Senin, April 12, 2021

Si Patai, Robin Hood dari Ranah Minang

Keadaban Bermedia Sosial

  Dewasa ini masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan media sosial. Layanan internet kini bisa dinikmati semua kalangan dengan mudah. Dari mulai anak-anak hingga mereka...

Situasi Keamanan Filipina Selatan Pasca Referendum Otonomi

Hubungan Indonesia dan Filipina saat ini tengah mengalami sedikit ketegangan akibat tragedi bom Jolo. Sebagaimana diberitakan, Filipina mengklaim bahwa pelaku pengeboman adalah sepasang suami-istri...

Pelajaran dari Messi untuk Peserta SBMPTN

Nilai apa yang bisa dipelajari dari Messi dan Ronaldo? Apa pula ibroh yang kita dapat dari kisah mereka saat menerima kenyataan bahwa kita lulus...

Darurat Ekologi dan Kesalehan Sosial

Satu tahun yang lalu, pada saat pergantian tahun terjadi bencana banjir di daerah Jabodetabek.  Kita kembali berduka bulan Januari 2021 juga terjadi banjir dan...
Halbert
Saya seorang jurnalis di media online yang ada di Sumatera Barat. Alasan saya ingin bergabung karena media tempat saya bekerja tidak menyediakan kolom opini.

Jika di Inggris mengenal sosok Robin Hood sebagai seorang penjahat berhati mulia, Betawi mengangkat sosok Si Pitung dengan dalih yang sama, Kota Padang juga memiliki seorang pejuang layaknya dua tokoh itu.

Namanya Si Patai, seorang pejuang pada masa pemerintahan Hindia-Belanda yang juga melakukan hal sama dengan dua tokoh ternama itu. Namanya memang jarang disebut, bahkan masyarakat Kota Bengkoang (sebutan untuk Kota Padang) sendiri sudah banyak yang tidak mengenalnya.

Mungkin karena ia berasal dari golongan hitam, makanya ia jarang disebut bahkan tidak tersentuh dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Cerita tentang Si Patai hanya diketahui oleh beberapa masyarakat di daerah Pauh tempat awal perjuangannya bersama Sarekat Djin yang merupakan perkumpulannya.

Rusli Amran (1922-1996) dalam buku Padang Riwayatmu Dulu bercerita, Si Patai bandit legendaris yang namanya menempati klasemen papan atas dalam daftar polisi Padang pada awal abad ke-20.

Dalam rombongan Si Patai, tersebut pula sederet nama-nama bandit Padang, antara lain Si Sampan Palalok dan Buyuang Tupang. Beberapa deretan bekas perjuangan Si Patai dituliskan bahwa sosok penganut ilmu hitam itu merupakan pejuang atas nama rakyat.

Pertempuran pertamanya dimulai pada tahun 1908 yang dinamai Perang Belasting. Pemberontakan itu berawal dari pemerintah Hindia Belanda menerbitkan peraturan belasting pada 21 Februari 1908 dan mulai berlaku sejak 1 Maret tahun itu.

Ketentuannya meliputi oofd belasting (pajak kepala), inkomsten belasting (pajak pemasukan suatu barang/cukai), hedendisten (pajak rodi), landrente (pajak tanah), wins belasting(pajak kemenangan/keuntungan), meubels belasting(pajak rumah tangga), slach belasting (pajak penyembelihan), tabak belasting (pajak tembakau), adat huizen belasting (pajak rumah adat).

Kebijakan itu dilawan oleh berbagai kelompok masyarakat mulai dari pasukan berjubah putih hingga pasukan dari golongan hitam yang dipimpin oleh Si Patai. Si Patai melakukan pemberontakannya pada 18 Juni 1908 yang dimulai dari daerah Pauh hingga pusat Kota Padang dan membuat kekacauan.

Beberapa pegawai pemerintah dibunuh. Saat hendak menyerbu pusat Kota Padang, mereka dihadang dan berhasil dihalau tentara kumpeni.

“Perang belasting hanyalah momentum yang dimanfaatkannya saja dalam upaya menggulingkan pemerintahan,” tulis Rusli Amran, pendiri dan pemimpin redaksi Harian Berita Indonesia, koran pertama yang terbit di zaman Indonesia merdeka.

Tidak hanya itu, Si Patai bersama Sarekat Djin yang dipimpinnya dari kalangan dunia hitam melakukan pemberontakan bersama meletusnya pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1927.

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Padang, Mestika Zed dalam buku Pemberontakan Komunis Silungkang 1927 menulis, pembentukan organisasi-organisasi bawah tanah yang salah satunya Sarekat Djin adalah realisasi dari gagasan pembentukan DO di Sumatera Barat berdasarkan instruksi dari CC PKI pada akhir Maret 1926.

Awal 1927, pemberontakan dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia di beberapa daerah di Ranah Minang. Si Patai bersama Sarekat Djinnya ikut ambil bagian dalam pereperangan tersebut.

“Saat pemberontakan PKI meletus awal 1927, Si Patai dan Sarekat Djin-nya banyak membunuh pejabat pemerintah Hindia Belanda,” ujar Mestika Zed.

Perjuangan Si Patai berakhir pada pemberontakan tersebut, ia gugur dan dipenggal, jasadnya diarak keliling Kota Padang oleh pemerintahan Hindia-Belanda.

Dari cerita yang disampaikan oleh masyarakat sekitar Pauh, Si Patai adalah sosok pejuang yang mementingkan masyarakat. Ia selalu mencuri bahkan meranpok rumah konglomerat masa pemerintahan Hindia-Belanda dan membagikannya kepada masyarakat sekitar.

Beberapa kali ia dikabarkan telah dibunuh oleh Kumpeni dengan tembakan bahkan dipenggal hingga bagian kepalanya terputus. 1927 menjadi duka bagi masyarakat miskin di Kota Padang saat mendengar kabar Si Patai telah gugur dalam pertempuran itu.

Dari cerita masyarakat sekitar, Si Patai seorang yang kebal peluru dan ia bahkan sering diselamatkan oleh masyarakat sekitar dengan melumuri bagian tubuhnya dengan air bekas cucian.

Konon, bagian tubuh Si Patai yang dipenggal akan kembali menyatu jika tubuhnya disiram dengan air bekas cucian. Ia menemui ajalnya dikarenakan peluru yang menembus dadanya telah dilumuri oleh minyak babi dan itu merupakan rahasia untuk melumpuhkannya yang dibocorkan oleh teman satu perguruan dengannya.

Halbert
Saya seorang jurnalis di media online yang ada di Sumatera Barat. Alasan saya ingin bergabung karena media tempat saya bekerja tidak menyediakan kolom opini.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.