Senin, Oktober 26, 2020

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Filsafat Melawan Niat Jahat

Siang itu, suasana lain terjadi dalam sebuah restoran yang sederhana. Untuk pertama kalinya, diskusi filsafat dihadiri oleh banyak tokoh. Tidak berhenti disitu, komunitas filsafat,...

Pekerja Sosial, Pendampingan Anak, dan Hukum

Profesi yang memberikan pertolongan pelayanan sosial kepada individu, kelompok dan masyarakat dalam upaya peningkatan keberfungsian sosial dan membantu memecahkan masalah-masalah sosial, maka dapat disebut...

Governmentality dalam Kekuasaan yang Lempar Batu Sembunyi Tangan

Governmentality adalah konsep yang biasa digunakan kalangan Foucaultian, yang mendudukkan aturan sebagai seni mengendalikan kekuasaan (dalam bahasa Antonio Gramsci, barangkali akan lebih dekat dengan...

Film Kim Ji Young, Born 1982 dan Kultur Patriarki

Kim Ji Young, Born 1982, film asal Korea Selatan besutan sutradara Kim Do Young yang dirilis pada tanggal 20 November 2019 itu sempat menuai...
Dodik Harnadi
Pemerhati isu-isu sosial, hukum dan agama & founder Aksara Institute Bondowoso

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening match mempertemukan tim yang digadang-gadang bakal menggila di negeri Napoleon, Brazil, berhadapan dengan Skotlandia, maka beberapa pundit saat itu memprediksi kemenangan akan menjadi milik tim Samba.

Saat itulah, seorang kiai tiba-tiba muncul menjadi pundit di salah satu stasiun televisi, berusaha ikut memprediksi hasil akhir pertandingan. Kiai itu adalah Ketua PBNU sekaligus Presiden ke-6 RI, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Gus Dur saat itu memprediksi, Skotlandia memang akan takluk, namun tidak dengan mudah. 2-1 adalah skor kemenangan tipis yang akan diraih oleh Brazil.

Karuan saja, pada tanggal 10 Juni 1998, Stadion Stade de France menjadi saksi, bagaimana raksasa Samba yang diunggulkan tak jua mampu menjinakkan tim kurcaci Skotlandia. Menit 5, anak asuh Mario Zagallo saat itu memang sempat menunjukkan keperkasaannya dengan unggul cepat di menit 5 melalui gol Cesar Sampaio. Namun mereka salah memandang enteng Skotlandia setelah pada menit 38, Taffarel, kiper Brazil saat itu, dipaksa memungut bola di dalam gawang setelah Colin Hendry mencetak gol balasan melalui titik putih.

Hampir saja sang raksasa malu kalau saja Skotlandia tidak berbaik ‘hati’ menjaga reputasi mereka. Reputasi besar Brazil-pun terjaga pada laga awal ini, meski dengan bantuan pemain lawan Tom Boyd yang membuat gol bunuh diri pada babak kedua.

Akurat, bahkan presisi, begitu Gus Dur memprediksi. Bukan prediksi ‘pasaran’ mengutip konsep Idol of Market Francis Bacon, apalagi sekedar mengikuti opini gelombang ‘keriuhan sosial’ (social crowded) seperti gagasan sosiologi Emile Durkheim. Gus Dur memberikan prediksi yang genuine, hasil dari rangkaian proses analisis yang kuat dengan kekuatan orsinilitas sebagaimana yang khas dalam hampir seluruh produk pemikirannya.

Gus Dur paham bahwa sepak bola bukan sekadar kekuatan fisik. Mentalitas, kreativitas dan kecerdasan merupakan anasir yang tak bisa dilepaskan dari sepak bola. Desain strategi, rancang formulasi permainan serta ketepatan membaca formasi yang realiable dalam menundukkan lawan, adalah kemampuan yang tidak berada dalam domain kekuatan fisik. Butuh kecerdasan serta daya analisis yang tajam untuk melakukan tugas-tugas demikian

Di sinilah, Gus Dur memiliki semua yang berkaitan dengan anasir-anasir ‘halus’ ini. Dan itu dibuktikan dengan kemampuannya membaca dan menganalisis secara jeli prediksi suatu pertandingan. Satu hal yang pasti, kegemaran Gus Dur kepada sepak bola, menjadi faktor utama yang menentukan akurasi hasil prediksi yang dibuatnya.

Gus Dur sejak anak-anak memang penggila bola. Bermain bola menjadi salah satu hobi yang paling dipeliharanya. Ketika dewasa, intensitas bermainnya mungkin sudah menurun, namun tidak dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, fikiran-fikiran cerdasnya tak pernah alfa memainkan si kulit bundar. Komentar-komentar segarnya serta berbagai prediksi akuratnya, adalah produk dari kepiawaian pikirannya ‘memainkan’ bola.

Kegemaran Gus Dur terhadap sepak bola juga termanifestasikan dari kebiasaannya meminjam istilah-istilah sepak bola untuk menganalisis berbagai topik lain yang lebih serius, misalnya politik.  Tengoklah ketika budayawan Sindhunata mengkritik gaya kepemimpinan Gus Dur dengan menggunakan analisis sepak bola. Maklum pendiri Majalah basis ini dulunya adalah wartawan spesialis sepak bola. Tulisan Sindhunata kala itu berjudul Catenaccio Politik Gus Dur.

Gus Dur kemudian menjawab kritik ini dengan bahasa yang sama, bahasa sepak bola. Gus Dur menulis ‘Catenaccio Hanyalah Alat Berat’ dua hari setelah tulisan Sindhunata dimuat. Dalam tulisan itu,  Gus Dur menggunakan terminologi khas sepak bola, seperti Total Football, hit and run, dan tentu saja Catenaccio untuk menganalisis probelamatika politik dalam negeri.

Salah satu kalimat dalam tulisannya berbunyi, “bukan hanya gaya Catenaccio, tapi juga gaya hit and run. Ada defensi dan ofensi, namun senantiasa sebagai tim yang kompak” (Kompas, 18/12/2000). Begitulah, Gus Dur yang cerdas begitu piawai memainkan bahasa sepak bola untuk mencairkan topik politik yang begitu serius. Terdapat sisi humoris Gus Dur dalam kebiasaannya memakai bahasa sepak bola untuk persoalan yang serius. Namun tidak berarti Gus Dur tidak serius.

Orang bijak mengatakan, orang cerdas adalah mereka yang mampu menyederhanakan persoalan yang rumit. Mungkin dalam prinsip inilah kita bisa memaknai cara Gus Dur menderek terminologi sepak bola ke dalam aneka permasalahan pelik politik yang umumnya seringkali disikapi secara serius dan mengernyitkan alis.

Dodik Harnadi
Pemerhati isu-isu sosial, hukum dan agama & founder Aksara Institute Bondowoso
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.