OUR NETWORK

Setelah Ahok, Kini Giliran Rocky Gerung!

Hal itu menjadi bukti nyata adanya kemunduran berpikir dalam kehidupan masyarakat kiwari.

Selain membuat petisi absurd seperti yang dilakukan Maimon Herawati, masyarakat Indonesia memiliki kegemaran lain yang tidak kalah lucu – melaporkan kasus penistaan agama. Alih-alih mengkaji dan mendebati secara ilmiah gagasan yang dianggap menista agama, oknum-oknum tertentu justru lebih senang memolisikan. Hal itu menjadi bukti nyata adanya kemunduran berpikir dalam kehidupan masyarakat kiwari.

Dua tahun sebelumnya, kita dibuat terperangah dengan adanya aksi demonstrasi yang menuntut Ahok dipenjara karena dinilai menista Quran (gerakan itu sudah dua kali melakukan reuni). Pernyataan Ahok yang mengatakan “Dibohongin pakai Al-Maidah ayat 51” mengundang reaksi luar biasa dari umat Islam – dari yang saleh/salihah betulan, hingga saleh/salihah jadi-jadian. Perkataan Ahok pun digoreng sedemikian rupa demi kepentingan lawan politiknya.

Alhasil, Ahok pun dikecam habis-habisan oleh umat Islam yang merasa kitab sucinya dinistakan. Mulai dari umat Islam yang setiap harinya memang selalu membaca Quran, hingga umat Islam yang membiarkan Quran berdebu di rumahnya. Jika bersedia mengaku jujur, sebenar-benarnya penistaan pada Quran justru dilakukan oleh kebanyakan umat Islam – ketika kita membiarkan Quran sekadar jadi pajangan.

Mengapa banyak orang Islam yang begitu mudahnya terprovokasi pada isu-isu penistaan agama? Karena banyak ustaz yang berusaha memisahkan akal dengan ajaran agama. Banyak ustaz menekankan sami’na wa atho’na “kami mendengar dan kami taat” sebagai legitimasi untuk menggiring umat pada taklid buta.

Hal itu yang terjadi pada kasus yang menimpa Ahok. Alih-alih menganalisis maksud perkataan Ahok, para umat Islam yang menganggap dirinya membela agama langsung kalap. Banyak di antara mereka yang justru tidak tampak Islami – menyerapahi Ahok dengan kata-kata seperti anjing, babi, dan sebagainya. Bahkan ada yang menyerukan Ahok untuk digantung.

Mereka menjadi seberingas itu karena merasa telah melakukan tindakan yang benar. Mereka menelan mentah-mentah doktrin ustaz yang menentang Ahok. Sehingga seakan-akan mereka sedang melakukan Jihad. Masyarakat yang tadinya tidak ambil pusing dengan perkataan Ahok, akhirnya juga ikut-ikutan menyerang Ahok. Sebab jika diam, mereka dianggap tidak mencintai Quran dan mendukung penistanya.

Padahal, jika seandainya mereka menjalankan perintah Allah untuk senantiasa menggunakan pikiran, mereka tidak akan mudah diprovokasi seperti itu. Allah menegaskan pentingnya berpikir karena agama ini hadir sebagai respons untuk menentang kebudayaan jahiliah. Maka semestinya, Islam kembali pada fitrahnya – menyelamatkan kita dari tindakan-tindakan yang demikian. Agar kita muskil dipolitisasi.

Ketika kita telah menjadi umat Islam yang senantiasa berpikir, maka kita akan lebih tawadhu’ dan lebih bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu. Perkataan Ahok yang dinilai menista Quran, dapat kita nalar secara kritis. Bahwa maksud perkataan Ahok bukan menggangap Al-Maidah menyebarkan kebohongan, tetapi dapat dipakai sebagai alat untuk berbohong oleh golongan tertentu.

Setiap ayat suci dapat digunakan untuk perbuatan yang buruk oleh orang-orang tertentu. Para Islam ekstrem misalnya – yang menggunakan At-Taubah ayat 29 untuk melegitimasi tindakan jahanamnya. Bayangkan jika setiap orang keliru menafsirkan konteks sami’na wa atho’na dan menjalankan isi tekstual dari ayat tersebutTentu terorisme akan merajalela di mana-mana dan merasa telah menjalankan perintah Allah.

Dari hal tersebut, kiranya kita bisa memahami mengapa Allah memberikan keutamaan kepada orang yang berilmu. Sepatutnya pula kita menyadari mengapa perintah pertama itu membaca, bukan salat. Hal itu karena Allah menginginkan kita menjadi hamba-hamba yang memiliki kedalaman dan ketajaman berpikir – ketimbang sekadar menjalankan perintah-Nya tanpa menyelami substansinya.

Sebagai upaya mencapai hal tersebut, saya berusaha mempelajari dan mendalami kajian Analisis Wacana Kritis – suatu kajian yang mengganggap penggunaan bahasa bukan sebagai sesuatu yang netral, tetapi memiliki maksud terselubung. Seperti pandangan Norman Fairclough dalam bukunya Language and Power bahwa kosakata dan struktur kalimat bukan sekadar tata bahasa, melainkan medium praktik kekuasaan. Ada upaya-upaya mendukung dan meneguhkan ideologi tertentu (biasanya kaum superior) dan menyudutkan atau memarginalkan golongan tertentu (biasanya kaum inferior).

Berkaitan dengan itu, Analisis Wacana Kritis memandang teks-teks agama tidak luput dari pemanfaatan yang demikian. Maka amat penting menafsirkan teks-teks agama secara kritis dan kontekstual. Sehingga dalam upaya penafsirannya, semaksimal mungkin tidak memihak pada pembenaran kekuasaan, melainkan pada kebenaran.

Begitu pun dalam menilik pernyataan Rocky Gerung yang menganggap kitab suci sebagai fiksi. Idealnya, kita memaknai pernyataan Rocky Gerung secara kontekstual, bukan tekstual. Jika secara tekstual, Rocky Gerung sudah pasti menistakan kitab suci karena pemaknaannya menjadikan kitab suci sebagai cerita rekaan atau khayalan. Pemaknaan itu tidak hanya menista satu agama, tetapi semua agama. Tentu, pernyataan Rocky Gerung bisa mendapatkan sanksi yang lebih berat ketimbang pernyataan Ahok pada waktu silam.

Akan tetapi, seperti pernyataan Ahok yang seharusnya dinalar secara kritis, pernyataan Rocky Gerung pun demikian. Pernyataan fiksi mesti dimaknai secara kontekstual – sebagai sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. Konteks itu yang melatarbelakangi pernyataan Rocky Gerung. Meskipun, agak bias ketika dia mengatakan “Fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif” karena sufiks “if” pada kata “fiktif” menyatakan sifat – bersifat fiksi.

Andai mitra diskusinya atau para pelapornya terbiasa berdiskusi ilmiah, barangkali bisa menemukan cela yang bermuatan paradoks tersebut. Namun sayang, mereka yang mendebati atau melaporkan Rocky Gerung adalah orang-orang yang cara berpikirnya sekelas Abu Janda sehingga dasar argumennya amat dangkal dan lemah. Akhirnya, saya paham alasan teman saya menasihati siswanya untuk rajin membaca dengan mengatakan “Jika kalian malas membaca, kalian akan mirip Abu Janda.”

Selain itu, dari kasus Rocky Gerung tersebut, saya semakin sadar bahwa gerakan membela agama yang menyebabkan Ahok berada di balik jeruji, bukanlah murni gerakan agama – ada kepentingan politik di dalamnya. Maka dari itu, Rocky Gerung pun sangat beruntung karena menjadi pihak yang mengkritik petahana. Andai mengkritik kubu oposisi, kita pasti terkinjat mendapati media sosial dan jalanan kembali ramai – dengan tuntutan untuk memenjarakan penista agama.

Kawan Rocky Gerung, Anda patut bersyukur!

Pustakawan Komunitas Setara dan Anggota Teman Baca. Sesekali menulis di pustakamerahitam.blogspot.com. Dapat dihubungi melalui surel: suriadibara@gmail.com dan instagram/twitter: @suriadibara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…