in

Seni Memimpin Ala Profesor Nurdin Abdullah;


Seni memimpin ala Profesor Nurdin Abdullah adalah membuka ‘rumah’ bagi keluh kesah rakyat

***

Satu bukti bahwa seorang pemimpin dicintai oleh rakyatnya bisa ditunjukkan dari tingkat kepuasan dan dukungan rakyatnya kepada sang pemimpin untuk memimpin kembali.

Profesor Nurdin Abdullah adalah salah satu contoh yang mewakili kebenaran dari pernyataan ini. Setelah keberhasilannya memimpin (yang dalam prinsipnya melayani) rakyat Bantaeng pada periode pertama (2008-2013, dengan meraih suara sampai 46 persen), Nurdin Abdullah, sang profesor, kembali diminta untuk melanjutkan kepemimpinannya untuk periode kedua (2013-2018). Pada periode kedua ini, sang profesor meraih suara 83 persen.

Sebuah lembaga survey mengatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat atas kepemimpinan sang profesor (Nurdin Abdullah) mencapai 98 persen. Hasil survey ini dilakukan setelah sembilan Tahun masyarakat Banten merasakan berbagai kepuasan atas apa yang diberikan oleh sang pemimpin: Profesor Nurdin Abdullah (Masyarakat Bantaeng Puas atas Kepemimpinan Nurdin Abdullah).

Bagaimana membaca prinsip kepemimpinan Nurdin Abdullah?

Sejak dari awal, prinsip menjadi pemimpin bagi Nurdin Abdullah adalah mengabdi atau melayani rakyat. Prinsip ini tertanam di dalam dirinya. Memimpin rakyat di suatu daerah berarti bersama-sama dengan rakyat, berbincang dengan rakyat, berdiri diantara rakyat dan mendengarkan keluh kesah persoalan yang dialami rakyat. Seperti disampaikannya sendiri (dikutip dari twitter @MataNajwa atau lihat ini): “saya meniti karir mulai dari bawah, dekat dengan rakyat.”

Memimpin Bantaeng, daerah kecil yang tertinggal, bagi Nurdin Abdullah adalah sesuatu yang tidak mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Tetapi begitulah prinsip dasar dari mengabdi: bekerja dengan sabar dan tanpa berharap demi kepentingan pribadi. Dengan kata lain, dalam pengabdian, yang dia lakukan bukanlah agar mendapatkan apa-apa berupa penghormatan dari rakyatnya. Dalam pengabdian, yang prinsip adalah menyerahkan segala kecintaannya dengan bekerja dan berusaha membangun daerahnya demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.


Ada ungkapan: jangan tanya apa yang kamu peroleh dari negaramu, tapi apa yang kamu berikan pada negaramu. Mungkin bagi Nurdin Abdillah, kata-kata itu menjadi: jangan tanya apa yang kamu peroleh dari daerahmu, tapi apa yang kamu berikan untuk daerahmu.

Dalam pengabdian, Nurdin Abdullah mengenali dirinya sebagai sama saja dengan rakyat biasa. Dalam dirinya, ia tak lain juga sekedar rakyat di Bantaeng yang ingin sama-sama bersama warga yang lain untuk majunya Bantaeng. Dengan prinsip ini, maka yang terpenting dia bisa berbuat apa untuk kemajuan Bantaeng bukan soal kemudian memperoleh apa.

“Saya sudah niatkan dan mewakafkan diri ke Bantaeng baik jiwa, raga dan harta saya”, ungkap Nurdin Abdullah dalam salah satu petikan wawancara dengan Mata Najwa (diambil twit @MataNajwa).

Pernyataan ini tidak tinggal pernyataan. Wujud nyata dari ucapannya sebagai bentuk pengabdian terlihat nyata dari cara dia memulai memimpin Bantaeng. Seperti diakuinya sendiri, Nurdin Abdullah menerima dan terbuka kepada warga-warganya yang hendak mengadukan persoalan-persoalannya. Dia membuka rumahnya untuk melayani mereka. Rumah Nurdin Abdullah tidak pernah sepi dari kedatangan para warga-warganya yang hendak mengadukan berbagai persoalan: mulai dari perihal masalah umum atau menyangkut persoalan pribadi.

Rumah Nurdin Abdullah adalah rumah bagi keluh kesah rakyat Bantaeng. Di sinilah, kedekatan dengan rakyat kian terbangun.

 “Saya membuka ruang bagi mereka untuk bertemu saya di rumah tanpa protokoler, setiap hari.” Dengan sikap seperti ini – terus membuka diri kepada warganya untuk menyatakan masalah-masalahnya, Nurdin Abdullah menjadi semakin mengerti persoalan-persoalan Banteng. Adapun sikap kepemimpinan seperti ini membuat warganya tidak merasa malu untuk berinteraksi dengan pemimpinnya.

Inilah satu contoh kepemimpinan yang baik: tak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Tak ada jarak antara persoalan yang diungkapkan rakyatnya dan kemudian apa yang dipikirkan dan lakukan oleh pemimpinnya.

***

Karena prinsipnya pemimpin adalah pelayan bagi rakyat dan daerahnya, maka hal pertama yang dilakukan Nurdin Abdullah di masa-masa awal menjabat sebagai Bupati Bantaeng adalah tak lain memastikan apa yang sungguh-sungguh perlu dibenahi demi melayani kebutuhan rakyatnya.

Saat itu, prioritas pertama adalah membangun layanan publik terutama menyangkut layanan kesehatan. Jika semula layanan publik begitu minim, NA bekerja keras demi meningkatkannya. Akhirnya sekarang rakyat Bantaeng merasakan manfaat pembangunan itu. Mereka bisa mengakses call center 119 untuk memperolah layanan kesehatan secara gratis dan dalam 24 jam (lihat ini).

Jika semula di Bantaeng, di malam hari gelap dan sepi, misalnya jam 8 malam sudah sepi, Nurdin Abdullah perlahan menyulapnya dengan merevitalisasi pantai seruni dan menjadikan alun-alun dan sentra kuliner. Buah nyata dari kerja mengabdi (dan melayani masyarakat ini) ini menjadikan Bantaeng tak lagi sepi dan tak lagi gelap. Buah pengabdian ini menjadikannya kian dekat dan dicintai oleh rakyat. Bisa juga ini dibaca sebagai kedekatan dengan rakyat membuat Nurdin Abdillah mengerti apa yang diingin oleh rakyat pada umumnya. Banyak lagi, buah dari pengabdiannya yang menjadikan Bantaeng melangkah maju.

Dan yang terpenting, Nurdin Abdullah memimpin dengan hati yang begitu dekat dengan rakyat atau bahkan melebur diantara mereka.


Written by nugrohoali

Penyuka Albert Camus

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR