OUR NETWORK

Setelah Nonton Film Sexy Killer, Haruskah Golput?

Situasi dan keadaan yang hampir sama ditemukan pada penduduk yang tinggal berdekatan dengan PLTU.

Sexy Killers adalah sebuah film dokumenter yang sedang banyak diputar di beberapa kota di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan digarap bersama tim Watchdog Indonesia.

Lewat film ini Dandhy dan Watchdog, lembaga yang didirikan bersama Andhy Panca Kurniawan, menyampaikan cerita tentang apa yang dialami masyarakat sipil yang tinggal berdekatan dan berseberangan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Kalimantan, Karimunjawa, Sulawesi dan Bali.

Di Kalimantan misalnya, di mana dulunya adalah suatu daerah dengan gunung yang subur dan hasil pertanian yang melimpah, kini setelah dibangun PLTU situasi menjadi amat berbeda. Masyarakat hidup dengan kesulitan air bersih, perlu jalan kaki dengan jarak sekitar 1,5 kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Tentu saja ini sangat miris sekali, pihak pabrik tak mau bertangung jawab atas situasi tersebut, tanah bekas galian pun tak kunjung direklamasi. Hal yang lebih mengerikan lagi terdapat lubang galian batubara di belakang SD dan tidak jarang anak-anak juga menjadi korban tenggelam akibat tanah galian yang berubah menjadi danau karena menjadi lokasi bermain anak-anak.

Dalam film tersebut dinyatakan terdapat 32 anak meninggal akibat bekas galian tambang yang tidak direklamasi sepanjang 2012 hingga 2013. Mirisnya lagi daerah tersebut dulunya dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Setelah dari Kalimantan, tim Watchdog melali ke Karimunjawa. Berbeda dengan anggapan banyak orang, rupanya Karimunjawa tak hanya tempat untuk para turis. Terdapat PLTU terbesar di sana, yaitu PLTU Batang yang dibangun di atas tanah yang masih bersengketa.

Operasi PLTU terbesar di Asia tenggara ini telah mengganggu habitat ikan dan tumbuhan seperti kelapa. Seorang pencari ikan dan security dalam film tersebut mencoba membandingkan penghasilan yang didapatkan antara melaut dan bekerja di PLTU, ia menuturkan bahwa dalam sebulan melaut dapat mendapatkan penghasilan sekitar 13 juta sedangkan menjadi security di PLTU hanya mendapatkan 2,5 juta per bulan.

Perbedaan penghasilan yang berbeda drastis ini memang jadi satu poin, hanya saja pria dalam film tersebut menuturkan bahwa penghasilan melautnya semakin berkurang sejak dibangunnya PLTU Batang, jumlah ikan tangkapannya semakin sedikit karena dampak dari limbah pabrik.

Dalam kondisi seperti itu dapat ditebak jika dibiarkan terus-menerus maka akan terjadi kerusakan habitat laut yang juga akan membawa dampak pada para nelayan. Penghasilan mereka akan berkurang hingga memaksa berhenti dari melaut dan akhirnya bisa saja akan bekerja di PLTU atau pabrik lainnya. Melihat upah tenaga industri yang amat jauh dibandingkan penghasilan sebagai nelayan maka tentu saja kesejahteraan mereka justru menurun bahkan bisa jadi menjadi warga yang rentan terhadap kemiskinan.

Itu hanya sedikit fenomena yang ditampilkan dalam film tersebut, belum lagi jika melihat daerah lain maka akan lebih banyak lagi dijumpai masyarakat-masyarakat yang semakin tergusur oleh akibat adanya pembangunan. Menjadi hal yang perlu direnungkan bahwa pembangunan yang harusnya membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan dan penurunan kemiskinan justru membuat rakyat semakin menderita.

Pembanguan ekonomi sudah selayaknya juga mempertimbangkan aspek kemanusiaan bukan hanya meningkatkan pendapatan negara. Jika hanya pendapatan negara yang dijadikan tolok ukur maka bisa saja dicapai dengan meningkatkan investasi dan menggenjot perdagangan, namun hal itu akan menjadi lebih komplek jika melihat apakah pendapatan negara yang meningkat sekian persen juga meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, disini sangat penting dilihat adalah pada masyarakat kelas menengah ke bawah yang rentang pada kemiskinan.

Seharusnya pembangunan bersifat alamiah dengan mengikuti kebutuhan masyarakat, hingga setiap daerah mempunyai tolok ukurnya masing-masing, karena bisa jadi bagi warga Jakarta dan beberapa kota besar lain membutuhkan jalan raya yang memadai dan transportasi cepat, namun diaerah lain seperti Papua yang dilihat warga belum mmerlukan jalan raya bebas hambatan maka tak perlulah kiranya jika pembangunan di fokuskan pada pembangunan jalan.

Pembangunan jalan di daerah kecil  seharusnya bersikap hati-hati dan disesuaikan dengan kebutuhan. Tak heran karena pembangunan jalan misalnya yang berlebihan ditakutkan oleh beberapa kalangan hanya akan menguntungkan pihak pemodal untuk lebih mengeksploitasi sumber daya alam di pedalaman.

Seperti jelas ditampilkan dalam film Sexy Killers dimana para pemilik modal sangat bebas mengekploitasi alam yang juga didukung oleh negara (pemerintah) dengan dalih investasi. Meski investasi memang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara, namun peran serta pemerintah untuk aktif mengatur investasi asing dalam pasar global amatlah dibutuhkan.

Seringkali terjadi pemerintah pusat ataupun daerah dengan mudanya memberi ijin pada para investor asing karena lebih menjanjikan dan lebih cepat membawa keuntungan dan dengan cepat pula meningkatkan pendapatan daerah, sehingga ijin seperti pertambangan dll menjadi sangat lentur  hingga sering mengabaikan protes rakyat.

Tentu permasalahan ini saling berkelindan antara peran pemerintah dan perusahaan asing. Pemerintah dituntut ketegasannya pada investor asing sehingga kedaulatan bangsa dapat diselamatkan. Jika tidak maka bersiaplah pada fenomena kemiskinan, ketidakadilan, praktik KKN dan kejahatan lain yang akan terus menggeliat.

Sebagai seorang warga negara yang masuk dalam kelompok milenial, saya dan yang lain dibuat bingung, menjelang hari pencoblosan presiden dan calon presiden tanggal 17 April nanti, tak sedikit dari kita yang masih belum menentukan pilihan. Seperti saya, yang masih dibuat dilema karena kedua paslon disokong oleh bisnis tambang itu sendiri. Bagaimanapun jika memilih golput pada akhirnya juga tetap akan mempunyai presiden di antara kedua calon yang ada.

Saya tidak bermaksud mengomentari pilihan golput, wajar saja golput ada dalam setiap pesta demokrasi. Lagi pula banyak alasan yang mendasari pilihan golput seperti tidak sempat pulang ke daerah asal pemilih dan belum mengurus A5, merasa ketidakcocokkan dari kandidat yang ada atau mempunyai gagasan lain dalam berbangsa. Saya pun juga hampir mengikuti golongan putih ini, namun kembali saya urungkan.

Saya masih merasa golput bukan pilihan yang tepat, jika tidak didukung oleh aksi selanjutnya yang memilki dampak pada kehidupan bernegara. Sebagai warga berbangsa dan menghadapi fenomea yang amat pelik akibat globalisasi, menurut saya yang terpenting saat ini adalah bersatunya semua elemen warga negara.

Sesungguhnya negara ini sedang dalam kondii yang genting, sehingga peran kita sebagai warga negara menjadi sangat penting. Masyarakat perlu mengawal jalannya pemerintahan dengan baik seperti, memerangi korupsi, ketidakadilan, dan kemiskinan. Hingga pada akhirnya jika saat pemilu hadir kita perlu menyadari tanggung jawab untuk mengawal jalannya roda kepemimpinan. Tidak apatis dan selalu bersuara adalah pilihan.

Umi Nurchayati tinggal di Yogyakarta. Selepas lulus kuliah kini masih menekuni belajar di sebuah Pesantren sambil menjadi penulis lepas banget yang masih mengandalkan kopi tubruk untuk dapat begadang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…