Jumat, Oktober 30, 2020

Seruan Boikot Haji

Pemerintahan, Kekuasaan, dan Kekerasan

Seringkali kita mendengar kata kekerasan dan kekuasaan, yang menjadi asumsi perbuatan buruk dalam hidup manusia. Namun, bukankah kekerasan dan kekuasaan diperlukan untuk mencapai kesetaraan...

Menjelang Tutup Buku DPR RI

1 Oktober, Senayan dihuni oleh wajah-wajah 'baru' yang akan bekerja hingga lima tahun ke depan. Saat seperti ini seharusnya disambut sebagai momen menggembirakan bagi...

“Pemuda”, Dulu Perjuangkan Pancasila, Kini Berlindung Dibaliknya

Sejak malam tadi, bahkan sebelum pukul 00.01 tanggal 28 Oktober 2017 berbagai jejaring sosial sudah diramaikan dengan postingan perayaan Hari Sumpah Pemuda. Postingannya bermacam-macam,...

Spanduk Doa di Atas Bencana

Bentangan spanduk doa di jalan-jalan, serentetan doa-doa kudus kita yang bertubi-tubi kita panjatkan tidak serta merta menghalau apalagi menghentikan bencana, khususnya banjir dan longsor...
Yopi Makdori
Pengagum orang-orang yang berilmu | Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman | Lingkar Cendekia

Bagi umat Islam di dunia, Haji merupakan salah satu rukun Islam kelima yang pelaksanaannya hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu, baik secara materil, fisik, maupun fisikis. Namun akhir-akhir ini seruan untuk memboikot haji di negara-negara MENA (Middle East and North Afrika–Timur Tengah dan Afrika Utara) mulai mencuat.

Hal tersebut dilatarbelakangi dari asumsi yang mengatakan bahwa uang yang digelontorkan oleh para jama’ah haji mengalir ke Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia untuk mendanai perang di Yaman yang telah menyengsarakan jutaan penduduk di sana.

Dikutip dari halaman Middle East Monitor (MEMO), Jum’at (22/06), Persatuan Imam Tunisia (The Union Tunisian Imams) menyerukan kepada Mufti Besar di sana untuk mencegah para jama’ah haji Tunisia melakukan ritual haji pada tahun ini. Mereka beralasan bahwa seruan tersebut bertolak dari fakta mahalnya biaya perjalanan haji dan uang dari para jama’ah tersebut digunakan oleh Saudi untuk mendanai perangnya terhadap negara muslim, yakni Yaman.

Ibadah haji tahun ini akan dilangsungkan pada 19 hingga 24 Agustus. Diperkirakan, sedikitnya dua juta jama’ah haji dari seluruh penjuru dunia akan melangsungkan ritual yang sakral bagi umat muslim tersebut. Masih menurut sumber yang sama, Sekertaris Umum Persatuan Imam Tunisia, Fadhel Ashour, mengatakan kepada media lokal:

“Lebih baik menghabiskan uang ini (red: dana untuk perjalanan haji) untuk meningkatkan kondisi masyarakat Tunisia. Ia (Arab Saudi) menggunakan uang dari jama’ah haji untuk mengagresi negara-negara Islam, seperti Suriah dan Yaman, yang mana hal tersebut bertentangan dengan Sharia (red: Hukum Islam).”

Sebelumnya, seruan semacam ini sudah banyak dijumpai di pelbagai halaman media sosial yang dikelola oleh para milisi Houthi. Hal tersebut bertujuan untuk mematikan sumber pendanaan yang didapatkan Saudi dari para jama’ah haji untuk membiayai perang di Yaman.

Keterlibatan Saudi dalam konflik sipil di negara itu bertujuan untuk “mengembalikan kepemimpinan yang legitimet (sah)”, yakni di bawah kepemimpinan Presiden Abd Rabu Mansour Hadi–yang merupakan pengganti Presiden Ali Abdullah Saleh saat peristiwa “Arab Spring” pada 2011 lalu.

Benarkah Dana Haji Digunakan untuk Perang di Yaman?

Sejak harga minyak dunia anjlok pada 2014, Saudi berusaha mencari sumber pendapatan dari sektor lain, dan yang menurut negara itu berpotensi untuk menggantikan–atau paling tidak mengimbangi–besarnya pendapatan dari sektor minyak ialah sektor pariwisata. Ibadah haji merupakan salah satu komponen yang masuk dalam sektor tersebut.

Dikutip dari halaman CNN, Jum’at, 9 Sepetember 2016, pada 2015 lalu, sektor pariwisata Saudi menyumbang sebesar  22 miliar dolar bagi negara tersebut, atau setara dengan 3,5% dari total pendapatan yang diperoleh negara itu. Angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah pendapatan yang diperoleh dari sektor minyak, yakni mencapai persentas sebesar 40%.

Maka di sini jelas bahwa sebenarnya sektor “haji” tidak begitu besar menyumbang pendapatan bagi Saudi. Angka 3,5% pun didapatkan dari gabungan berbagi sektor pariwisata, dan jika haji dipisahkan, maka persentasenya akan lebih kecil lagi.

Oleh karenanya klaim yang menyatakan bahwa dana haji mendorong agresivitas Saudi terhadap sesama saudara muslimnya di Yaman kurang mendaptkan dukungan data yang kuat. Hal ini mengingat signifikansi perolehan pendapatan Saudi dari para jama’ah haji masih dibilang minim dibandingkan dengan biaya yang harus negara itu gelontorkan untuk mendanai perang di negara tetangganya.

Sebenarnya tidak ada data resmi yang dikeluarkan oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi mengenai jumlah biaya perang di Yaman, namun menurut Brookings Institute (lembaga think thank Amerika Serikat) yang laporanya dikutip dalam halaman Press TV pada Selasa (3/3), menyatakan bahwa setidaknya 5-6 miliar dolar digelontorkan oleh Riyadh setiap bulannya untuk mendanai perang di Yaman.

Artinya, negara itu menghabiskan dana sebesar 60-72 miliar dolar setiap tahunnya untuk membiayai perang di sana. Bandingkan dengan jumlah pendapatan yang diperoleh dari sektor pariwisata yang hanya 22 miliar dolar, sangat jauh bukan? Apalagi jika hanya dari komponen haji saja, akan semakin tidak realistis untuk mengatakan bahwa pendapatan dari jama’ah haji berperan signifikansi untuk mendanai perang Saudi terhadap Yaman.

Akar Sesungguhnya

Perang Saudi terhadap Yaman secara dominan justru ditopang dari ketersediaan persenjataan yang diperoleh dari Amerika Serikat dan Inggris. Mengutip dari halaman The New Yorker, Senin (22/1), pada November 2015, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama menyetujui penjualan senjata ke Saudi senilai 1,29 miliar dolar.

Pada akhir masa kepresidenan Obama, Amerika telah menawarkan senjata senilai lebih dari 115 miliar dolar ke Arab Saudi, termasuk kapal perang, sistem pertahanan udara, dan tank. Sedangkan pada era kepresidenan Donald Trump, Amerika dan Saudi menyepakti kesepakatan jual beli senjata senilai 110 miliar dolar saat Presiden Trump berkunjung ke Saudi pada bulan Mei tahun lalu.

Begitu pula dengan Inggris, mengutip dari halaman The Guardian, Selasa, 24 Oktober 2017, Inggris telah menjual persenjataan militer kepada Saudi lebih dari 1,1 miliar euro pada semester pertama 2017.

Sejumlah 280 juta euro pada Januari hingga Maret dan 836 juta euro pada April hingga Juni. Kedua negara tersebut merupakan pendorong utama pembantain Saudi terhadap penduduk Yaman yang menurut laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)–dikutip dari The Guardian, Selasa (16/01)–telah menewasakan atau melukai sedikitnya lima ribu anak-anak dan membuat 400 ribu lainnya mengalami malnutrisi.

Yopi Makdori
Pengagum orang-orang yang berilmu | Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman | Lingkar Cendekia
Berita sebelumnyaGuru Honorer Terkejut! Ada Apa?
Berita berikutnyaRoti Beraroma Cinta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.