OUR NETWORK

Sex (in) Equality

Dalam kasus Vanessa Angel proporsi pemberitaan yang dimuat serta-merta hanya melihat dari sudut pandang yang sangat subjektif dan bersifat personal

Diskriminasi atau bias gender sering ditemykan dalam pemberitaan dalam media konvensional amaupun media online, dan secara tidak langsung konten dari pemberitaan tersebut merepresentasikan bentuk eksploitasi wanita, dalam mayoritas frekuensi pemberitaan yang sering dimuat dalam media sering kali menggunakan angle “women as a suspect” daripada “men’s Involvement.

Dalam kasus Vanessa Angel proporsi pemberitaan yang dimuat serta-merta hanya melihat dari sudut pandang yang sangat subjektif dan bersifat personal, namun seharusnya karya jurnalistik yang ideal adalah karya yang menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalistik dan tidak hanya melihat dari satu sisi.

Namun, melihat dari segala sisi yang memungkinkan (NEWS North East West South), konten pemberitaan vanessa angel yang sering kali dimuat tersebut adalah representasi bagaimana bias gender masih ada dapam dapur redaksi mesia massa yang seharusnya menjadi konsumsi primer masyarakat akan informasi.

Konstruksi masyarakat sendiri mengenai gender yang dilihat dari sisi nilai sosial, budaya, pendidikan dll, masih menjadi persoalan mengenai bagaimana stereotip perempuan di mata masyaraka.

Meskipun, bentuk patriarki sudah mulai kurang pengaplikasiannya dalam masyarakat, wanita masih memiliki steroitip mengenai ruang lingkup kerja yang tidak bisa dijangkau oleh kaum hawa.

Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa bagi insan media, isu-isu yang mengandung unsur gender dapat mempengaruhi aspek pasar media dan memiliki segmentasinya sendiri, entah dalam media massa lokal, nasional, hingga ke internasional. Gambaran marginalisasi perempuan dalam konten media massa sering kali ditemukan di sinetron, iklan dan bahkan berita kriminal dimana wanita menjadi korban yang selalu tersudutkan.

Jurnalisme berperspektif gender menurut Yusuf (2004) merupakan sebuah kegiatan jurnalisme yang menginformasikan, mempermasalahkan, dan menggugat secara terus menerus mengenai adanya hubungan yang tidak setara atau ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan, yang dimana hal ini dapat diimplementasikan dalam pemberitaan media massa yang kian sering memunculkan konten pemberitaan yang bias gender.

Dalam sebuah dapur redaksipun idealnya adanya jumlah seimbang dari segi jumlah wartawan dan wartawati dalam sebuah redaksi, dan juga baban kerja yang setara antara laki-laki dan perempuan yang memungkinkan dapat memunculkan konten-konten yang bebas dari bias gender karena adanya sudut pandang dari jurnalis perempuan dalam pengolahan berita tersebut, hal ini juga bisa menjadi amunisi untuk meng-counter pemberitaan bias gender yang kerap di muat dalam media massa.

Picture source : tribunjatim.com

Mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.