OUR NETWORK

Setelah Lombok Diguncang Gempa, Lalu Apa?

Bahwa bencana tidak boleh lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Setelah diguncang gempa 6,5 Skala Richter pada Minggu (29/7/2018) dan gempa utama berkekuatan 7 SR sepekan berikutnya (6/8/2018), saudara-saudara kita di Lombok tampaknya harus bersabar lebih lama lagi. Menurut prediksi BMKG, gempa susulan masih akan terjadi hingga beberapa pekan ke depan. Bahkan, gempa susulan yang terjadi Kamis siang (9/8/2018) mencapai magnitudo 6,2 SR dan kembali menelan korban jiwa.

Laporan BNPB per 15 Agustus 2018 mengungkap jumlah sementara korban jiwa sebanyak 460 orang. Dimungkinkan jumlahnya akan terus bertambah seiring proses pendataan dan pencarian korban yang masih terus dilakukan. Belum lagi puluhan ribu korban luka-luka dan ratusan ribu para pengungsi yang tersebar di ribuan titik pengungsian.

Selain itu, BNPB juga melaporkan puluhan ribu unit bangunan dan fasilitas publik mengalami kerusakan. Meliputi tempat tinggal, tempat ibadah, fasilitias umum, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, serta sarana pendidikan dan kesehatan. Semua data ini masih bersifat sementara sehingga masih dimungkinkan akan meningkat.

Begitulah gambaran sekilas atas apa yang sedang dialami oleh saudara-saudara kita di Lombok. Mereka yang sekarang tengah menderita ditimpa musibah gempa. Jelaslah ini musibah dan tidak ada hubungannya dengan hal ihwal politik di negeri ini. Toh, andaikan benar ini ‘teguran’ Tuhan, tolong janganlah merasa diri laksana ‘malaikat’. Yang bukannya bersimpati dan tergerak ikut berdonasi, malah justru mengutuk dan memvonis penderitaan mereka.

Di sisi lain, dalam perspektif sains, bolehlah orang-orang yang cakap di bidang ini menduga bahwa gempa Lombok terjadi akibat dari pergerakan Sesar Naik Flores (Flores Arch Thrust) yang lokasinya sekitar satu kilometer dari lepas pantai sebelah utara Lombok.

Sesar atau patahan yang terbentang di sepanjang wilayah Bali dan Nusa Tenggara itu menunjam bagian daratan Pulau Lombok sehingga pergerakan tersebut menimbulkan tumbukan yang kemudian menghasilkan gempa.

Namun balik lagi, selaku insan beriman, keyakinan atas kehendak prerogatif Tuhan seyogianya dijadikan sebagai prinsip utama. Bahwa segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini atas kehendak belaka Tuhan Yang Mahakuasa.

Terserah Tuhan menghendaki apa saja kepada sesiapa pun hamba-Nya, kapan dan di mana saja, serta dengan berbagai ragam cara dan rupanya. Dengan demikian, gempa yang mengguncang Lombok, kampung halaman penulis, benar-benar musibah yang berada di luar batas kendali dan kuasa manusia.

Di samping, wajib pula bagi manusia senantiasa berikhtiar dan tidak lantas bertopang dagu atas apa yang ditakdirkan Tuhan. Sesuai paham teologi Asy’ariyah yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Yakni, akidah Islam yang menganut pemahaman seimbang antara pemahaman Jabariyah (kuasa mutlak Tuhan) dan Kadariyah (kehendak bebas manusia).

Nah, dalam konteks ikhtiar inilah penulis ingin menekankan dua hal penting menyangkut ikhtiar yang sepatutnya dilakukan pasca-gempa; hal pertama bersifat kuratif, sementara yang kedua bersifat preventif.

Sebagaimana dimaklumi bahwa selain berdampak fisik, peristiwa katastrofik di Lombok ini tentu juga menyisakan pengalaman traumatis bagi para korban yang selamat. Trauma psikologis demikian sangat berdampak pada kondisi psikis mereka dan perlu mendapat penanganan khusus.

Rehabilitasi psikis jelas berbeda dan lebih sukar daripada rehabilitasi fisik. Sekalipun dalam prakteknya di lapangan memang sama-sama tidak mudah. Lagi pula, proses penyembuhan luka psikis memerlukan waktu yang jauh lebih lama. Rasanya tidak cukup hanya dengan mengandalkan penanganan psikologis dari petugas tanggap bencana atau relawan saat ini yang sifatnya sementara waktu. Akan tetapi, diperlukan upaya penanganan jangka panjang guna mendukung penyembuhan total trauma.

Gangguan psikis tersebut erat kaitannya dengan kondisi spiritual para korban dalam memaknai musibah yang sedang menimpa mereka kini. Manakala tingkat spritualitasnya tinggi, musibah ini justru semakin menebalkan keimanan dan memantapkan kehambaan mereka kepada Tuhan.

Kemapanan spritualitas lantas melahirkan sikap penerimaan (ridha) dan kepasrahan (tawakal) sepenuhnya kepada kehendak Sang Kuasa. Sikap-sikap positif semacam inilah yang bakalan mampu menguatkan mereka secara psikis. Dan lagi, dapat mengobati luka psikis mereka.

Jurnal Counseling and Values pernah memuat sebuah artikel penelitian berjudul “Religion and Spirituality in Coping with Stress”. Penelitian tersebut mengelaborasi pengaruh religiusitas dan spiritualitas seseorang terhadap kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Kesimpulannya bahwa religiusitas dan spiritualitas memang memiliki peran signifikan.

Jurnal Counseling and Values pernah memuat sebuah artikel penelitian berjudul “Religion and Spirituality in Coping with Stress”. Penelitian tersebut mengelaborasi pengaruh religiusitas dan spiritualitas seseorang terhadap kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Kesimpulannya bahwa religiusitas dan spiritualitas memang memiliki peran signifikan.

Berdasarkan asumsi di atas, maka rehabilitasi psikis dapat diikhtiarkan melalui upaya peningkatan spiritualitas para korban. Salah satu caranya adalah dengan mengupayakan rehabilitasi fisik bangunan tempat ibadah mereka. Jika sampai mereka dibiarkan sendiri merehabilitasi tempat ibadah mereka secara swadaya, maka ini dapat dipastikan menjadi penghambat penyembuhan total trauma.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, bangunan peribadatan yang mengalami kerusakan sebanyak 189 unit, terdiri atas 183 masjid dan musala, ditambah 6 pura. Jumlah ini sesuai data yang tercatat per 13 Agustus 2018, pukul 17.00 WITA, yang berasal dari Dansatgas Posko Komando Penanganan Dampak Bencana Gempa Lombok Kol. Ahmad Rizal Ramdani Danrem 162 Wirabhakti.

Poin selanjutnya, menyangkut bagaimana masyarakat Lombok mampu mengambil hikmah dan menyadari ‘pesan’ Tuhan di balik musibah ini.

Barangkali gempa tektonik ini dapat menjadi aware bagi kita, khususnya mereka saudara-saudara kita di Lombok. Bahwa Pulau Lombok dan gugusan pulau di sepanjang bujur Kepulauan Nusa Tenggara berada di zona tektonik aktif. Sebab secara umum, negeri kita Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng bumi aktif, yaitu Pasifik, Hindia-Australia, dan Eurasia.

Ditambah, Lombok juga termasuk ke dalam zona vulkanis aktif atau kawasan deretan gunung api teraktif di dunia. Sebut saja, Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Benar fakta geografis Pulau Lombok ini memberikan berkah tersendiri bagi penduduknya. Seperti kesuburan tanah dan keindahan alam yang memukau. Tetapi hal ini memiliki konsekuensi berupa kesiapan dan kesiagaan saudara-saudara kita di sana dalam ihwal menghadapi kerawanan bencana.

Berangkat dari kenyataan tersebut maka edukasi bencana merupakan poin selanjutnya yang penting diikhtiarkan. Bahwa bencana tidak boleh lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Tetapi, sebisanya diantisipasi terjadinya dan diminimalisir dampaknya. Alhasil, edukasi bencana kepada saudara-saudara kita di Lombok perlu dilakukan sebagai strategi awal dalam membangun masyarakat sadar bencana. Wallahu a’lam.

Sumber foto: liputan6.com

Pelajar di Pascasarjana Universitas Ibrahimy dan Ma'had Aly Situbondo Jawa Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…