Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Sepenggal Alusi Sejarah Ngebel dalam Serat Centhini

Luka Modric dan Kroasia

Kroasia bukan tanpa perlawanan dan taktikal, tim yang dianggap sebagai kuda hitam ini, mampu melenggang ke babak final. Berada di grup D bersama Argentina,...

Meragukan Pancasila Perspektif Doktrin dan Ilmiah?

Kata ‘meragukan’ jika dalam konteks keilmuan menjadi preseden positif, karena tidak mungkin ilmu berkembang jika tidak ada keraguan atas hal yang ada. Status quo dalam...

Fenomena Hoaks di Media Sosial

Kabar Hoaks atau berita palsu akhir-akhir ini demikian marak di media. Media yang satu ini dibilang baru sebagai tempat penyebar hoaks. Bukan lagi di...

Makna Hari Ibu dan Belenggu Patriarki

Sejarah mencatat bahwa setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati hari ibu. Tidak hanya Indonesia, di beberapa Negara juga terdapat hal yang serupa, atau kita...
Frengki Nur Fariya Pratama
Mahasiswa Ilmu Susastra Undip Semarang, Komunitas Sraddha Institute, Komunitas Sastra Langit Malam, anggota Pramuka.

Menurut Sri Margana dalam buku Pujangga Jawa dalam Bayang-bayang Kolonial (2004) Serat Centhini ditulis atas prakarsa KGPAA Hamengkunagara III (Sunan Pakubuwana V) dibantu oleh R.Ng. Ranggasutrasna, R. T. Sastranagara dan R.Ng.

Sastradipura serta dibantu pula Pangeran Junggut Mandurareja, Ulama Besar Ponorogo Kiai Kasan Besari dan Kiai Mohammad Minhad dengan candra sengkala Paksi Suci Sabda Ji jika dikonversikan dalam angka menjadi 1742 Jawa atau 1814 M. Tak lain masih dalam masa pemerintahan Pakubuwana IV.

Tercatat dalam Serat Centhini Pupuh 394. wirangrong  sampai 398.Gambuh daerah Ngebel diceritakan sebegitu terperinci. Mulai dari Bale Batur, Sumber Bethara, Sumber Padusan, Sumber Upas,Telaga Ngebel dan Celangap warih (saluran irigasi zaman Belanda) sangat rinci digambarkan. Dusun Saba menjadi latar Amongraga (tokoh dalam Serat Centhini) menapakkan kakinya kali pertama di Ngebel.

Timbullah pertanyaan, kenapa dusun Saba menjadi latar penceritaan dalam Serat Centhini?

Alusi Peristiwa Sejarah Di Ngebel

Dalam buku Kuasa Ramalan Jilid 1 (2011) Peter Carrey memaparkan peristiwa konflik kecil di desa Sekodok, yang sekarang masuk dalam wilayah administratif kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo.

Peter Carrey mengungkapkan bahwa di tahun 1810 Masehi terjadi gejolak politik antara Raden Ronggo dan Mas Aryo Wiryodiningrat. Pemicunya, adanya tuduhan penyerangan lintas batas perbatasan Madiun sebagai wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Ponorogo sebagai wilayah Kasunanan Surakarta.

Babad Pakualaman mengungkap kepedihan Raden Ronggo pasca kematian istrinya Ratu Maduretno. Hampir saban hari Raden Ronggo meratapi kepergian istrinya di makam Giripurno yang terletak di Gunung Bacak, Maospati. Selepas bangkit dari duka mendalam atas kematian istrinya, Raden Ronggo melakukan pengusutan para komplotan perampok ke daerah Sekodok, Gunung Ngebel.

Raden Ronggo menduga penduduk daerah itu terlibat perampokan daerah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta yang berada di Madiun. Dia mengirimkan satu regu berjumlah 800 orang ke Sekodok. Pengusutan itu dilakukan seizin rekannya Ario Wiryodiningrat pejabat daerah kekuasan Kraton Surakarta di Ponorogo.

Saat melakukan pengusutan, utusan dari Raden Ronggo mendapati penduduk desa itu telah kosong. Pada waktu pencarian, regu pencari utusan Raden Ronggo disergap oleh perampok asal daerah tersebut. Baku hantam pun terjadi. Tercatat 2 orang penyergap tewas dan satu luka-luka. Regu pencari pun melakukan serangan balasan dengan me-ngobrak-abrik daerah sekitar Ngebel.

Atas peristiwa tersebut Raden Ronggo berinisiatif melakukan pertemuan dengan tiga bupati kawasan Ponorogo, setelah Grebeg Maulud 18 April 1810. Namun, Raden Ronggo malah dituduh bahwa peristiwa membela diri di daerah Sekodok pada 31 Januari 1810 itu sebagai bentuk penyerangannya di wilayah tapal batas kerajaan (Peter Carey, 2011).

Keadaan tak kondusif ini terus berlanjut. Pada akhirnya, gejolak kecil terjadi dimanfaatkan oleh Raja Surakarta yang mempunyai dendam pribadi dengan Raden Ronggo. Secara terpisah, Wiryodiningrat melakukan tuduhan balik kepada Raden Ronggo. Raden Ronggo dituduh menampung pembelot militer bernama Brotoseno (Brotosentono) keturunan Batoro Katong yang bergelar Prawirobroto. Brotoseno juga dianggap sebagai perampok yang sering merampok perangkat gamelan.

Dengan adanya peristiwa ini Jendral Daendels memerintahkan penyelidik untuk mengusut kasus Brotoseno. Kasus ini pun digulirkan, karena Daendels menganggap mencuri gamelan layaknya pencurian orkestra militer yang sakral.

Ternyata Jendral Daendels pun mempunyai maksud lain. Dia ingin menghapus pengaruh Raden Ronggo sebagai pengobar perjuangan anti-Londo, yang memang sudah sangat masif. Namun Sultan Yogyakarta tak memberikan hukuman kepada Raden Ronggo. Hal ini menimbulkan sangkaan polemik baru bahwa Sultan Yogyakarta akan bermusuhan dengan Jendral Daendels dan Raja Surakarta Pakubuwana IV.

Secara geografis dusun Saba latar dalam Serat Centhini dan dusun Sekodok tempat peristiwa terjadinya konflik bersebelahan. Saba masuk kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Sekodok masuk dalam Kasultanan Yogyakarta. Penarasian  dalam Serat Centhini dari tapal batas wilayah Kasunanan Surakarta ini sangat dimungkinkan sebagai langkah legitimasi wilayah di zaman itu.

Mungkin, tanpa membaca narasi sejarah dusun Saba tercitrakan hanya sebutan dusun dalam Serat Centhini. Begitu pula asumsi non-teks yang menyiratkan praduga pemunculan legitimasi PB IV atas wilayah dan segala kekayaan isinya dalam Serat Centhini.  Pijakan sejarah ini istilah keren-nya dalam sastra disebut sebagai alusi sejarah.

Dengan begitu, pembaca harus lebih awas dalam membaca karya sastra, terkhusus manuskript lama. Mungkin, ada titik imajiner yang harus lebih diperhatikan dan ditelusur lebih mendalam. Bukan berarti semua teks dalam karya sastra pasti mengandung rentetan latar peristiwa di masa lalu. Dimaksudkan hanya sebagai langkah pembaca atau peneliti masuk dalam deep structure sebuah karya sastra.

Penelurusan narasi sejarah Ngebel dan (mungkin) daerah lain lewat Serat Centhini, seyogyanya menjadi sorotan untuk lebih diperhatikan, lebih teliti dihimpun dan lebih kas (giat) dicari. Jikalau pengetahuan masa lalu masih dianggap penting di masa sekarang! Apalagi narasi sejarah lokal “daerah” yang sangat jarang diteliti dan diperhatikan. Bagaimana langkah selanjutnya para pemangku pemerintahan ? Wallahu a’lam bis-shawab.

Frengki Nur Fariya Pratama
Mahasiswa Ilmu Susastra Undip Semarang, Komunitas Sraddha Institute, Komunitas Sastra Langit Malam, anggota Pramuka.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.