsi Politik, Benarkah Tidak Berhubungan Dengan Pilpres 2019?

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Jumat (15/3/2019), melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Romahurmuziy alias Rommy yang notabene Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan...

Jangan Menghalangi Air untuk Terus Mengalir

Tiga perempat dari Bumi adalah air, namun yang layak untuk dikonsumsi manusia kurang dari tiga persen. Populasi manusia di Bumi diperkirakan mencapai enam milyar,...
Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.

Bahwa “diri” kita adalah diri yang tak hanya bersifat diri-individual merupakan sesuatu yang tak dapat dipungkiri dalam kenyataan budaya dan kemanusiaan kita. Selain “diri” yang individual, diri keluarga, diri masyarakat dan diri negara layaknya kesemua diri itu bertalian erat mulai dari lapisan terluar hingga terdalam—layaknya lapisan kulit bawang (merah).

Mengapa membincangkan Idul Fitri kita juga mesti berbicara perihal diri? Dikarenakan umum dipahami bahwa hari kemenangan (yang secara budaya kita sebut lebaran) adalah kembali menuju fitri. Kembali pada kesucian diri laksana bayi yang baru saja terlahirkan, melakukan persambungan ikatan sekaligus penghapusan melalui tradisi saling bermaaf-maafan.

Namun jika Idul Fitri yang kita laksanakan—saban tahunnya setelah sebulan melakukan ibadah puasa—hanya dilihat sebagai suatu gemerlap patroli takbir, riuhnya suara petasan, bertumpuknya jenis-jenis hidangan dan sandang baru yang ke-kinclong-annya jauh-jauh hari kita persiapkan, maka hal ini tak lebih merupakan suatu lebaran budaya.

Kebudayaan memang berwujud pada hal-hal adab dan yang tampak, yang berada dalam alam penampakan (nasut). Namun tak berarti budaya hanya sebatas kulit luar secara artifisial maupun superfisial. Ia juga berada dalam level dan struktur batin kemanusiaan yang tampak dalam susunan nilai-nilai dan penghayatan.

Hal ini tak sepenuhnya keliru, karena budaya bagaimanapun memang manusiawi. Ini juga karena betapa terkaitnya lapisan diri-individu, diri-keluarga, diri-masyarakat atau sosial, diri-bangsa, diri-semesta dan seterusnya sebagaimana disebut di awal. Merupakan sunnatullah jika kita diragam-rupakan dari wujud yang satu, apabila Dia mengatur seluruh perbedaan di antara ras dan bangsa-bangsa untuk saling mengenal dan menyambungkan diri.

Diri dengan demikian dapat kita perluas sekaligus persempit makna dan fungsinya sebagai suatu upaya pemunuhan eksistensial di dalam kehidupan. Bukankah kita sepatutnya mengaca dan merenungkan apa yang ada di alam semesta bahwa setiap benda-benda langit telah menduduki manzilah-nya masing-masing, apakah kita tak merenungkan betapa di pergantian siang dan malam terdapat tanda-tandaNya yang juga ditunjukkan ke dalam diri kita masing-masing.

Apa yang patut dicatat bahwa Islam tidak datang pada suatu bangsa atau kebudayaan yang kosong. Ia selalu dicelupkan dalam suatu kearifan lokal dan perbedaan ragam tradisi masyarakatnya. Jangankan di tiap daerah, pada masing-masing negara bisa dipastikan memiliki corak menonjol dalam bagaimana mengekspresikan ke-fitrah-an. Maka jangan bertanya dalil jika hidangan yang ada di hadapan kita adalah “ketupat” sebagai misal.

Universalitas Islam mampu memberikan corak warna dan mozaik yang beragam. Bahwa perbedaan-perbedaan ini merupakan bagian dari “diri Islam” yang berlapis-lapis bahkan mungkin tanpa batas lapisan. Islam tak mengatur kita untuk mengukuhkan kebenaran individu, karena tak ada sejatinya kebenaran kecuali datang daripadaNya. Islam bukan agama jumud; “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”.

Inilah urgensitas dari silaturrahim yang sesungguhnya. Di level diri-individu upaya kembali ke-fitrah adalah berdamai dengan pertentangan diri, dengan dosa dan khilaf diri melalui “pembakaran” selama sebulan penuh menundukkan hawa nafsu. Tradisi “Halal bi halal” dengan saling bermaaf-maafan merupakan upaya penghapusan pertentangan di level keluarga dan sosial.

Hingga yang ada adalah penyambungan persamaan di antara perbedaan-perbedaan yang ada, karena hanya mereka yang bersikukuh dengan “kebenaran”-nya sendirilah yang tak mampu melakukan penghapusan (menuju firah) di level diri-pribadi maupun diri sosialnya. Tidak heran apabila dalam banyak ayat Qur’an, silaturrahim hampir selalu beriring dengan bentuk ketaqwaan seseorang: “Wattaqull ha al-ladzi na tasaa’alu na bihi wa al-arham” (QS. An-Nisa’: 1).

Secara essensial, keislaman dan keimanan merupakan suatu bentuk pertapaan seorang hamba (diri) untuk tak bergantung kepada selainNya.  Kesadaran dan kepasrahan diri untuk mengamini bahwa dunia adalah persinggahan sementara, bahwa di balik kelahiran dan kematian, kita akan melakukan “mudik besar” yang sesungguhnya. Dalam mudik inilah, hanya diri yang fitrah inilah mudik besar berupaya ditempuh.

Dengan demikian silaturrahim ataupun halal bi halal merupakan sesuatu hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap diri-individu untuk melakukan suatu penjernihan diri di tingkat personal, melakukan pemaafan terhadap khilaf diri melalui puasa dan pertapaan menahan segala bentuk nafsu dan syahwat. Menjalin hubungan-hubungan dengan sesama manusia, kerabat, masyarakat hingga lapisan diri yang terluas.

Mengikat simpul-simpul keterhubungan sosial melalui pemurnian diri di tingkat paling medasar yakni fitrah individu. Memaafkan kekelaman sejarah bangsa Indonesia (tanpa harus melupakan), memulai dari titik nol untuk membangun masa depan yang lebih berdamai dengan diri sosialnya.

Maka silaturrahim memiliki makna dengan kosmologi yang lebih luas, di mana kita mengacu kepada sunnah Nabi Muhammad menanamkan nilai keislaman dengan berpijak pada keragaman budaya. Lebih mengutamakan persamaan ditimbang bersikukuh dengan perbedaannya sendiri. Lapisan-lapisan pemahaman nilai yang telah terejawantah dalam keragaman identitas dan corak budaya, akhirnya mempertemukan diri yang dhahir dengan kecintaan dan kasih sayang yang bersifat lebih dalam.

Bukan ngotot pada soal siapakah kita secara diri-individu yang terikat dengan diri sosial dan masyarakatnya, akan tetapi kemana dan kepada siapakah kita sama-sama menuju melalui jalan ke-maslahat-an, sebagai hamba maupun khalifah-Nya!

Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.